Sidak harga dan ketersediaan kebutuhan pokok pasca Idulfitri tim gabungan Pemkot Kediri di Pasar Setono Betek, kemarin.
Kota Kediri, Bhirawa.
Tim gabungan Pemerintah Kota Kediri menemukan sejumlah pedagang menjual beras premium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) saat inspeksi mendadak di Pasar Setono Betek. Temuan itu muncul di tengah kondisi mayoritas harga kebutuhan pokok yang masih stabil pasca Hari Raya Idulfitri.
Sidak dilakukan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri bersama Satgas Pangan dengan melibatkan Perum Bulog, BPS, Kejaksaan, dan Polresta Kediri. Pemantauan difokuskan pada harga serta ketersediaan bahan pokok, khususnya beras dan minyak goreng.
Kepala Disperdagin Kota Kediri Moh. Ridwan mengatakan secara umum harga kebutuhan pokok masih terkendali dan sesuai HET. Namun, pihaknya masih menemukan beras premium dijual di atas harga acuan karena pedagang tidak mengambil pasokan langsung dari distributor.
“Untuk harga Minyakita rata-rata sudah sesuai HET yakni di kisaran Rp15.700 per liter, bahkan ada yang menjual di bawah HET. Untuk komoditas beras, beras SPHP dijual di harga Rp12.500 per kilogram. Namun untuk beras premium ada yang menjual di atas HET, yakni mencapai Rp15.000 per kilogram atau Rp75.000 per kemasan 5 kilogram,” paparnya, Jumat (17/4).
Menurut Ridwan, pedagang sebaiknya mengambil pasokan dari distributor maupun Bulog agar harga tetap terkendali di tingkat konsumen. Ia juga meminta masyarakat tidak khawatir berlebihan terhadap ketersediaan bahan pokok.
“Stok aman, harga terkendali. Tidak perlu panic buying karena pemerintah terus memastikan distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar setiap harinya,” ujarnya.
Ridwan juga mengajak pedagang dan pembeli mulai mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja di pasar tradisional.
“Dampak sampah plastik ini juga tidak baik untuk lingkungan. Jadi kami menyarankan kepada pedagang dan pembeli jika berbelanja silakan membawa tas sendiri. Ini langkah kecil namun penting untuk menjaga ekosistem dari sampah plastik yang sulit terurai,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Kediri Harisun menanggapi isu kelangkaan Minyakita yang sempat beredar. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi prioritas distribusi karena produsen tengah menyalurkan kuota untuk program Bantuan Pangan yang ditargetkan selesai pada 31 Mei 2026.
“Bulog hanya mengelola sebagian kecil atau 70 persen dari jatah 30 persen yang dialokasikan ke BUMN. Ini masih terus kita salurkan khususnya di pasar pencatatan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), seperti di Pasar Setono Betek,” jelas Harisun.
Ia menambahkan, sejak Januari hingga saat ini hampir 80.000 liter Minyakita telah disalurkan ke Pasar Setono Betek. Setelah kebutuhan di pasar tersebut terpenuhi, distribusi akan diperluas ke pasar lain maupun pengecer.
“Berapapun supply dari produsen, kita salurkan sesuai dengan kuota yang ada. Untuk kondisi saat ini dropping tetap ada, namun kuantum tidak sama seperti biasanya. Kondisi ini mungkin akan kembali normal setelah program Bantuan Pangan selesai,” terangnya.
Sementara itu, salah satu pedagang Pasar Setono Betek, Ali Asikin, mengaku menjual beras premium di atas HET karena harga beli dari tengkulak sudah tinggi. Ia menjual beras premium seharga Rp15.700 per kilogram, sementara harga beli sudah mencapai Rp14.700 per kilogram.
Sedangkan untuk Minyakita dan beras SPHP, Ali mengaku menjual sesuai HET. Ia juga menyebut distribusi Minyakita dalam tiga minggu terakhir mengalami pembatasan.
“Jika biasanya dulu bisa mencapai 15 karton sampai 50 karton per minggu sekarang dibatasi hanya 13 karton per minggu. Sementara stok 13 karton ini biasanya habis hanya dalam waktu 5 hari, sehingga terjadi kekosongan stok di sisa hari dalam seminggu,” ungkap Ali.
Ali berharap distribusi Minyakita kembali normal agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi setiap hari.[van,nov.hel]


