Oleh:
Sebastian Dimas Satria
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Ada momen-momen tertentu dalam hidup di mana kita merasa perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas dan mencari udara segar, bukan sekadar kiasan tapi benar-benar mencari udara yang segar dan dingin. Itulah yang mendorong kami bertiga, Dimas, Shalom, dan Aldi, untuk mengarahkan setir mobil ke arah Kota Batu pada 1 Juni 2026 untuk memenuhi nilai Tugas Akhir dari Mata Kuliah Komunikasi Pariwisata dengan dosen pengampu Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA. Dari Surabaya, perjalanan menuju Batu sudah menawarkan pemandangan yang memanjakan mata. Semakin mendekati kawasan pegunungan, jalanan mulai menanjak dan udara terasa lebih sejuk menembus kaca mobil. Kami tiba di kawasan wisata Coban Talun yang menjadi pintu masuk menuju Bukit Kalindra yang berlokasi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Yang langsung melegakan hati kami sejak tiba adalah soal harga. Tiket masuk hanya Rp12.000 per orang, harga yang sangat terjangkau untuk menikmati kesejukan alam pegunungan. Fasilitas parkirnya pun memadai untuk kendaraan roda dua maupun roda empat seperti mobil kami, dan toilet tersedia di kawasan ini. Untuk ukuran destinasi wisata alam dengan pemandangan seindah ini, harga segitu rasanya seperti dapat rejeki nomplok.
Salah satu kekhawatiran kami sebelum berangkat adalah soal jalur. Kami bukan pendaki berpengalaman. Kami hanya tiga orang yang ingin menikmati alam tanpa harus tersiksa di tengah jalan. Dan Bukit Kalindra rupanya memahami kebutuhan kami dengan sempurna. Jalur yang tersedia tergolong landai dengan kemiringan ringan, sehingga cocok untuk semua usia. Ini bukan hiperbola. Anak-anak hingga orang tua pun bisa mencobanya, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dan jalur yang jelas serta tidak ekstrem, cocok untuk wisata keluarga yang ingin aktivitas ringan di alam terbuka.
Perjalanan dimulai dari loket Coban Talun. Kami perlu berjalan kaki sekitar 1,5 km dari pintu loket hingga masuk ke area air terjun, sebelum melanjutkan ke puncak bukit. Di sepanjang jalur, pepohonan pinus menjulang tinggi memberikan keteduhan alami, sementara semilir angin pegunungan mengiringi setiap langkah kaki kami. Shalom yang biasanya paling cepat mengeluh kelelahan pun mengakui, perjalanan naik kali ini terasa ringan dan menyenangkan.
Saat tiba di puncak, kami terdiam sejenak. Bukan karena kelelahan tapi karena takjub. Dari puncak Bukit Kalindra, kami dapat menikmati panorama lima gunung sekaligus dalam satu tempat, yakni Gunung Kawi, Gunung Wukir, Gunung Panderman, Gunung Arjuno, dan Gunung Anjasmoro. Belum cukup itu saja dari puncak bukit pengunjung juga bisa menikmati pemandangan Kota Batu, dan bahkan air terjun Coban Talun terlihat dari atas sehingga menambah keindahan yang menyeluruh.
Aldi langsung mengeluarkan kameranya. Saya memilih duduk diam menikmati semilir angin. Shalom sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto. Begitulah setiap orang menemukan caranya sendiri untuk menikmati keindahan yang tersaji di depan mata. Hampir setiap sudut bukit menawarkan latar belakang yang menarik untuk diabadikan.
Karena kami datang di hari libur, jumlah pengunjung memang terbilang ramai. Tapi ini justru memberi kesan tersendiri bahwa Bukit Kalindra sudah mulai dikenal luas dan menjadi pilihan banyak orang untuk healing di alam terbuka. Suasananya tetap terasa menyenangkan; tidak ada kesan sumpek atau bising seperti di wahana wisata komersial. Orang-orang datang untuk menikmati alam, dan itu terasa dalam energi tempat ini. Di puncak, warga lokal mengelola warung kecil untuk berjualan, sehingga kami bisa memesan minuman hangat sambil duduk santai menikmati panorama. Sebuah bentuk wisata yang saling menguntungkan terlihat dari pengunjung terbantu, warga sekitar pun berdaya.
Yang membuat Bukit Kalindra semakin menarik adalah letaknya di kawasan Coban Talun yang memiliki banyak aktivitas tambahan. Pengunjung juga dapat mengunjungi taman bunga Coban Talun, bermain air, berenang dan berendam di area air terjun, serta melakukan fotografi untuk mengabadikan momen berlibur bersama keluarga. Bahkan tersedia fasilitas outbound, ATV, hingga area kemah yang bisa disewa dengan harga ramah di kantong.
Pulang dari Bukit Kalindra, kami bertiga tidak banyak berbicara di dalam mobil. Bukan karena ada masalah tapi karena kami masing-masing masih menikmati sisa-sisa ketenangan yang terbawa turun dari puncak bukit. Bukit Kalindra bukan sekadar destinasi wisata biasa. Ia adalah pengingat bahwa keindahan alam yang luar biasa tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh, biaya besar, atau fisik yang prima. Kadang, cukup tiga sahabat, satu mobil, dan kemauan untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Kalau kamu belum pernah ke sana, kami dengan tegas berkata pergilah, segera. [*]


