Pemprov Jatim, Bhirawa.
Menjalani masa rehabilitasi sosial jauh dari keluarga tentu bukan perkara mudah bagi para penyandang disabilitas fisik (Bina Daksa). Di balik tembok Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (UPT RSBD) Pasuruan, sebuah lembaga di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, ada dinamika kehidupan yang penuh warna. Di sinilah para Penerima Manfaat (PM) tidak hanya ditempa untuk mandiri secara fisik, tetapi juga dirawat kesehatan mental dan sosialnya lewat pendekatan yang menyentuh hati.
Kehidupan berasrama yang mempertemukan individu dengan latar belakang berbeda kerap memicu gesekan interpersonal. Menyadari hal itu, UPT RSBD Pasuruan menyediakan ruang aman melalui layanan konsultasi individu. Dalam sebuah sesi di ruang Rehabilitasi Sosial, seorang PM tampak duduk santai namun serius, mencurahkan isi hatinya kepada Lutfihana Rahmawati, seorang pekerja sosial.
Di ruangan yang kondusif itu, konflik antar-teman asrama yang sempat mengganjal pikiran diurai satu demi satu. Lewat pendekatan persuasif dan empatik, Lutfihana membantu sang PM melihat masalah secara objektif, mengelola emosi, serta mengajarkan cara berkomunikasi yang sehat. Layanan ini menjadi jembatan untuk memulihkan hubungan interpersonal agar kehidupan asrama kembali harmonis.
Kepala UPT RSBD Pasuruan, Vivin Dwi Susanti, menegaskan bahwa pendampingan psikologis ini merupakan agenda rutin. “Setiap PM memiliki dinamika kehidupan yang berbeda. Melalui konsultasi individu, kami membantu mereka menemukan solusi atas masalahnya, sehingga mereka bisa beradaptasi dan kembali fokus pada pengembangan diri,” jelas Vivin.
Keluar dari ruang konseling, atmosfer asrama berubah menjadi penuh energi di lapangan olahraga. Sorak-sorai riuh terdengar saat para PM berkumpul untuk bermain voli duduk, yang merupakan sebuah olahraga adaptif yang dirancang khusus untuk penyandang disabilitas fisik.
Dalam posisi duduk di atas lapangan, keterbatasan fisik seketika melebur. Kerja sama tim, strategi, dan sportivitas menjadi motor penggerak utama. Di bawah panduan Kepala Seksi Pelayanan Sosial Sunardi, para PM dari berbagai asrama tampak bahu-membahu mengejar bola dan mencetak poin.
Olahraga ini tidak hanya melatih kemampuan motorik dan koordinasi gerak, tetapi juga menjadi sarana rekreasi yang ampuh untuk melepas penat setelah seharian mengikuti kelas vokasional. “Melalui voli duduk, kami ingin memberikan ruang bagi PM untuk tetap aktif, sehat, dan produktif. Olahraga ini mengajarkan nilai disiplin dan saling menghargai,” kata Vivin Dwi Susanti.
Jika lapangan voli dipenuhi gemuruh tawa dan teriakan, pemandangan berbeda terlihat di gazebo taman. Suasana di sini jauh lebih tenang namun tetap intens. Di atas meja-meja kayu, beberapa pasang PM sedang asyik menatap papan catur.
Didampingi oleh Nursalim Ilyas selaku instruktur, para PM belajar menyusun strategi dari dasar. Mereka mengenal fungsi setiap bidak, menghitung langkah, dan memprediksi pergerakan lawan. Bermain catur secara berpasangan ini melatih mereka untuk mengambil keputusan penting, mengasah daya ingat, dan melatih kesabaran. Papan catur menjadi simulasi kecil dari kehidupan nyata: setiap langkah memiliki konsekuensi, dan setiap kekalahan harus diterima dengan sikap sportivitas yang tinggi.
Rangkaian kegiatan mulai dari konseling yang menyentuh hati, serunya voli duduk, hingga asah otak lewat catur merupakan bukti nyata komitmen UPT RSBD Pasuruan. Proses rehabilitasi bagi para penyandang disabilitas fisik tidak boleh kaku dan membosankan.
Dengan memadukan edukasi, rekreasi, dan pendampingan mental, lembaga ini berhasil menciptakan lingkungan yang inklusif dan suportif. Di sini, para Penerima Manfaat tidak hanya dipersiapkan untuk mandiri secara keterampilan kerja, tetapi juga dibekali rasa percaya diri dan ketangguhan mental untuk kembali ke tengah masyarakat dengan senyuman.[rac.ca]


