Surabaya, Bhirawa
Konsensus langka terbentuk di kalangan pimpinan tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Para kiai sepuh Syuriyah PBNU melakukan sowan ke kediaman Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, pada Selasa malam Tanggal 5 Mei lalu, diikuti pertemuan strategis dengan Ketua Umum PBNU hari ini.
Langkah ini menandai percepatan persiapan Muktamar ke-35 NU, yang kini dipatok pada awal Agustus, sebagai upaya kuat menjaga dinamika kepemimpinan dan soliditas jam’iyah di tengah dinamika keorganisasian nasional.
Pertemuan malam itu menjadi ajang konsolidasi kiai sepuh, yang hadir termasuk KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, KH Aniq Muhammadun, KH Sadid Jauhari, KH Muhibbul Aman Aly, KH Tonthowi Jauhari Musaddad, KH Imam Buchori, dan lainnya.
Mereka menyuarakan dukungan bulat untuk mempercepat muktamar, memastikan proses ini tak hanya lancar tapi juga produktif bagi kemajuan NU.
“Pertemuan tadi malam adalah bagian dari musyawarah para kiai sepuh untuk memastikan bahwa muktamar berjalan dengan baik, lancar, dan membawa kemaslahatan bagi jam’iyah,” tutur KH. Ahmad Tajul Mafakhir, Katib PBNU dalam keterangan persnya, Rabu (6/5/2026).
Hari ini, Rais Aam memanggil Ketua Umum ke kantor PBNU untuk membahas detail teknis. Instruksi tegas diberikan agar semua persiapan rampung segera, memungkinkan muktamar berjalan mulus sebagai puncak khidmah organisasi.
“Rais Aam PBNU meminta agar persiapan teknis segera dituntaskan, sehingga pelaksanaan Muktamar ke-35 NU tidak mengalami hambatan,” tegasnya.
Puncaknya, Rais Aam mengusulkan jadwal pasti 1–5 Agustus 2026, yang langsung mendapat lampu hijau dari Ketua Umum—sinyal sinergi kuat antara otoritas spiritual dan eksekutif PBNU.
“Rais Aam mendorong agar Muktamar ke-35 NU dilaksanakan pada 1-5 Agustus 2026 mendatang dan disetujui oleh Ketum PBNU,” pungkas kiai Tajul.[aya.kt]


