Oleh:
Dr. Muhammad Muhyi, M.Pd.
Dosen Prodi Penjas Program Magister, FKIP UAB

Peraih medali SEA Games dan Asia. Games Saiful Rijal (kiri) atlet sepak takraw asal Lumajang dan Dr. Muhammad Muhyi, M.Pd.
Kita sangat bangga dengan prestasi olahraga yang telah diraih, apalagi mampu menyumbangkan prestasi terbaik. Ketika kita mengamati dengan baik saat atlet Indonesia berlaga di Asian Games dan Asian Para Games 2026, sejatinya kita menyaksikan hasil dari latihan, kedisiplinan, perjuangan, dan pembinaan prestasi olahraga yang panjang. Kebanggaan makin besar dirasakan ketika sejumlah atlet Jawa Timur ikut memberikan kontribusi mengharumkan nama Indonesia di ajang tersebut. Jawa Timur memiliki figur yang dapat menginspirasi generasi muda, salah satunya Saiful Rijal, atlet sepak takraw asal Jawa Timur yang meraih medali perak Asian Games di Jepang 2026. Prestasi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju panggung internasional butuh kesungguhan dan proses panjang. Bagi pelajar yang sedang menekuni olahraga, kisah atlet berprestasi dapat dijadikan dorongan untuk terus berlatih dan berani bermimpi. Namun, mimpi saja tidak cukup. Potensi perlu ditemukan, dikembangkan, dan didukung oleh lingkungan yang tepat. Di sinilah POPDA dapat mengambil peran sebagai salah satu tangga awal dalam perjalanan panjang seorang pelajar menjadi atlet.
Dibalik kebanggaan atas prestasi yang disumbangkan beberapa atlet dari Jawa Timur di kancah nasional dan internasional tersebut, ada pertanyaan yang sangat mendasar, dari mana calon atlet berprestasi berikutnya ditemukan?, bagaimana memastikan calon atlet memiliki kesempatan untuk berkembang? Kedua pertanyaan tersebut cukup relevan ketika perhatian olahraga pelajar Jawa Timur 2026 tertuju pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Jawa Timur yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober sampai dengan 11 November 2026 di Surabaya dan Ngawi. Dengan tema berprestasi, sportif, inklusif untuk Jawa Timur Maju.
POPDA Jawa Timur yang sudah mulai digelar memang berbeda level dengan Asian Games. Pertama, karena kompetisi antar pelajar di tingkat provinsi, sedangkan Asian Games kompetisi antar atlet elit Asia. Namun, keduanya dapat dihubungkan, dan dapat ditarik dari satu gagasan penting yakni prestasi terbaik membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan, termasuk upaya mengenali potensi sejak usia pelajar, jadi POPDA tidak hanya tentang berapa medali yang didapat, tetapi berapa banyak pelajar yang berpotensi berhasil ditemukan kemudian memperoleh jalur pembinaan lanjutan untuk menjadi atlet sampai ke level atlet elit.
Potensi Besar Bisa Berawal dari Bangku Sekolah
POPDA Jawa Timur 2026 yang berlangsung saat ini, merupakan momen penting bagi pelajar ada di bangku sekolah, karena pada usia pelajar yang mengikuti POPDA merupakan fase penting atau tangga awal dalam perkembangan seorang atlet. Pada fase ini, kemampuan gerak, keterampilan olahraga, kebugaran jasmani, kedisiplinan, dan karakter terus berkembang. Hal menarik yang dapat ditelaah adalah sebagian atlet bahkan di usia pelajar telah mampu memasuki kompetisi elite ketika masih berusia belasan tahun, dengan demikian potensi prestasi olahraga tidak selalu harus menunggu pelajar memasuki usia dewasa, usia pelajar berpotensi sampai level elit. Meski demikian, menemukan potensi pelajar menjadi atlet bukan hal yang mudah.
Kemenangan dalam satu pertandingan tidak selalu menggambarkan seluruh kemampuan pelajar sebagai atlet masa depan. Ada pelajar tampil menonjol sejak awal, ada pula butuh waktu lebih panjang untuk berkembang. Bahkan, peserta yang belum meraih medali ada potensi yang belum sepenuhnya terlihat sehingga POPDA Jawa Timur 2026 perlu dipandang lebih luas tidak hanya soal menentukan juara. Kompetisi dapat dijadikan salah satu jalan untuk mengenali kemampuan, mengamati perkembangan, dan membuka kesempatan pembinaan lebih lanjut dari pelajar menjadi atlet. Hasil pertandingan penting, tetapi pengamatan terhadap keterampilan, kemauan berlatih, kedisiplinan, karakter, dan potensi perkembangan pelajar-atlet perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan.
Ketika Pendidikan Bertemu dengan Pembinaan Prestasi
POPDA Jawa Timur 2026, memiliki posisi yang menarik karena mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia olahraga prestasi. Pada tahap usia sekolah, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dapat berperan dalam mengembangkan keterampilan gerak, memperkenalkan beragam aktivitas olahraga, menumbuhkan minat, serta mengenali kemampuan pelajar. Pembelajaran PJOK yang dirancang/ didesain dengan cara terbaik tidak hanya memberi kesempatan kepada setiap pelajar untuk bergerak dan berolahraga, tetapi juga membantu pelajar membangun kebugaran, kepercayaan diri, disiplin, kerja sama, dan karakter. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting bagi semua pelajar, termasuk para pelajar yang kemudian memilih menekuni olahraga secara lebih serius untuk menjadi seorang atlet.
Ketika potensi pelajar dalam olahraga mulai terlihat, peran guru PJOK dapat dilengkapi oleh pelatih cabang olahraga yang memiliki keahlian khusus. Orang tua, sekolah, pengurus cabang olahraga di kabupaten/kota, Dinas Pendidikan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga juga memiliki peran yang saling melengkapi. Ada yang mendukung pendidikan dan perkembangan pelajar, ada yang berperan mengembangkan keterampilan teknis, serta ada yang menyediakan kesempatan berkompetisi dan jalur pembinaan, tentunya peran setiap pihak berubah seiring perkembangan atlet.
Pada saat pelajar menjadi atlet, ia memasuki pembinaan lanjutan hingga level elit, pelatih spesialis, klub, dan sistem pembinaan prestasi jadi makin dominan dalam latihan sehari-hari. Namun, fondasi yang dibangun sejak masa sekolah tetap bernilai bagi perjalanan pelajar yang kemudian menjadi atlet. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan setiap fase itu agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Jangan sampai sekolah menemukan pelajar yang potensial, kompetisi memperlihatkan kemampuannya, tetapi setelah pertandingan berakhir tidak ada pihak yang menindaklanjuti perkembangannya.
Jangan Sampai Potensi Hilang Setelah Medali Dibagikan
Penyelenggaraan POPDA Jawa Timur 2026 tentu perlu memperhatikan kualitas pertandingan, sportivitas, keselamatan peserta, dan penghargaan kepada para juara. Akan tetapi, ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yaitu memikirkan apa yang terjadi setelah kompetisi selesai. Apakah peserta yang menunjukkan potensi akan memperoleh informasi tentang klub atau tempat latihan yang sesuai? Apakah ada komunikasi antara sekolah, pelatih, dan organisasi cabang olahraga untuk mempertimbangkan pembinaan berikutnya? Apakah perkembangan pelajar yang menjadi atlet muda dapat dipantau tanpa mengabaikan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhannya sebagai pelajar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti POPDA harus menanggung seluruh tanggung jawab pembinaan atlet. POPDA hanyalah salah satu bagian dari proses yang lebih luas. Penyelenggaraan dan hasil pengamatan selama kompetisi dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pendidikan, kompetisi, dan pembinaan olahraga.
Tidak semua peserta POPDA akan menjadi atlet nasional atau internasional. Itu hal yang wajar. Pendidikan olahraga tidak boleh hanya menghargai pelajar yang menang, sebab setiap pelajar memiliki kebutuhan dan jalur perkembangan yang berbeda. Bagi sebagian pelajar, pengalaman POPDA mungkin menjadi kenangan berharga dan motivasi untuk tetap aktif berolahraga. Bagi sebagian lainnya, kompetisi tersebut bisa menjadi awal dari perjalanan prestasi yang lebih panjang. Penting dipahami dan dihindari adalah ketika potensi yang sebenarnya dapat dikembangkan justru kehilangan kesempatan hanya karena tidak ada tindak lanjut setelah kompetisi. Jangan sampai setelah medali POPDA dibagikan, potensi pelajar untuk menjadi atlet justru kehilangan jalur pembinaan.
Menyiapkan Prestasi Hari Ini untuk Masa Depan
Sebagai akademisi di bidang pendidikan jasmani, saya memandang bahwa pengembangan prestasi olahraga perlu dibangun melalui kesinambungan antara pembelajaran PJOK dengan desain terbaik di sekolah, kompetisi olahraga pelajar, pembinaan klub atau cabang olahraga, serta sistem pembinaan di tingkat daerah dan nasional. Hubungan itu tidak terbentuk hanya melalui penyelenggaraan satu kejuaraan. Diperlukan komunikasi, pembagian peran, dan kesediaan untuk bekerja bersama. Guru PJOK perlu memiliki ruang untuk mengenali potensi pelajar melalui desain Pembelajaran PJOK yang tepat dan terukur serta terarah; pelatih perlu memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan atlet; sekolah dan orang tua perlu mendukung keseimbangan pendidikan dan latihan; sedangkan organisasi olahraga dan pemerintah daerah perlu memperkuat jalur pembinaan yang tersedia.
Jawa Timur memiliki modal untuk membangun kesinambungan tersebut. Karena itu, POPDA sebaiknya menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem olahraga pelajar, bukan hanya agenda rutin dalam kalender pertandingan. Keberhasilannya dapat dilihat dari kualitas penyelenggaraan dan prestasi peserta, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut membantu menemukan potensi dan membuka kesempatan perkembangan bagi atlet muda untuk terus didorong naik sampai level elit.
Kita tentu berharap dari generasi pelajar hari ini akan lahir atlet yang kelak mengharumkan nama Jawa Timur dan Indonesia di berbagai kejuaraan nasional maupun internasional. Namun, harapan itu perlu diikuti langkah nyata. Tidak cukup hanya meminta setiap pelajar berprestasi; kita juga perlu memastikan bahwa pelajar yang memiliki potensi memperoleh kesempatan untuk berkembang. Pada akhirnya, makna POPDA tidak berhenti ketika pertandingan selesai dan medali dibagikan, makna yang lebih besar terletak pada apa yang dapat kita lakukan setelahnya: menemukan potensi, mendampingi perkembangannya, dan menghubungkannya dengan pembinaan yang tepat. POPDA bukan hanya tentang berapa medali yang diperoleh, tetapi juga berapa banyak potensi yang berhasil ditemukan dan berapa banyak di antaranya yang memperoleh jalur pembinaan lanjutan. Kita juga perlu menyiapkan jalan agar generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk meraihnya. Salah satu langkah awalnya dapat dimulai dari POPDA Jawa Timur, Salam olahraga. *


