Surabaya, Bhirawa. – Sesuai dengan taglinenya ”Masjid Ramah Musafir” karena terletak di tepi jalan raya jurusan Surabaya-Gresik. Masjid Al Muttaqin tidak hanya menjadi tujuan tempat ibadah jamaah dari warga setempat untuk salat, tetapi sering kali juga menjadi jujugan para musafir untuk beristirahat, minum wedang kopi, wedang jahe atau makanan lainnya, hingga bermalam.
Sehingga Masjid Al Muttaqin yang terletak di Jl Gresik Gadukan Nomor 99, Surabaya, ini buka 24 jam agar bisa memfasilitasi para musafir. Sehingga para musafir tidak kesulitan mencari tempat untuk instirahat hingga menginap sementara. Bahkan pihak Takmir Masjid juga menyediakan minuman hangat seperti kopi, jahe dan teh. Bahkan makanan juga disediakan untuk para musafir yang mampir di Masjid yang berdiri sejak tahun 1968 ini
Menurut Sekretaris Takmir Masjid Al-Muttaqin sekaligus Sekretaris PCM Krembangan, Mochammad Yusuf STHI, masjid ini secara kebetulan berdiri di pinggir jalan. Saya perhatikan banyak sekali para musafir mereka harus beristirahat, capek dan sebagainya. Dan Insya Allah Masjid Al Muttaqin membuka pintunya 24 jam. ”Dengan taglineMasjid Ramah Musafir. Jadi kami sediakan di sini semacam wedang kopi, wedang jahe. Silakan mengambil dan silakan istirahat di sini,” katanya.
Pada Ahad pagi (1/11) kemarin, suasana memakmurkan masjid terlihat dari kehadiran jamaah perempuan dan jamaah laki-laki terlihat mengikuti Pengajian Keluarga Sakinah Majelis Tablig PCM Krembangan. Dengan menghadirkan penceramah DR Nurbani Yusuf MSi yakni dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Namun mulai Senin (3/11) hari ini, bangunan lama itu akan dirobohkan dan masjid akan dibangun kembali dengan lebih luas dan lebih besar, untuk memberikan kenyamanan para jamaah dan musafir yang mampir di Masjid Al Muttaqin ini.
Ustadz Yusuf menjelaskan Masjid Al Muttaqin ini mempunyai sejarah panjang. Dulunya bernama Masjid Midji Tunggal, berdiri sekitar tahun 1968 berdasarkan penuturan para sesepuh. Pada era 1980-an, masjid bergeser ke lokasi sekarang setelah takmir membeli tanah.
‘Tanah ini seharga Rp 1 miliar sehingga dibangun sementara segini,” ujar Yusuf.
Kini, bangunan tua itu sudah tidak lagi memadai. Ketinggian masjid dengan jalan berbeda sekitar 1,5 meter, sehingga konstruksi baru harus dibuat jauh lebih kuat. Maka pihak takmir telah memulai persiapan. Pengurukan tanah dan pemasangan pondasi telah dilakukan dengan biaya sekitar Rp 150 juta.
”Insya Allah bangunan yang lama akan kami robohkan dan kami awali dengan cara menguruk tanah dulu. Kemudian sudah dipasang pondasi,” jelas Yusuf.
Ke depan, Masjid Al-Muttaqin akan dibangun dua lantai dengan luas yang jauh lebih besar. Jika awalnya hanya 10 kali 0 meter, ke depan akan dibangun sehingga menjadi sekitar 15 kali 20 meter. Dan untuk melanjutkan pembangunan tahap berikutnya, takmir membutuhkan dana sekitar Rp 400 juta.
”Maka kiami mengajak para jamaah dan warga masyarakat lainnya bisa berdonasi. Semoga diberikan kelancaran dalam proses pembangunannya,” harapnya.
Di tengah rencana pembongkaran hari ini, tagline Masjid Ramah Musafir tetap dipertahankan. Karena bagi pihak Pengurus Takmir, masjid bukan sekadar tempat ibadah mahdhah saja, melainkan juga menjadi rumah singgah bagi siapa saja yang kelelahan di jalan. [fen.hel]


