Kota Kediri, Bhirawa
Pertumbuhan ekonomi Kota Kediri pada awal 2026 tercatat belum sekuat daerah lain di wilayah kerja Bank Indonesia Kediri. Kondisi ini menjadi perhatian dalam forum Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kediri, Deasi Surya Andarina, mengungkapkan hal tersebut dalam forum Harmoni (Hadir untuk Membangun Kolaborasi, Edukasi, dan Sinergi) yang digelar di Tempat Bercakap Kopi, Selasa (14/4).
Berdasarkan data terbaru, Kabupaten Pacitan menempati peringkat pertama pertumbuhan ekonomi, diikuti Kabupaten Tulungagung, Kota Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Trenggalek. Kota Blitar, Kabupaten Nganjuk, dan Kabupaten Kediri berada di bawahnya, sementara Kota Kediri menempati posisi terakhir.
Kinerja ekonomi Kota Kediri yang relatif tertinggal dipengaruhi oleh melemahnya sektor industri. Berbeda dengan wilayah kabupaten yang masih memiliki ruang pertumbuhan dari sektor primer, terutama pertanian.
Untuk Kabupaten Kediri, pertumbuhan ekonomi justru banyak ditopang sektor pertanian. Luas wilayah dengan dominasi lahan sawah dan ladang menjadi faktor utama penggerak ekonomi masyarakat.
“Kalau Kabupaten Kediri itu karena wilayahnya luas, sektor pertanian masih menjadi pendorong utama. Banyak komoditas pertanian yang menopang ekonomi di sana,” ujar Deasi.
Sementara itu, Kota Kediri dinilai perlu mencari sumber pertumbuhan baru. Dengan keterbatasan wilayah yang hanya mencakup tiga kecamatan, ekspansi sektor pertanian maupun industri dinilai tidak memungkinkan.
Sebagai alternatif, penguatan ekonomi kreatif atau crowd economy bisa didorong sebagai strategi. Konsep ini menitikberatkan pada pergerakan ekonomi berbasis keramaian dan aktivitas masyarakat. “Kalau kota, harus mendorong ekonomi kreatif. Misalnya lewat event, kegiatan meeting, incentive, conference, exhibition, serta sektor seni, budaya, film, dan musik,” jelasnya.
Menurutnya, kekuatan ekonomi kolektif masyarakat dapat menjadi penggerak signifikan. Meski secara individu nilai belanja relatif kecil, jika dilakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak besar. “Misalnya ada 200 orang datang ke Kota Kediri dan masing-masing belanja Rp50 ribu, itu sudah bisa menggerakkan ekonomi lokal,” imbuhnya.
Ia menegaskan, pendekatan berbasis aktivitas masyarakat tersebut dinilai lebih realistis untuk Kota Kediri dibandingkan harus menarik investasi besar atau membuka sektor baru yang membutuhkan lahan luas.[van.nov.ca]


