DPRD Kabupaten Pasuruan, Bhirawa
Gelombang solidaritas terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, terus meluas hingga ke daerah. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (BEM PTAS) se-Pasuruan Raya menyatakan sikap keras atas insiden penyiraman air keras yang menimpa aktivis kemanusiaan ini.
Mereka menilai, serangan ini bukan kriminalitas biasa, melainkan teror terencana terhadap demokrasi. Koordinator Aliansi BEM PTAS Raya, M Ubaidillah Abdi, tidak bisa menyembunyikan kegeramannya. Menurutnya,, apa yang dialami Andrie adalah sinyal bahaya bagi siapa pun yang kritis terhadap kebijakan negara.
”Ini yang tindakan biadab. Kami sangat mengecam sekeras-kerasnya. Serangan ini adalah bentuk pembungkaman sistematis. Negara tidak boleh kalah oleh premanisme politik,” tegas Ubaidillah, Minggu (15/3).
Ubaidillah memberikan peringatan keras (warning) kepada aparat kepolisian. Bila penanganan kasus itu berjalan di tempat, maka ia memastikan eskalasi gerakan mahasiswa di daerah akan meledak.
”Jika aktivis sekaliber KontraS saja bisa diteror di jantung ibu kota tanpa perlindungan, bagaimana nasib rakyat biasa. Kami siap mengonsolidasikan massa dan turun ke jalan jika Polri hanya menangkap pelaku lapangan tanpa menyentuh aktor intelektualnya,” ucap Ubaidillah.
Terdapat tida tiga poin tuntutan yang dilayangkan BEM PTAS Raya, yakni usut tuntas atau seret eksekutor dan dalang intelektual ke meja hijau. Lalu, jaminan Keamanan atau negara wajib melindungi pembela HAM dan aktivis. Lalu, solidaritas nasional yang intinya mengajak seluruh elemen masyarakat sipil merapatkan barisan melawan represi.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku yang terekam sempat melawan arus saat beraksi. Di sisi lain, doa dan dukungan untuk kesembuhan Andrie Yunus terus mengalir dari berbagai pelosok negeri.
Berdasarkan data yang dihimpun, petaka itu terjadi pada Kamis (12/3) sekitar pukul 23.37. Lokasinya di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat yang tak jauh dari pusat kekuasaan. Sesaat sebelum kejadian, Andrie baru saja meninggalkan Gedung YLBHI setelah mengisi siniar (podcast) bertema sensitif, yaitu Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI.
Saat memacu motornya, dua pria misterius yang berboncengan motor tiba-tiba muncul melawan arus. Tanpa basa-basi, pelaku memepet motor Andrie dan menyiramkan cairan korosif ke arah tubuh korban.
Cairan tersebut seketika melelehkan pakaian dan membakar kulit korban. Andrie sempat ambruk dan berteriak kesakitan di tengah jalan sebelum akhirnya dilarikan ke RSCM.
Kini, ia harus berjuang melawan luka bakar hingga 24% di area wajah, dada dan tangan serta terancam kehilangan penglihatan sehingga membutuhkan operasi cangkok jaringan mata. [hil.fen]


