Kota Probolinggo, Bhirawa
Pemerintah Kota Probolinggo melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) menggelar dialog interaktif bersama Forkopimda dan para pendidik guna membahas bahaya radikalisme di kalangan remaja. Kegiatan berlangsung di Puri Manggala Bhakti Kantor Wali Kota Probolinggo, Rabu (11/3).
Dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri. Kegiatan ini diikuti kepala sekolah, guru bimbingan konseling jenjang SMP, SMA dan sederajat, perwakilan pondok pesantren serta unsur Forkopimda.
Kepala Bakesbangpol Kota Probolinggo, M Sonhadji mengatakan, radikalisme tidak hanya menyasar kelompok tertentu, tetapi juga mulai menyentuh kalangan pelajar. Karena itu, kewaspadaan seluruh pihak perlu ditingkatkan.
“Radikalisme bisa masuk ke berbagai kalangan, termasuk pelajar. Ini harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak kita tidak sampai terpapar paham tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Kanit Idensos Satgaswil Jawa Timur Densus 88, Kompol Dani Teguh Wibowo menjelaskan, penyebaran paham radikal kini banyak memanfaatkan media sosial dan permainan daring.
Ia mencontohkan kasus yang terjadi di sebuah sekolah di Jakarta, yang melibatkan pelajar yang terpapar paham radikal melalui aktivitas digital. Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat puluhan pelajar di Indonesia yang terindikasi terpapar paham serupa, termasuk di Jawa Timur. “Perekrutan kelompok radikal saat ini banyak dilakukan melalui media sosial dan game online. Pola ini terjadi hampir di seluruh dunia,” ungkapnya.
Menurutnya, faktor penggunaan telepon seluler tanpa pengawasan juga menjadi salah satu pemicu masuknya paham menyimpang kepada anak. Karena itu, peran orang tua, guru, dan pemerintah dinilai penting dalam mengawasi penggunaan gawai oleh anak.
Kompol Dani juga menyebutkan, pemerintah tengah menyiapkan regulasi terkait pembatasan akses media sosial bagi anak yang akan mulai diberlakukan pada akhir Maret 2026.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Probolinggo dr Aminuddin menegaskan pentingnya upaya pencegahan radikalisme sejak dini, terutama di kalangan remaja.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital, khususnya penggunaan telepon seluler, dapat mempengaruhi pola pikir anak apabila tidak disertai pengawasan yang baik. “Informasi digital melalui handphone sangat mudah diakses dan dapat memicu munculnya pengaruh negatif bagi remaja. Karena itu diperlukan peran guru, orang tua, dan lingkungan untuk memberikan pendampingan,” kata Aminuddin.
Ia berharap dialog tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan seluruh pihak sekaligus memperkuat upaya menjaga kondusivitas daerah, khususnya di Kota Probolinggo. [irf.wwn]


