Situbondo, Bhirawa
Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia, Bupati bersama jajaran Forkopimda Situbondo yakni, Ketua DPRD, Kajari, Dandim 0823, Ketua Pengadilan Negeri, PLN, Bank Jatim Situbondo, bersama seluruh lapisan masyarakat menanam 20 ribu bibit pohon di Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, Rabu (22/4).
Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian Pemerintah Kabupaten Situbondo dan seluruh lapisan masyarakat terhadap kelestarian lingkungan serta upaya menjaga keseimbangan alam agar lingkungan tetap lestari.
Informasi yang berhasil dihimpun Bhirawa menyebutkan, sedikitnya ada ratusan warga dari berbagai kalangan seperti lembaga pendidikan, akademisi, lembaga pemerhati lingkungan, swasta, pemerintah desa dan kecamatan, kepala OPD Pemkab Situbondo turut hadir dan berpartisipasi menanam pohon di lahan kritis di Desa Semambung.
Suasana penuh semangat dan gotong royong terlihat jelas dalam kegiatan tersebut.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan kegiatan penanaman pohon bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi juga bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi agar tetap hijau dan lestari.
“Untuk itu, saya juga mengajak masyarakat bukan hanya untuk menanam, tetapi harus merawat pohon yang telah ditanam agar memberikan manfaat jangka panjang,” kata Mas Rio.
Melalui momentum Hari Bumi ini, Mas Rio mengajak seluruh lapisan masyarakat mau meningkatkan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan.
“Menanam pohon hari ini adalah investasi untuk masa depan anak cucu kita. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama berinvestasi menanam pohon dan kompak merawatnya,” ujarnya.
Mas Rio kembali menegaskan, dengan adanya kegiatan ini, maka diharapkan kesadaran masyarakat menjaga bumi semakin meningkat, sehingga tercipta lingkungan yang sehat, asri dan berkelanjutan bisa terwujud dengan baik.
“Peringatan Hari Bumi tidak hanya sekadar seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan hidup. Menanam pohon adalah langkah kecil dengan dampak besar. Ini bukan soal siapa yang memimpin. Ini soal komitmen kita terhadap alam yang rusak dan perlu diperbaiki,” ungkap Mas Rio.
Menurut Mas Rio, kerusakan alam hutan yang semakin meluas menjadi faktor meningkatnya risiko banjir. Oleh karena itu, upaya rehabilitasi melalui penanaman pohon ini harus dilakukan secara bersama-sama.
“Jika hutan gundul, dampaknya cukup jelas. Seperti banjir terjadi berulang di Kabupaten Situbondo dan daerah lain di Indonesia. Untuk itu, kita tidak bisa tinggal diam. Tapi, kita harus melakukan gerakan bersama memperbaiki bumi yang semakin rusak dengan cara melakukan penanaman dan merawat pohon dengan,” beber Mas Rio.
Mas Rio berharap gerakan bermanfaat ini tidak berhenti pada masa kepemimpinan dirinya saja. Tetapi, dia ingin kesadaran masyarakat merawat sekaligus menjaga lingkungan berlanjut kepada pemimpin berikutnya.
“Kita ingin gerakan bersama ini menjadi gerakan yang hidup di alam bawah sadar seluruh masyarakat Situbondo. Ada atau tidak ada kebijakan pemerintah, tapi masyarakat tetap bergerak menjaga kelestarian lingkungan,” pungkas Mas Rio. [awi.dre]


