Bojonegoro, Bhirawa – Realisasi serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bojonegoro Tahun Anggaran 2026 hingga akhir Juni masih tergolong rendah. Berdasarkan data Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), realisasi belanja baru mencapai 25,78 persen atau sekitar Rp1,624 triliun dari total pagu APBD sebesar Rp6,3 triliun.
Kepala Bidang Akuntansi BPKAD Bojonegoro, Anie Susanti Hartoyo, mengatakan capaian tersebut menunjukkan penyerapan anggaran hingga pertengahan tahun masih jauh dari target. Salah satu penyebabnya adalah realisasi belanja modal yang masih sangat rendah.
“Belanja modal masih sangat kecil, yakni baru terealisasi 2,77 persen. Dari pagu Rp953 miliar, realisasinya baru sekitar Rp26 miliar,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).
Menurut Anie, percepatan pelaksanaan program dan kegiatan di setiap organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi kunci untuk meningkatkan realisasi belanja pada semester kedua. Karena itu, seluruh OPD diminta segera mempercepat proses pelaksanaan kegiatan agar anggaran yang telah dialokasikan dapat terserap secara optimal.
“Semua OPD harus menggenjot penyerapan anggarannya agar program-program prioritas bisa segera terealisasi,” tegasnya.
Ia berharap percepatan tersebut tidak hanya mampu meningkatkan serapan APBD, tetapi juga mendorong percepatan pembangunan serta memberikan dampak nyata bagi pelayanan kepada masyarakat. [bas.kt]


