Pemprov, Bhirawa – Taufiq Wahyu Triyanto telah mendedikasikan 17 tahun hidupnya sebagai pendamping Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di UPT RSBL Kediri. Perjalanan panjang pria berusia 37 tahun ini penuh dengan kisah suka, duka, hingga pengalaman berbahaya.
Salah satu peristiwa yang paling diingatnya adalah ketika jari kelingkingnya digigit oleh salah satu Penerima Manfaat (PM). Kejadian tersebut sangat membekas karena luka gigitan itu harus mendapat tujuh jahitan.
Tantangan Taufiq tidak hanya datang dari PM yang mengamuk atau berperilaku agresif di lingkungan panti. Ia juga pernah disukai oleh seorang PM perempuan yang salah mengartikan perhatian tulusnya sebagai rasa cinta.
Pengalaman emosional lainnya adalah saat ia harus mengantarkan PM yang meninggal dunia hingga ke liang kubur. Suasana pemakaman pada malam hari selalu memberikan rasa haru yang mendalam bagi dirinya.
Kisah pengabdian ini dimulai pada tahun 2009 saat Taufiq masih berstatus sebagai mahasiswa semester tiga. Awalnya, ia menerima tawaran pekerjaan ini tanpa mengetahui banyak hal tentang dunia orang dengan gangguan jiwa.
Pada masa-masa awal, ia bahkan harus tinggal di lingkungan panti dengan gaji berkisar Rp450 ribu saja. Namun, keterbatasan upah tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bertahan dan belajar memahami mereka.
Seiring berjalannya waktu, Taufiq mulai memahami karakter setiap PM yang sangat beragam dan dinamis. Ia menyadari bahwa kunci utama menjadi seorang pendamping yang baik adalah kesabaran yang tanpa batas.
Kebahagiaan terbesar bagi Taufiq adalah saat melihat PM binaannya perlahan pulih dan bisa kembali ke masyarakat. Beberapa di antara mereka bahkan sudah bisa bekerja dan hidup mandiri bersama keluarga.
Status kepegawaian Taufiq juga terus berkembang, mulai dari Tenaga Harian Lepas hingga kini menjadi PPPK Paruh Waktu. Pengabdian belasan tahun ini telah mengubah sudut pandangnya mengenai arti kemanusiaan yang sesungguhnya.
Kini, Taufiq berpesan agar masyarakat luas tidak lagi memberikan stigma negatif kepada para penderita ODGJ. Menurutnya, mereka semua tetap memiliki kesempatan yang sama untuk pulih dan berdaya di lingkungan sosial. [rac.gat]


