28.1 C
Sidoarjo
Sunday, September 13, 2026
spot_img

Meriah! Budaya Tionghoa-Nusantara PSMTI Hidupkan 50 UMKM

Bondowoso, Bhirawa. – Perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara mewarnai kegiatan yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Bondowoso dengan mengangkat tema “The To Become One” yang digelar di Citiplaza Bondowoso, Sabtu (12/9/2026) malam.

Yang mana tema tersebut dengan artian “Bersatu dalam Peradaban Menciptakan Keharmonisan”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni dan budaya, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sedikitnya 50 UMKM di Kota Tape ini dilibatkan dalam kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, mulai Sabtu (12/9/2026) malam hingga Senin (21/9/2026) mendatang

Ketua PSMTI Kabupaten Bondowoso, Immanuel, mengatakan konsep “Two to Become One” menggambarkan semangat menyatukan dua kebudayaan yang berbeda dalam sebuah kolaborasi yang harmonis.

“Kurang lebih ada 50 UMKM yang terlibat dengan mengusung tema ‘Two to Become One’. Artinya, dua kebudayaan dikolaborasikan menjadi satu, yaitu kebudayaan pribumi dan kebudayaan Tionghoa (Chinese),”ungkapnya.

Menurut Immanuel, kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian, khususnya bagi pelaku UMKM di tengah kondisi ekonomi saat ini.

“Harapannya adalah mampu menciptakan sinergi yang positif di tengah situasi ekonomi saat ini. Jadi, kita bersama-sama berkembang dan mewujudkan stabilitas yang positif untuk membantu rekan-rekan UMKM di Bondowoso,”urainya.

Semangat menyatukan keberagaman budaya juga ditampilkan melalui berbagai pertunjukan seni dalam pembukaan kegiatan. Acara diawali dengan pemotongan pita oleh Ketua PSMTI Kabupaten Bondowoso, Immanuel.

Berita Terkait :  Skrining Kesehatan ASN Stabilkan Layanan Optimal OPD Pemkot Batu

Selanjutnya, masyarakat disuguhi atraksi Barongsai dan Singo Rawung, seni bela diri Wushu, serta sejumlah pertunjukan budaya lainnya.

Selain pertunjukan seni, pengunjung juga dapat menikmati beragam produk dan kuliner yang disajikan para pelaku UMKM. Immanuel menyebut mayoritas kuliner yang tersedia merupakan makanan pribumi, sementara kuliner Chinese memiliki porsi sekitar 40 persen.

Ia memastikan seluruh kuliner Chinese yang disajikan dalam kegiatan tersebut telah memenuhi ketentuan halal.

“Kuliner yang dijajakan paling banyak saat ini adalah makanan pribumi. Porsi makanan Chinese sekitar 40 persen dan semuanya harus dipastikan halal. Tidak boleh tidak halal,”jelasnya.

Pada hari pertama pelaksanaan, PSMTI Bondowoso turut mengundang perwakilan PSMTI dari Kabupaten Jember dan Situbondo. Sejumlah pihak juga hadir, di antaranya perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PLN, serta Ketua Cabor Wushu Bondowoso.

“Acara ini berlangsung selama 10 hari. Untuk hari pertama, kami mengundang rekan-rekan dari PSMTI Jember dan Situbondo serta lainnya,”urainya.

Dengan melibatkan puluhan UMKM, PSMTI Bondowoso optimistis kegiatan tersebut dapat ikut menggerakkan roda perekonomian daerah. Antusiasme masyarakat pada malam pembukaan menjadi salah satu indikator positif bagi penyelenggara.

Immanuel bahkan memperkirakan perputaran transaksi selama kegiatan berlangsung dapat mencapai ratusan juta rupiah.

“Melihat kondisi dan antusiasme seperti ini, saya sangat optimistis perputaran ekonomi sampai akhir acara nanti bisa mencapai ratusan juta rupiah,”jelasnya.

Berita Terkait :  Amankan Perjalanan KA

Namun, menurut Immanuel, kontribusi PSMTI tidak hanya berfokus pada kegiatan ekonomi dan pemberdayaan UMKM. Organisasi tersebut juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.

Sejumlah kegiatan sosial yang telah dilakukan di antaranya membantu penanganan kebakaran rumah di wilayah Tamanan dan Prajekan, program bedah rumah, hingga pembagian bingkisan kepada penghuni panti jompo.

Di tingkat nasional, PSMTI juga turut berkontribusi dalam pembangunan dua jembatan gantung di kawasan Arjasa dan Sukorambi, Kabupaten Jember, pada bulan sebelumnya.

“Kegiatan kami bukan hanya berfokus pada UMKM atau ekonomi saja. PSMTI juga aktif dalam aksi sosial, seperti penanganan kebakaran rumah di Tamanan dan Prajekan, program bedah rumah, hingga pembagian bingkisan ke panti jompo. Secara nasional, bulan lalu kami juga berpartisipasi dalam pembangunan dua jembatan gantung di kawasan Arjasa dan Sukorambi, Jember,”terangnya.

Melalui kegiatan The To Become One, PSMTI Bondowoso berharap kolaborasi lintas budaya dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya memperkuat keharmonisan masyarakat.

Selain memperkenalkan keberagaman budaya Tionghoa dan Nusantara, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi pelaku UMKM untuk berkembang sekaligus memperkuat kontribusi PSMTI dalam bidang sosial dan ekonomi.

“Harapan kami, kegiatan ini dapat menjadi langkah untuk bersinergi lebih jauh lagi. PSMTI ingin terus memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan ekonomi dan sosial, khususnya bagi masyarakat Bondowoso,”pungkasnya. [san.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!