24.5 C
Sidoarjo
Sunday, June 28, 2026
spot_img

Dari Dialog ke Aksi: Cara Omah Jaman Now Cetak Generasi Muda Tangguh


Surabaya, Bhirawa – Komunitas anak muda di Surabaya ini membuktikan bahwa perubahan dimulai dari percakapan yang jujur bukan dari seminar atau sertifikat.

Bayu, 21 tahun, mengaku sempat tidak tahu harus ke mana setelah lulus SMA. Ia punya mimpi, tapi tidak tahu cara meraihnya. Sampai ia bergabung dengan sebuah komunitas kecil di Surabaya yang ternyata mengubah banyak hal dalam hidupnya bukan dengan ceramah motivasi, melainkan dengan satu pertanyaan sederhana: “Apa yang benar-benar kamu mau?”

Komunitas itu bernama Omah Jaman Now (OJN). Didirikan oleh Evi Ratnasari, seorang praktisi komunikasi dan penggerak sosial, OJN hadir sebagai ruang tumbuh bagi anak muda yang ingin berkembang tapi butuh lebih dari sekadar pelatihan.

“Pemberdayaan bukan soal memberi jawaban. Ini soal membantu anak muda menemukan pertanyaan yang tepat untuk diri mereka sendiri.”

Bukan Seminar Biasa
Yang membedakan OJN dari komunitas kepemudaan lainnya adalah pendekatannya yang anti-ceramah. Alih-alih memenuhi peserta dengan materi dan slide presentasi, OJN justru membuka sesi dengan dialog percakapan dua arah yang mengajak anak muda untuk merefleksikan hidup mereka sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa tujuan hidupmu?” atau “Langkah apa yang sudah kamu ambil untuk mencapai impianmu?” bukanlah basa-basi. Pertanyaan-pertanyaan itu justru dirancang untuk memancing kesadaran kritis agar perubahan yang lahir berasal dari dalam diri, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Berita Terkait :  Lewat Lokakarya, Dinsos Jatim Perkuat Karang Werda

OJN memfokuskan diri pada empat pilar utama: community building, kepemimpinan, jejaring, dan pengembangan soft skill. Kombinasi keempat pilar ini membuat anak muda yang bergabung tidak hanya belajar keterampilan teknis, tapi juga belajar cara bergaul, memimpin, dan menciptakan peluang sendiri.

Kekuatan Cerita dan Koneksi
Salah satu senjata utama OJN adalah cerita. Bukan dongeng motivasi klise, melainkan kisah nyata dari orang-orang yang latar belakangnya dekat dengan keseharian peserta. Strategi ini ternyata efektif: peserta lebih mudah menemukan diri mereka dalam cerita orang lain, lalu terdorong untuk mengambil tindakan.

OJN juga percaya bahwa networking bukan sekadar bagi-bagi kartu nama. Jaringan yang dibangun di sini adalah relasi yang hidup sumber inspirasi, kolaborasi, bahkan akses ke peluang yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Hingga kini, OJN telah berkolaborasi dengan ratusan komunitas dan menjangkau berbagai wilayah di Jawa Timur.

Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan
Tentu saja, membangun komunitas pemuda bukan tanpa rintangan. Masalah terbesar yang dihadapi OJN dan komunitas serupa adalah konsistensi. Banyak anak muda datang dengan antusias di awal, tapi perlahan menghilang ketika rutinitas menghantam.

Di era media sosial, pola interaksi yang semakin individualistis juga menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi, tidak semua anak muda punya akses yang sama terhadap pendidikan, jaringan, dan sumber daya ekonomi. OJN berupaya menjawab tantangan ini dengan menciptakan lingkungan yang benar-benar inklusif tempat di mana semua orang merasa aman untuk bicara dan belajar tanpa rasa takut dihakimi.

Berita Terkait :  Apel Gelar Pasukan Angkutan Nataru 2025/2026, PT KAI Daop 7 Siap Layani Penumpang

Perubahan Dimulai dari Percakapan
Di tengah ramai-ramainya kelas online, bootcamp, dan sertifikat digital, OJN menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: ruang untuk jujur tentang diri sendiri. Sebuah percakapan yang serius tentang siapa kamu, ke mana kamu mau pergi, dan bagaimana kamu akan sampai di sana.

Bagi banyak anak muda yang pernah merasakan manfaatnya, pengalaman di OJN bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang. Ini adalah titik balik momen di mana mereka mulai percaya bahwa mereka mampu menciptakan perubahan, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar mereka. Dan mungkin, itulah makna sesungguhnya dari pemberdayaan. [why]

Artikel ini ditulis berdasarkan kajian komunikasi pembangunan oleh mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya,(Isnaini Salsabila A, Nabillatus Syarifah, Safa Claresta C, Raya Atiana Royyani, Adinda Febriyanti, Bunga Sherliana, Nadia Bilqis S.B, Windiana Putri, Ravelina Maylahfazha) di bawah bimbingan Dia Puspitasari, S.Sos, M.Si.

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!