29 C
Sidoarjo
Friday, April 24, 2026
spot_img

Tanam Padi Serempak di Bojonegoro, Sri Wahyuni: Perkuat Ketahanan Pangan Jatim

Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni

DPRD Jatim, Bhirawa.
Upaya menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim terus digencarkan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menunjukkan langkah konkret dengan menyukseskan Gerakan Percepatan Tanam Padi Serempak se-Jawa Timur, Kamis (23/04/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di lahan persawahan Desa Kapas, Kecamatan Kapas ini bukan sekadar aksi tanam biasa. Lebih dari itu, gerakan ini memadukan inovasi teknologi pertanian dengan pendekatan spiritual sebuah strategi yang dinilai relevan menghadapi tantangan fenomena El Nino dan tren penurunan luas baku sawah nasional.

Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni pun memberikan apresiasi atas langkah proaktif Bojonegoro dalam memperkuat sektor pertanian.
Menurutnya, gerakan tanam serempak ini bukan hanya soal mengejar target produksi, tetapi juga menunjukkan keseriusan daerah dalam menjaga stabilitas pangan di tengah tekanan global.

“Ini bentuk nyata komitmen daerah dalam menjaga ketahanan pangan. Sinergi antara pemerintah, petani, dan seluruh stakeholder harus terus diperkuat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026).

Aksi tanam padi ini melibatkan Kelompok Tani Bakti Makmur, jajaran Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, serta unsur TNI dan Polri. Keterlibatan lintas sektor ini menjadi bagian dari komitmen 38 kabupaten/kota di Jawa Timur untuk mengejar target luas tanam nasional sebesar 2,8 juta hektare pada 2026.

Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Kementerian Pertanian RI, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa tantangan pertanian saat ini tidak lagi sebatas perluasan lahan, melainkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas.

Berita Terkait :  Bupati Pasuruan Ajukan Penambahan Kuota Jaminan Kesehatan ke Pusat

Apalagi, luas baku sawah di Jawa Timur kini tercatat sekitar 1.068.000 hektare—angka yang menunjukkan adanya tekanan terhadap sektor pertanian.

Sebagai respons, berbagai langkah strategis mulai diterapkan. Mulai dari koordinasi dengan penyedia alat mesin pertanian (alsintan) dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penyediaan pompa air menghadapi musim kering, hingga program Electricity for Farming yang menghadirkan listrik ke lahan pertanian.

Tak hanya itu, pendekatan ramah lingkungan juga terus didorong melalui program Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB), termasuk pemanfaatan musuh alami seperti burung hantu untuk mengendalikan hama tikus.

Yang menarik, gerakan ini juga mengusung pendekatan unik melalui konsep “Sawah Bersolawat” dan “Ngaji Tani”. Para petani diajak memadukan ikhtiar teknis dengan doa dan selawat, menciptakan harmoni antara usaha lahir dan batin.

“Gerakan percepatan tanam ini adalah bukti ketangguhan Jawa Timur sebagai produsen padi nomor satu di Indonesia selama empat tahun terakhir,” ujar Yuris.

Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, legislatif, aparat keamanan, dan kelompok tani, Bojonegoro optimistis mampu mempertahankan perannya sebagai salah satu lumbung pangan andalan di Jawa Timur.

Langkah ini sekaligus menjadi bukti bahwa menghadapi tantangan global, sektor pertanian tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga semangat kolektif dan optimisme yang tumbuh dari akar budaya masyarakat. [geh.hel].

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!