Sejumlah siswa jurusan TSM SMKN 1 Kendit, Kabupaten Situbondo, menunjukkan motor warga usai dibantu service gratis, Jumat (17/4). sawawi/bhirawa
Situbondo, Bhirawa
SMKN 1 Kendit, Kabupaten Situbondo, terus berbenah dengan melaunching sebuah inovasi program unggulan baru bernama
OKEDES (Optimalisasi Kompetensi Siswa ke Desa). Hal ini disampaikan Kepala SMKN 1 Kendit, Susiana SP, Jumat (17/4).
Kata Susiana, inovasi OKEDES merupakan inisiatif luar biasa yang menjembatani dunia pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata masyarakat Kota Santri, Situbondo. “Bagi jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM), program ini bukan sekadar simulasi bengkel, melainkan pembuktian mental dan keahlian di lapangan,” aku mantan Kepala SMKN 1 Situbondo itu.
​
Susiana mengkisahkan ikhwal munculnya inovasi OKEDES. Kala itu ada jejak oli di pelataran warga Desa Kendit. ​Pagi itu, udara pedesaan yang segar bercampur dengan aroma khas pelumas dan deru halus mesin motor. Melihat kondisi itu, urai Susi-sapaan akrab Susiana, di bawah panji OKEDES, sejumlah siswa berseragam praktik lengkap dengan tas peralatan (tool kit) di pundak, tidak menuju bengkel sekolah, melainkan bergerak menyusuri gang-gang sempit menuju rumah warga.
“Pertama, sederet siswa ingin menjemput bola, menebar manfaat. Ini berbeda dengan servis rutin di bengkel resmi, para siswa ini melakukan aksi service door-to-door. Mereka mendatangi rumah-rumah warga yang memiliki kendala pada kendaraannya satu persatu. Mungkin mereka tidak sempat atau belum memiliki biaya untuk pergi ke pusat kota, untuk service kendaraannya,” ulas Susi.
Yang unik, ungkap Susi, kedatangan para siswa itu disambut sapaan ramah dan senyum saat mengawali awak pertemuan. “Permisi Pak, kami dari tim OKEDES SMKN 1 Kendit. Ijin untuk melakukan pengecekan motornya,” ulas Susi menirukan pengakuan siswa yang menjadi kalimat pembuka saat membangun kepercayaan antara siswa dan masyarakat setempat.
​Kedua, sambung Susi, siswa mendirikan bengkel dadakan di teras rumah warga atau halaman di bawah pohon rindang. Bisa ditebak, terang Susi, dengan seketika halaman berubah menjadi area kerja profesional. Dengan cekatan, para siswa mulai melakukan prosedur standar seperti
​tune-up (membersihkan filter udara) dan menyetel karburator atau injeksi.
“Selain itu juga melakukan
​pengecekan rem, memastikan keamanan berkendara warga terjaga. Lalu, mengganti
​oli dan memastikan jantung mesin tetap terlumasi dengan baik. Terakhir, melakukan pembersihan CVT. Ini khusus untuk motor matic yang mendominasi kendaraan warga desa,” tutur mantan Kepala SMKN 1 Sempol, Bondowoso itu.
Langkah ketiga, sebut Susi, memberikan edukasi di sela putaran kunci pas. Pada sesi ini, aku Susi, tangan siswa penuh dengan lumuran oli. Lalu, tambahnya, para siswa juga ikut memberikan edukasi ringan kepada pemilik motor tentang pentingnya perawatan berkala.
“Nah, interaksi ini melatih soft skills mereka menjadi sesuatu yang sulit didapatkan di dalam kelas. Mereka belajar menjelaskan teknis mesin yang rumit dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh warga kendit,” sambung mantan PLT Kepala SMKN 4 Bondowoso itu.
​Lalu ada unsur keempat dari inovasi OPEDES, tukas Susi, yakni ujian mental dan keahlian
​dilapangan yang merupakan tantangan rutin. Pasalnya, sebut Susi, kadang ada baut yang berkarat karena usia motor atau ada kendala alat yang terbatas.
“Di sinilah kreativitas dan problem solving siswa diuji. Mereka terus belajar bahwa menjadi mekanik bukan hanya soal mengikuti buku panduan, tetapi soal dedikasi untuk memberikan solusi bagi masalah masyarakat,” papar Susi seraya mengakui deretan motor warga kini terdengar lebih halus dan rona wajah warga terlihat semringah.
Susi mengaku optimis, ​melalui inovasi OKEDES, siswa TSM tidak hanya pulang membawa pengalaman teknis, tetapi juga bisa membawa nilai kemanusiaan. “Ya, mereka bisa membuktikan bahwa kompetensi yang mereka pelajari di sekolah adalah cahaya kecil yang mampu menerangi dan membantu kehidupan di desa. Siswa kami hebat, desa terus berdaya,” pungkas mantan PLT Kepala SMKN 1 Suboh, Situbondo itu. awi.wwn


