Surabaya, Bhirawa – Di era globalisasi saat ini, perjuangan membela negara tidak lagi terbatas pada kekuatan fisik di medan perang, melainkan tercermin melalui tindakan menjaga persatuan dan citra bangsa di dunia digital. Sadar akan pergeseran paradigma tersebut, sekelompok mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berupa seminar dan sosialisasi interaktif.
Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Generasi Digital yang Cerdas, Beretika, dan Cinta Tanah Air” ini dilaksanakan di lingkungan Kampus Untag Surabaya pada Jum’at, 22 Mei 2026.
Edukasi ini diinisiasi oleh empat mahasiswa Psikologi Untag Surabaya, yaitu Nadhifa Akilah Maezia, Anugerah Ayudia Pratista, Della Ramadhani, dan Delfita Nur Ramadhani, di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah Patriotisme, Wahyu Kuncoro, ST., M.Med.Kom.
Anggota kelompok kegiatan, Nadhifa Akilah Maezia, menyampaikan bahwa media sosial bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan, namun di sisi lain maraknya hoaks, perundungan siber (cyberbullying), dan radikalisme digital mengancam kohesi sosial bangsa.
“Setiap unggahan, komentar, dan konten yang dibagikan oleh generasi muda adalah representasi wajah bangsa di mata dunia. Oleh karena itu, internalisasi sikap bijak dalam bermedia sosial menjadi indikator penting patriotisme masa kini,” ujar Anugerah Ayudia Pratista dan Delfita Nur Ramadhani dalam sambutannya.
Kegiatan sosialisasi ini menyasar generasi muda usia produktif, mulai dari pelajar tingkat SMP, SMA, hingga mahasiswa yang dikenal sebagai pengguna aktif media sosial. Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya literasi digital, taktik menyaring informasi guna menghindari berita palsu (hoaks), serta etika berkomunikasi secara daring agar tidak terjerat kasus hukum pidana digital.
Selain pemaparan materi, acara dikemas secara interaktif melalui sesi diskusi, kampanye media sosial positif, hingga pembuatan poster edukasi bertema patriotisme digital. Untuk memantik antusiasme, penyelenggara juga membagikan reward bagi para peserta yang aktif selama sesi tanya jawab.
Melalui kegiatan ini Della Ramadhani selaku perwakilan tim mahasiswa, berharap para peserta tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga mampu menggunakan jempol mereka sebagai alat pemersatu bangsa, bukan pemecah belah.
“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, para generasi muda menjadi lebih kritis, mampu menjaga kesehatan mental dari paparan konten negatif, serta proaktif mentransformasi media sosial menjadi wadah inovasi dan promosi budaya bangsa yang positif,” pungkas Della. [why]


