Potret Gotong Royong dan Kebersamaan di Kampung Pancasila
Minggu (1/11) pagi itu, suasana di Kelurahan Kertajaya, Surabaya, terlihat sudah disibukkan dengan lalu lalang warga dan beberapa anak muda yang mengenakan kaos berwarna merah menyala. Anak-anak muda tersebut tampak tidak canggung untuk turun langsung ke dalam selokan yang kotor. Mereka bahu-membahu dengan warga setempat, mengeruk lumpur, membersihkan sumbatan sampah, dan mengangkutnya ke gerobak secara estafet.
Oleh:
Wahyu Kuncoro, Bhirawa Surabaya
Anak-anak muda yang mengenakan kaos berwarna merah tersebut adalah mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang sedang melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Non regular di wilayah Kelurahan Kertajaya. Kehadiran mereka di Kelurahan Kertajaya bukan sekadar untuk menjalankan program turun lapangan formal demi menggugurkan kewajiban akademik, melainkan membawa sebuah misi ideologis yang besar. Mereka datang untuk menghidupkan kembali pilar-pilar dasar Kampung Pancasila langsung dari akar rumput, membuktikan bahwa Pancasila bukanlah dokumen mati yang tersimpan rapat di arsip negara, melainkan sebuah energi hidup yang bergerak di tengah masyarakat.
Kebersamaan yang tercipta di Kelurahan Kertajaya pagi itu terasa begitu indah dan menyentuh hati. Lelah fisik akibat kerja bakti masal seolah menguap begitu saja ketika ibu-ibu warga kampung dengan suka rela dan penuh senyuman keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa nampan-nampan besar berisi kopi hangat, teh manis, serta aneka camilan tradisional seperti pisang rebus dan ketan urap. Tidak ada sekat pembatas antara masyarakat urban dan kaum intelektual menara gading. Spontanitas warga dalam menyediakan hidangan ini menjadi bukti nyata bahwa urat nadi kepedulian dan kebersamaan khas Indonesia masih berdenyut kencang di kampung ini.
Lurah Kertajaya Isworo Andik Sucahyo mengungkapkan rasa bangganya terhadap kolaborasi yang terjalin. Lurah yang juga alumnus Teknik Mesin Untag Surabaya ini mengaku, bagi pihak kelurahan, kehadiran mahasiswa memberikan suntikan energi baru untuk merawat karakter warga perkotaan yang rentan terkena arus individualisme. Menurut Andik, dirinya berharap agar para mahasiswa bisa belajar dari masyarakat secara langsung.
“Bahwa persoalan yang ada ditengah Masyarakat tidak sesederhana di bangku kuliah. Momentum inilah menjadi kesempatan berharga agar adik adik mahasiswa untuk belajar langsung kepada Masyarakat,” jelas Andik panggilan akrab Lurah Kertajaya ini.
Ketua RW 3 Kelurahan Kertajaya Jaswadi saat ditemui Bhirawa memastikan warganya akan mendukung penuh ide ide kreatif yag ditawarkan para mahasiswa termasuk mendukung aktif dalam kegiatan kerja bakti.
“Kami tentu senang dengan dukungan dari adik adik mahasiswa yang bisa membaur dengan warga kami,” jelas Jaswadi.
Bahwa selain mencoba membangkitkan kembali kebersamaan dan gotong royong warga melalui kerja bakti, mahasiswa Untag Surabaya juga bergerak menyasar pilar Kampung Pancasila lainnya, yaitu penguatan ekonomi masyarakat demi mewujudkan keadilan sosial.
Pada sektor ekonomi ini, peran aktif ditunjukkan oleh Risa, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untag Surabaya. Risa mengumpulkan ibu-ibu PKK dan para pelaku UMKM di wilayah RW 3 untuk diberikan pendampingan intensif. Ia menyadari bahwa banyak usaha rumahan warga yang mandek akibat keterbatasan inovasi. Oleh karena itu, Risa mengajari warga tentang pentingnya diversifikasi produk agar usaha mereka memiliki daya saing yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, ia juga mengenalkan dan melatih warga tentang strategi pemasaran digital, mulai dari cara membuat foto produk yang menarik hingga cara berjualan di lokapasar (marketplace) dan media sosial. Langkah ini secara perlahan membangkitkan kemandirian ekonomi warga Kertajaya di tengah ketatnya persaingan ekonomi perkotaan.
Bukan itu saja, mahasiswa Untag Surabaya tidak melupakan aspek edukasi bagi generasi penerus. Setelah lingkungan dibersihkan dan ekonomi digerakkan, giliran anak-anak usia dini di RW 3 Kelurahan Kertajaya yang diajak merayakan kebersamaan. Mahasiswa menggelar sebuah acara sederhana namun sarat makna yakni menggelar lomba Mewarnai Bertema Patriotik dalam rangka menyambut Hari Pahlawan.

Rima, mahasiswi Sastra Inggris Untag Surabaya terlihat paling sibuk dalam mengomandoi kegiatan lomba mewarnai tersbut. Dengan keahlian komunikasinya, Rima menemani puluhan anak yang duduk bersila menghadap meja gambar mereka. Lembar kertas yang dibagikan tidak berisi gambar kartun asing, melainkan sketsa para pejuang kemerdekaan yang sedang memegang bambu runcing dengan latar belakang bendera merah putih. Sembari mengarahkan guratan krayon anak-anak, Rima menyelipkan cerita-cerita kepahlawanan dengan gaya mendongeng yang interaktif dan menyenangkan. Harapannya sangat jelas agar anak-anak sejak dini mulai mengerti dan meresapi nilai-nilai perjuangan para pendahulu mereka, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang menghargai jasa pahlawan dan mencintai tanah airnya.
Dikonfirmai terpisah, Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro menegaskan bahwa program pendampingan ke Kampung Pancasila ini merupakan bentuk kerja sama nyata dan kontribusi langsung dunia kampus untuk ikut serta mengatasi berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat. Kampus harus mampu melahirkan solusi konkret yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.
Komitmen Untag Surabaya, tegas Harjo Seputro diwujudkan a melalui pengabdian masyarakat nyata. Pada Semester Gasal 2026/2027, Kampus Merah Putih ini resmi menerjunkan 271 mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Non-Reguler untuk memperkuat sekaligus mengembangkan Kampung Pancasila di wilayah Kota Surabaya. Program strategis ini berfokus pada implementasi nilai-nilai luhur Pancasila serta penguatan ketahanan masyarakat perkotaan.
“Program KKN kali ini memikul misi ideologis yang krusial” tegasnya,. Menurutnya, Kampung Pancasila bukan sekadar label geografis, melainkan benteng pertahanan sosial tempat nilai gotong royong dan toleransi dipraktikkan langsung dalam keseharian warga.
“Sebagai Kampus Merah Putih, Untag Surabaya memiliki tanggung jawab moral untuk membumikan Pancasila. Kehadiran 271 mahasiswa di tengah masyarakat urban Surabaya bertujuan mengaktivasi nilai-nilai luhur tersebut melalui proker yang menyentuh kebutuhan riil warga,” tegas Harjo Seputro kepada Bhirawa. Untag Surabaya, lanjut Harjo Seputro
Berkolaborasi erat dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam mengawal Kampung Pancasila. Setiap program kerja mahasiswa wajib berbasis data lapangan dan disesuaikan dengan kebutuhan khas kelurahan setempat.
“Fokus utama kami pada semester ini adalah penguatan pilar Kampung Pancasila, digitalisasi dan manajemen UMKM, penguatan literasi digital, hingga penataan lingkungan berbasis partisipasi warga,” jelas Harjo Seputro lagi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji ketika dikonfirmasi terkait hal itu menjelaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memang melibatkan 102 perguruan tinggi dan akademi untuk mendampingi pelaksanaan program Kampung Pancasila di 1.360 RW se-Kota Surabaya. Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat pembangunan tingkat tapak melalui dukungan akademisi, penelitian, serta inovasi masyarakat.
Menurut Sonhaji, perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS) memiliki kapasitas besar dalam membantu percepatan program pembangunan kota.
“Perguruan tinggi memiliki sumber daya luar biasa, mulai dari peneliti, inovator, hingga inventor. Keterlibatan mereka bersama masyarakat diharapkan mampu membantu mengidentifikasi masalah sekaligus menggali potensi di setiap kampung,” kata Agus saat dikonfirmasi Bhirawa, Minggu (1/11). Lebih lanjut menurut Alumnus ITS Surabaya ini, pemetaan persoalan dan potensi dari tingkat RW akan membuat pembangunan kota berjalan lebih presisi dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan warga. [why]


