25 C
Sidoarjo
Monday, March 16, 2026
spot_img

Melampaui Ketupat, Merawat Kemenangan Jiwa

Alhamdulillah, 1 Syawal 1447 H (2026) akan kembali menyapa umat Muslim dengan penuh keberkahan. Setelah sebulan penuh menempa diri dalam madrasah Ramadhan-menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu-Idul Fitri hadir bukan sekadar sebagai penanda berakhirnya puasa. Lebih dari itu, hari kemenangan ini adalah momen refleksi mendalam, sebuah titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik (Fitrah). Namun, di tengah gemerlap tradisi lebaran-baju baru, hidangan lezat, dan mudik-seringkali pesan moral sejati Idul Fitri terpinggirkan oleh euforia semata.

Pesan moral pertama yang paling krusial adalah Ketulusan Memaafkan. Idul Fitri adalah momentum untuk melepaskan beban batin. Minal Aidin wal Faizin, yang sering dimaknai sebagai “mohon maaf lahir dan batin”, sejatinya adalah ajakan untuk membersihkan hati dari dendam, iri, dan dengki. Di era digital saat ini, di mana maaf seringkali hanya dikirimkan melalui templat pesan singkat atau status media sosial, ketulusan menjadi barang mahal. Pesan moralnya jelas: teknologi hanyalah alat.

Kedua, Silaturahmi dan Persaudaraan. Lebaran adalah ajang reunifikasi, baik keluarga maupun kerabat yang sempat terputus jarak. Pesan moral di sini adalah menghidupkan kembali empati. Dalam kebersamaan lebaran, kita diajak untuk melihat kembali kondisi sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Kemenangan sejati tidak akan terasa lengkap jika kita tidak berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Solidaritas sosial yang terpupuk selama Ramadhan melalui zakat, infak, dan sedekah, harus dipertahankan. Idul Fitri mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati didapat dengan memberi, bukan sekadar menerima.

Berita Terkait :  Kesetaraan Gender Ojek Online Perempuan di Surabaya

Ketiga, Menjaga “Fitrah” (Kesucian Diri). Tantangan sesungguhnya dari Idul Fitri adalah kehidupan pasca-Ramadhan. Apakah kita bisa tetap disiplin, jujur, dan sabar seperti saat berpuasa? Pesan moralnya adalah bahwa Idul Fitri bukanlah garis finis, melainkan garis start baru. Kita diharapkan pulang ke “diri terbaik” (pulang ke fitrah), di mana emosi lebih terkontrol, perkataan lebih terjaga, dan tindakan lebih mendatangkan maslahat bagi lingkungan sekitar.

Maya Anggraini
Warga Dupakjaya, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!