Jombang, Bhirawa
Sejumlah pegiat budaya dan sejarah lintas daerah di Jawa Timur (Jatim) seperti dari Jombang, Mojokerto, dan Kediri mengikuti ‘Jagongan Budaya’ di area Candi Pandegong, Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Kamis malam (28/05).
Di situs candi peninggalan Mpu Sindok itu, mereka berdiskusi dan saling bertukar fikiran seputar pelestarian sejarah, edukasi sejarah kepada generasi muda, hingga berdiskusi soal lingkungan.
Para pegiat budaya dan sejarah yang hadir di antaranya, Supriyadi dan Mbah Jito beserta rombongan dari Forum masyarakat KCBN Trowulan.
Lalu ada pula pegiat lingkungan Kali Srinjing Kediri, Mbah Arif dan rombongan, dan juga pegiat budaya dan sejarah dari Jombang seperti, pengelola Sanggar Wayang Topeng Jatiduwur, Kesamben, Jombang, Isma Hakim.
Selain itu terdapat pula, pemerhati sejarah Jombang yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif dan juga tokoh masyarakat Jombang, H. Nursan, serta pegiat budaya, Prabu dan Fafa. Kegiatan juga diikuti oleh juru pelihara (Jupel) Candi Pandegong, Jayadi.
Acara diskusi dipandu oleh Ari Hakim dari Pare, Kediri. Sedangkan doa pembuka dan doa penutup untuk kebangkitan Nusantara dipimipin dan dilantunkan oleh tokoh spiritual, Ki Budi Sejati.
Forum diskusi berjalan mengalir. Mbah Jito menyampaikan pandangannya terkait pentingnya perspektif budaya yang ramah lingkungan dan pentingnya memberikan edukasi sejarah yang benar kepada para generasi muda.
Koordinator Forum Masyarakat KCBN Trowulan wilayah Kabupaten Mojokerto, Supriyadi juga mengulas pentingnya keberadaan forum masyarakat KCBN Trowulan sebagai sarana untuk memperat silaturahmi, diskusi sekaligus mencari solusi lintas stakeholder, memetakan potensi sumber daya manusia, sekaligus sebagai sarana untuk mengidentifikasi peninggalan-peningalan sejarah yang ada di 50 desa di KCBN Trowulan.
Kemudian, Mbah Arif selaku pegiat budaya Kali Srinjing Kediri juga berbagi pengalaman dalam hal pelestarian sungai.
Lantas, pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim mengulas pentingnya kehadiran pemerintah dalam pelestarian sejarah dan budaya.
Sementara, Jupel Candi Pandegong, Jayadi menerangkan proses dari awal ditemukannya Candi Pandegong, proses ekskavasi, hingga sejarah Candi Pandegong itu sendiri.
Pegiat sejarah ,budaya dan pariwisata di Trowulan Supriyadi mengapresiasi adanya kegiatan ini. Dia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan dan dilanjutkan di situs-situs bersejarah lainnya.
“Selain untuk bersilaturahmi, dengan forum-forum seperti ini diharapkan dapat memunculkan ide dan gagasan seputar pelestarian sejarah dan budaya,” kata Supriyadi.
Sedangkan Ari Hakim menyampaikan, forum diskusi budaya seperti yang dilaksanakan di Candi Pandegong ini diharapkan dapat terus dilaksanakan di lokasi yang lain.
“Sembari kita memunculkan kecintaan masyarakat setempat akan peninggalan bersejarah dari nenek moyang. Karena ini adalah warisan yang sangat bernilai,” tutur Ari Hakim. [rif.kt]


