32 C
Sidoarjo
Monday, October 5, 2026
spot_img

Antisipasi ISPA, Dinkes Jatim Imbau Masyarakat Jaga PHBS

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof Erwin Astha Triyono.

Surabaya, Bhirawa. – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mencatat peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sepanjang tahun 2026. Rata-rata kasus bulanan tahun ini jauh melampaui tahun lalu.

Berdasarkan update Program ISPA Jawa Timur per 29 September 2026, rata-rata kasus ISPA di Jatim pada 2026 mencapai 151.750 kasus per bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata bulanan tahun 2025 yang hanya sekitar 111.393 kasus per bulan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD-KPTI., FINASIM., M.A.R.S mengungkapkan puncaknya terjadi pada Agustus 2026, dengan jumlah laporan mencapai 212.914 kasus, menjadi angka bulanan tertinggi sepanjang periode Januari-September 2026.

Untuk itu, Kemenkes menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), etika batuk, ventilasi udara yang baik dan menjaga daya tahan tubuh.
Sementara itu, ada lima daerah dengan laporan kasus ISPA tertinggi periode Januari-September 2026 didominasi wilayah perkotaan dan penyangga yakni, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Lamongan, Kota Malang dan Kabupaten Malang.

Prof Erwin menjelaskan, ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau kuman lainnya. Gejala umumnya berupa demam akut, batuk, sakit tenggorokan dan pilek.

“Penularan terjadi melalui udara yang mengandung droplet dari batuk, bersin atau kontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi,” tandasnya.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah dan Masyarakat Jatim Gelar Salat Ghaib Korban Bencana Sumatera

Adapun peningkatan kasus ini dipengaruhi beberapa faktor lingkungan. Salah satunya adalah dampak musim kemarau dengan curah hujan rendah, sehingga proses pembersihan polutan di udara melalui rain washing menjadi berkurang.
Selain itu, kondisi udara yang panas dan relatif kering dapat mempengaruhi stabilitas aerosol serta pertahanan mukosa saluran napas, sehingga berpotensi meningkatkan transmisi virus penyebab ISPA.

Menurut Prof Erwin, sebagian besar ISPA yang disebabkan virus dapat sembuh dengan sendirinya atau self-limiting. Penanganan ditujukan untuk meredakan gejala seperti istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi, perbanyak minum, menjaga kebersihan diri, serta menghindari asap rokok.
Namun, kelompok berisiko seperti balita, lansia, dan penderita penyakit penyerta perlu mendapat perhatian medis lebih. ISPA akut umumnya berlangsung kurang dari 14 hari. Jika keluhan menetap atau memburuk, masyarakat diminta segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut. [riq.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!