Nganjuk, Bhirawa
Langit sore menggantung pucat di atas hamparan hijau yang nyaris tak terputus. Di Pandean, Kecamatan Gondang, barisan bawang merah berdiri rapi seperti pasukan yang disiplin. Di sela-selanya, pipa-pipa sprinkler menjulang pendek,sunyi, tapi menentukan. Karena secara berkala sprinkler tersebut berputar memancarkan air di sekelilingnya. Air tak lagi diguyur manual dengan ember dan tenaga punggung; ia disemprotkan presisi, terukur dan efisien.
Tidak hanya air terkadang insektisikda atau pupuk cair juga dipancarkan melalui pipa-pipa springkler tersebut ke 2 hektar lahan sawah yang ada di desa Pandean, Kecamatan Gondang, Nganjuk. Adalah Puji Santoso yang mempunyai lahan sawah tersebut, seorang petani bawang merah desa Pandean.
“Dengan pemakaian springkler bertani menjadi lebih mudah dan efisien, bahkan sekarang untuk menyalakan pompa air dan lampu di sawah sudah bisa diremote dengan HP,” Ujarnya saat di temui di toko pertaniannya, Kamis (12/02/2025).
Bagi warga desa Pandean sosok Puji Santoso sendiri selain sebagai petani, ia juga perangkat (Kamituwo) di desa tersebut sehingga akrab dengan warganya termasuk kalangan pemuda. Bahkan di depan pintu masuk hamparan sawahnya terdapat bangunan joglo, selain rumah pompa.
Joglo bantuan BRI unit Gondang tersebut banyak di gunakan untuk berkumpul tidak hanya bagi warga sekitar, banyak petani-petani bawang merah baik dari Nganjuk atau petani bawang merah luar Nganjuk.
Bahkan banyak mahasiswa pertanian yang melakukan kerja praktek lapang di tempat Puji Santoso, termasuk dari Universitas Jember menjadikan tempat tersebut ramai di kalangan pemuda setempat.
Sejak areal persawahan desa pandean berubah dari ladang tebu menjadi sawah baik padi atau bawang merah taraf hidup masyarakat desa Pandean mulai naik. Pemuda-pemuda desa Pandean lebih memilih bertani, menjadi petani.
Kendati di pintu masuk desa Pandean tersebut terdapat beberapa pabrik yang menyerap ratusan anak-anak muda sebagai tenaga kerja, sebagian pemuda justru memilih berkubang dengan lumpur dan air. Bukan karena tak ada pilihan. Tetapi karena pertanian di sini telah berubah wajah.
Pertanian bawang merah di Pandean tak lagi sekadar warisan turun-temurun. Sistem pengairan sudah mengadopsi sprinkler, meminimalkan pemborosan air dan menjaga kelembapan tanah tetap stabil. Penyemprotan pestisida dan nutrisi dilakukan lebih terjadwal, lebih ilmiah. Serangan hama tidak lagi dilawan dengan kira-kira, melainkan dengan dosis dan interval yang dihitung.
Hasilnya bukan hanya tanaman yang seragam. Tapi juga pola pikir yang naik kelas.
“Bertani sekarang itu manajemen,” ujar Huda, seorang pemuda setempat. Ia menyebut biaya produksi, harga benih, ongkos tenaga kerja, hingga fluktuasi pasar dengan lancar, bahasa yang dulu identik dengan rapat kantor, kini fasih di pematang sawah.
Di atas kertas, bekerja di pabrik menawarkan kepastian: gaji bulanan, jam kerja tetap, dan minim risiko pasar. Namun di lapangan, satu musim panen bawang merah yang berhasil bisa melampaui akumulasi upah beberapa bulan kerja pabrik. Memang ada risiko cuaca, harga anjlok, serangan hama. Tetapi ada pula potensi lonjakan.
Pemuda Pandean tampaknya tidak alergi pada risiko. Mereka justru tertarik pada ruang tumbuh.
Dengan dukungan pelatihan seperti di P4S dan jejaring pemasaran yang semakin terbuka, bertani bukan lagi pilihan “tak punya opsi.” Ia menjadi pilihan sadar. Bahkan, dalam beberapa kasus, pilihan bertani yang lebih menjanjikan.
Modernisasi ini memberi kebanggaan baru. Sawah bukan simbol keterbelakangan, melainkan laboratorium terbuka. Teknologi pengairan, pola tanam terukur, hingga strategi pengobatan tanaman dengan sistem semprot (sprinkler dan power sprayer) menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda yang ingin bekerja dengan hasil nyata, bukan sekadar absen sidik jari.
Desa Pandean sedang memberi pesan halus namun tegas: industrialisasi tidak selalu menelan pertanian. Di sini, keduanya berdampingan. Tetapi anak-anak mudanya memilih tetap berpijak di tanah sendiri mengolah tanahnya menjadi emas.
Pertanyaannya kini bukan lagi “mengapa mereka bertani?”
Melainkan: apakah kebijakan daerah cukup sigap membaca momentum ini?
Sebab jika infrastruktur air, akses pupuk, stabilitas harga, dan perlindungan pasar diperkuat, Pandean bisa menjadi model bahwa pertanian modern bukan cerita masa lalu, melainkan strategi masa depan.
Dan di antara kabut sore yang turun perlahan, sprinkler itu terus berputar. Sunyi. Konsisten. Seperti keyakinan para pemuda Pandean yang memilih ladang sebagai panggung hidupnya.
“Sejak pertanian modern saya terapkan, anak saya sekarang sudah mau ke sawah,”kata Puji [end]


