Gresik, Bhirawa — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gresik terus berupaya melacak dan mengalihmediakan berbagai sumber sejarah kuno. Hingga kini, sedikitnya 11 naskah kuno telah berhasil didokumentasikan, antara lain Naskah Sindujoyo, Naskah Ambiya, hingga naskah khutbah Jumat Masjid Sunan Giri.
Tak hanya di dalam negeri, Dispussip juga menjangkau koleksi yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Pada tahun 2024, sekitar Rp50 juta dialokasikan untuk membeli akses digital sejumlah dokumen sejarah Gresik yang tersimpan di sana.
Kepala Dispussip Kabupaten Gresik, Budi Raharjo, mengakui pencarian di Leiden bukan perkara mudah. “Harus sangat spesifik mencarinya, karena kata kunci ‘Gresik’ saja belum tentu memunculkan semua dokumen. Kita belum mengetahui seluruh judul koleksinya,” ujarnya.
Dua dokumen penting yang berhasil diperoleh antara lain:
– Statistik van Java Residentie Gresik — memuat gambaran lengkap kehidupan masyarakat Gresik pada masa kolonial, lengkap dengan ilustrasi alat kerja, alat musik, perlengkapan perahu, jaring, celurit, hingga arak-arakan pernikahan
– Kisah perkuburan di kawasan Tanah Gapuro — mencatat sejarah pemakaman di wilayah tersebut
Kedua dokumen tersebut dibeli secara daring, kemudian dicetak dan diperkaya ke dalam koleksi sejarah Gresik. Langkah ini bukan sekadar menambah jumlah buku, melainkan menggali bukti tertulis yang memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu kota tua di Jawa.
“Isinya berupa laporan pemerintahan zaman Belanda, ada yang ditulis dalam bahasa Belanda maupun bahasa Jawa. Semoga ini menambah wawasan bahwa Gresik — baik di era Sunan Giri maupun Majapahit — memiliki bukti tertulis yang autentik,” jelas Budi. [kim.kt]


