31.7 C
Sidoarjo
Sunday, July 5, 2026
spot_img

Libur Sekolah, Pengusaha Kuliner Bernapas Lega Harga Bahan Pokok Turun

Kab Malang, Bhirawa – Libur sekolah usai siswa penerimaan rapor dan Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru (SPMB) untuk tahun ajaran 2026/2027, maka Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur diberhentikan sementara. Hal ini membawa dampak signifikan terhadap pergerakan harga pangan di pasar tradisional. Penurunan permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuat harga sejumlah komoditas utama berangsur turun. Kondisi ini membawa angin segar bagi para pelaku usaha kuliner mandiri.

Karena sebelum memasuki masa libur sekolah, operasional dapur SPPG yang masif memicu lonjakan permintaan komoditas seperti sayur-mayur, daging ayam, telur, ikan laut dan tawar, hingga buah-buahan. Sebab, volume pembelian yang besar oleh para pemasok program pemerintah tersebut sempat mendongkrak harga pokok di tingkat pasar, sehingga mempersempit margin keuntungan pedagang makanan eceran.

“Ketika saat Program MBG beroperasi penuh, sebagian besar pasokan terbaik di pasar diborong oleh supplier untuk kebutuhan sekolah. Akibatnya, harga eceran bagi kami yang membuka usaha warung atau katering kecil menjadi cukup mahal,” ungkap salah satu pengusaha kuliner mandiri asal wilayah Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Sakib Al-Husain, Minggu (5/7/2026), kepada wartawan.

Namun, lanjut dia, situasi tersebut berbalik saat siswa memasuki masa libur. Berhentinya distribusi MBG untuk sementara waktu secara otomatis menurunkan tekanan permintaan di pasar. Dampaknya, stabilitas harga kembali tercapai dan harga beberapa bahan baku esensial mengalami penurunan.

Berita Terkait :  Pesilat Pagar Nusa Mengadu ke Polres Pasuruan Soal Dugaan Narkoba dan Prostitusi

Momentum ini dimanfaatkan oleh para pengusaha kuliner untuk mengoptimalkan biaya produksi (food cost) guna mendulang keuntungan yang lebih baik. Di sisi lain, fenomena ini memperlihatkan dinamika baru dalam ekosistem pangan lokal. Meski penurunan harga ini menguntungkan sektor hilir seperti pengusaha makanan, kondisi sebaliknya dirasakan di sektor hulu.

Sejumlah petani dan peternak lokal, kata Sakib, kehilangan pembeli siaga (offtaker) utama selama masa libur sekolah, yang memaksa mereka kembali mengandalkan mekanisme pasar reguler dengan fluktuasi harga yang lebih tinggi. Fluktuasi ini pada posisi Program MBG sebagai salah satu penggerak utama arus ekonomi pangan saat ini.

“Tantangan ke depan bagi pemangku kebijakan adalah menjaga keseimbangan suplai saat sekolah kembali masuk, agar lonjakan permintaan SPPG nantinya tidak memicu inflasi yang memberatkan masyarakat umum maupun pelaku usaha kecil,” paparnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!