29 C
Sidoarjo
Thursday, September 17, 2026
spot_img

Urgensi Digitalisasi Kesehatan di Era Disrupsi

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya.

Peran dan penggunaan teknologi atau digitalisasi di dunia kesehatan kian tak dapat dihindarkan dan sebuah keniscayaan di era modern saat ini. Berbagai macam dan jenis teknologi begitu pesat di ruang-ruang dan layanan publik. Seperti Chat GPT atau chatbot berbasis artificial intelligence (AI) tengah menjadi isu sentral di berbagai lini kehidupan baik di dunia media sosial tak terkecuali terhadap dunia kesehatan saat ini. Secara filosofi penggunaan teknologi apapun Namanya bak dua sisi mata pedang, bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia sekaligus sebagai ancaman yang serius jika tidak terkelola secara benar, arif, rasional dan etik. Kian meningkatnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan semakin tinggi, AI muncul sebagai solusi yang tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga meningkatkan akurasi dan kualitas layanan. Selain mampu memperkuat analisis data medis dengan kecepatan dan akurasi yang sulit dicapai manusia termasuk dalam interpretasi medis, seperti pemindaian CT atau MRI, AI dapat membantu dalam mendeteksi pola-pola yang sulit terlihat oleh mata manusia sehingga dapat menghasilkan diagnosis yang lebih cepat dan tepat.

Dalam lingkungan pelayanan kesehatan dapat memungkinkan peralatan kesehatan berkomunikasi langsung dengan sistem untuk menyediakan informasi secara real-time. Contohnya, memungkinkan pemantauan pasien dengan penyakit kritis dapat dilakukan secara terus-menerus, serta memberikan data yang akurat kepada tim medis untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Teknologi AI ini memungkinkan terjadinya konsultasi dokter tanpa pasien harus berkunjung ke rumah sakit, dapat memberikan dukungan kesehatan mental yang personal dan terfokus serta mampu dapat memberikan saran dan dukungan, bahkan melakukan interaksi langsung melalui platform digital. Dari sisi tata Kelola data dimana pengelolaan data kesehatan dengan skala besar yang bersifat analitis seperti pemrosesan catatan medis, diagnosis berdasarkan gambar medis, hingga penjadwalan dapat dilakukan secara otomatis oleh AI. Dengan demikian, tenaga medis juga dapat fokus pada aspek-aspek pelayanan lain yang memerlukan ‘sentuhan’ kecerdasan emosional dan keputusan manusia.

Berita Terkait :  Gubernur Jatim Khofifah Dampingi Wapres Gibran Ziarah ke Makam Bung Karno

Pemanfaatan lain bagi masyarakat terutama pasien adalah dapat meningkatkan user experience atau pengalaman yang dialami pasien. Misalnya, sistem otomatis dapat memberikan informasi akurat dan relevan kepada pasien, mengurangi waktu tunggu, dan menyediakan jalur perawatan yang lebih terpersonalisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing serta dapat memberikan informasi yang berkesinambungan dan real-time tentang kondisi pasien sehingga mempermudah tim medis untuk mengambil tindakan pencegahan sebelum kondisi pasien semakin memburuk. Dari sisi investasi bahwa peningkatan investasi di HealthTech. Pada tahun 2025, investasi di sektor HealthTech global telah mencapai rekor tertinggi, dengan pertumbuhan rata-rata 20% per tahun sejak 2020. Startup-startup lokal di berbagai negara, termasuk Indonesia, telah menarik minat investor global, menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong inovasi. Oleh karena itu dampak digitalisasi kesehatan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan medis, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian

Risiko dan Ancaman
Walaupun penggunaan digitalisasi dan teknologi di sektor kesehatan sangat membantu dalam upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan terutama dunia kedokteran, namun satu sisi juga menimbulkan risiko-risiko dampak penggunaan AI, antara lain pertama, dimungkinkan terjadi kesalahan diagnosis. Hasil penggunaan AI terkadang kurang relevan untuk setiap situasi dan kondisi klinis tertentu. Hasil diagnosis yang secara mandiri menggunakan bantuan analisis AI terkadang kurang akurat sehingga dapat menyesatkan pasien karena cara kerja sistem acapkali pengambilan data mentah (raw data) tanpa disertai aspek pertimbangan klinis yang mendalam. Kedua, aspek privasi dan keamanan data (secure data) terutama pada penggunaan rekam medis digital berbasis AI berrisiko menimbulkan kebocoran data pribadi pasien jika sistem keamanan siber tidak dijaga ketat.

Berita Terkait :  BPK Jatim Uji Pembersihan Cikar Mbah Gleyor Pasca Vandalisme

Ketiga, terjadi bias Algoritma dimana mengalami kesalahan sistematis atau penyimpangan (deviasi) yang terjadi ketika data ditransformasikan menggunakan fungsi logaritma, atau ketika kita menggunakan skala logaritma untuk menganalisis data yang memiliki variasi besar. Mekanisme dan tata kerja algoritma AI yang dilatih dengan data tidak merata dapat memperburuk ketidaksetaraan akses dan kualitas penanganan bagi kelompok masyarakat tertentu. Keempat, terjadi degradasi humanisme yakni hilangnya sentuhan manusia dan mengalami transformasi ketergantungan berlebih pada mesin yang dikhawatirkan menurunkan tingkat empati, sisi psikologis, kedekatan kemanusiaan dan komunikasi langsung antara tenaga medis dan pasien. Risiko utama mungkin muncul ketika AI menjadi lebih kuat daripada otak manusia, sehingga sangat penting untuk mengembangkan mekanisme yang solid dan aman untuk menjaga AI tetap terkendali. Pada prinsipnya, AI hanya dapat membantu, bukan menggantikan berbagai layanan kesehatan terutama layanan kedokteran yang melibatkan sisi etik, sosial pasien dan masyarakat luas.

————- *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!