Setiap tanggal 21 April, negeri ini gegap gempita merayakan Hari Kartini. Kartini adalah simbol intelektualitas dan keberanian bersuara. Maka, menjadi sebuah ironi yang getir jika hari ini kita masih mengerdilkan semangat juang tersebut hanya dalam balutan kompetisi kecantikan atau kemahiran domestik yang bersifat dangkal.
Seharusnya, momentum Hari Kartini menjadi ajang refleksi nasional tentang sejauh mana kebijakan publik telah berpihak pada perlindungan perempuan dan anak. Perayaan ini semestinya diisi dengan diskusi-diskusi kritis mengenai literasi digital bagi perempuan, pemberdayaan ekonomi UMKM yang mayoritas dikelola perempuan, atau penguatan sistem hukum yang menjamin rasa aman bagi mereka di ruang publik maupun domestik.
Kita perlu menggeser paradigma dari perayaan yang sifatnya “melihat” (visual/busana) menuju perayaan yang “mendengar” (suara/gagasan). Mari kita jadikan Hari Kartini sebagai pengingat bahwa emansipasi bukanlah tentang menjadi sama persis dengan laki-laki, melainkan tentang memiliki hak yang sama untuk menentukan jalan hidup, mengejar mimpi, dan berkontribusi bagi bangsa tanpa dihantui ketakutan.
Sudah saatnya kita menanggalkan sanggul jika itu hanya menjadi beban yang membungkam pikiran kritis. Sudah saatnya kita menyimpan kebaya sejenak jika ia hanya digunakan sebagai tameng untuk menutupi ketidakberdayaan.
Mari kita rayakan Kartini dengan menghidupkan kembali nyala api pemikirannya di dalam hati dan tindakan nyata. Jangan biarkan perjuangan Kartini berhenti di atas panggung lomba, tetapi biarkan ia terus mengalir dalam kebijakan yang adil dan masyarakat yang menghargai martabat manusia tanpa memandang gender.
Fatimatuz Zahra
Pegiat sosial tinggal di Wonorejo, Surabaya.


