27 C
Sidoarjo
Saturday, April 18, 2026
spot_img

Dari Asrama hingga Ruang Digital: Cerita SRT 7 Saat Dikunjungi Komdigi

Kunjungan jurnalistik Komdigi ke SRT 7 Probolinggo diikuti media nasional dan lokal untuk melihat langsung implementasi program, Kamis (16/4/2026). Ayu Firdausiyah Ahmad.

Pemprov Jatim, Bhirawa.
Kunjungan siang itu terasa berbeda. Di sela aktivitas belajar yang padat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengajak sejumlah jurnalis dari Jakarta dan daerah melihat langsung denyut kehidupan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7. Bukan sekadar agenda seremonial, kunjungan ini menjadi ruang untuk memahami bagaimana program prioritas pemerintah itu benar-benar dijalankan di lapangan.

Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani, menyebut kunjungan ini sebagai bagian dari upaya membuka “dapur” Sekolah Rakyat kepada publik. Ia ingin media tidak hanya melihat dari permukaan, tetapi memahami bagaimana program ini bekerja secara utuh.

“Kami ingin teman-teman media melihat langsung implementasinya di daerah,” ujarnya di hadapan peserta.

Di Kota Probolinggo, SRT 7 memang tidak berdiri sendiri. Program ini dirancang terintegrasi, tidak hanya menyasar pendidikan anak, tetapi juga menyentuh kondisi keluarga. Pendekatan ini menjadi pembeda, sekaligus jawaban atas persoalan kemiskinan yang selama ini kerap ditangani secara parsial.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setempat, Madihah, menjelaskan bahwa SRT 7 termasuk dalam kategori rintisan 1A—gelombang pertama yang langsung merespons program pusat. Dengan total awal 100 siswa dari jenjang SMP dan SMA, sekolah ini melalui proses panjang mulai dari inisiasi, validasi, hingga pendampingan.

Berita Terkait :  Sukadar Kenalkan Fungsi dan Wewenang DPRD

Validasi menjadi tahap krusial. Bersama Badan Pusat Statistik dan pendamping PKH, tim turun langsung ke lapangan memastikan bahwa siswa yang diterima benar-benar berasal dari kelompok Desil 1 dan 2—kategori masyarakat termiskin.

“Kami lakukan door to door untuk memastikan data itu valid,” terang Madihah.

Namun tantangan tidak berhenti di sana. Banyak siswa yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga, sehingga adaptasi dengan sistem asrama tidak selalu mudah. Dinamika keluar-masuk siswa menjadi tantangan tersendiri.

Meski demikian, hingga kini jumlah siswa bertahan di angka 98 orang, menunjukkan proses pendampingan yang terus berjalan.
Di sisi lain, kehidupan di dalam sekolah berjalan dengan ritme yang terstruktur.

Kepala sekolah SRT 7 Kota Probolinggo, Susilowati, menggambarkan keseharian siswa yang nyaris tanpa jeda. Dari pukul 03.30 dini hari hingga malam, aktivitas mereka sudah terjadwal—mulai dari ibadah, belajar formal, hingga pengembangan keterampilan.

Digitalisasi menjadi salah satu kekuatan utama sekolah ini. Setiap siswa mendapatkan satu laptop yang terhubung dengan akun masing-masing. Aktivitas mereka dapat dipantau, sementara akses tetap dibatasi.

“Bukan dilarang, tapi diarahkan,” begitu kira-kira prinsip yang dijalankan. Penggunaan gawai pun diatur ketat demi menjaga ruang digital tetap aman.

Plt. Kepala Dinas Kominfo Kota Probolinggo, Lucya Aries Yuliyanti, memastikan infrastruktur internet telah menjangkau seluruh wilayah kota tanpa blank spot. Sekolah ini bahkan dilengkapi sistem pendukung seperti email resmi, perpustakaan digital, hingga pengaturan screen time yang disiplin.

Berita Terkait :  Bawaslu Sampang Kaji Potensi Terjadinya PSU

Menariknya, pendidikan di SRT 7 tidak berhenti pada aspek akademik. Siswa juga dibekali keterampilan praktis, mulai dari desain grafis, bahasa asing, hingga kewirausahaan. Produk seperti tas dan kopi rempah menjadi bukti nyata bagaimana proses belajar dikaitkan langsung dengan dunia kerja.

Pendekatan ini diperluas hingga ke keluarga siswa. Orang tua turut dilibatkan dalam pelatihan keterampilan seperti laundry dan pengolahan makanan. Dengan demikian, upaya keluar dari kemiskinan tidak hanya menunggu anak lulus sekolah, tetapi berjalan bersamaan melalui penguatan ekonomi keluarga.

Bagi Farida, inilah esensi Sekolah Rakyat: solusi yang tidak setengah-setengah. Ia meyakini bahwa ketika pendidikan, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi berjalan beriringan, akselerasi perubahan akan jauh lebih cepat.

“Kalau hanya anaknya saja yang dididik, mungkin butuh 10 sampai 15 tahun. Tapi kalau keluarganya juga diberdayakan, hasilnya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Di akhir kunjungan, para jurnalis tidak hanya membawa catatan, tetapi juga cerita. Tentang anak-anak yang dulu kesulitan membaca, kini mulai berani berbicara dalam bahasa asing. Tentang keterbatasan yang perlahan berubah menjadi peluang. Dan tentang sebuah sekolah yang mencoba memutus rantai kemiskinan, satu langkah kecil dalam waktu yang terus berjalan. [fir.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!