Di sudut Kabupaten Bojonegoro, hamparan kebun pisang menjadi pemandangan yang biasa. Di balik itu, tersimpan persoalan yang jarang diperhatikan bonggol pisang yang menumpuk sebagai limbah tanpa nilai guna. Namun, di tangan dua pelajar di Bojonegoro, limbah itu berubah menjadi harapan baru di bidang kesehatan.
Oleh:
Achmad Basir, Kab Bojonegoro
Kedua pelajar tersebut adalah Alvin Putra Pratama dan M. Ridwan Firdaus, siswa SMP Negeri 1 Purwosari, yang melihat lebih dari sekadar sisa tanaman. Kegelisahan mereka berangkat dari realitas yang lebih besar tingginya angka penderita kanker dan mahalnya biaya pengobatan yang sulit dijangkau sebagian masyarakat.
“Penelitian ini kami lakukan karena kami melihat tingginya angka penderita kanker serta mahalnya biaya pengobatan modern,” tutur Alvin.
Ridwan menambahkan, melimpahnya bonggol pisang di lingkungan mereka menjadi alasan kuat untuk mencari alternatif pemanfaatan. “Selama ini hanya jadi limbah tanpa nilai,” katanya.
Berbekal rasa ingin tahu dan bimbingan guru, keduanya memulai penelitian sederhana di laboratorium sekolah. Mereka mengekstraksi bonggol pisang (Musa paradisiaca) menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol, untuk mengambil senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin.
Bagi Alvin dan Ridwan, proses ini bukan sekadar praktik ilmiah, tetapi juga perjalanan memahami bagaimana alam menyimpan potensi besar. Senyawa-senyawa tersebut dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas zat yang diyakini menjadi pemicu kerusakan sel dalam tubuh.
Untuk menguji potensi tersebut, mereka menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), sebuah teknik sederhana yang memanfaatkan larva udang Artemia salina. Dari uji itu, mereka mengamati bagaimana ekstrak bonggol pisang memengaruhi tingkat kelangsungan hidup larva.
“Semakin kecil nilai LC50, maka semakin besar potensi bahan itu sebagai kandidat agen antikanker,” jelas Alvin.
Tak berhenti di situ, mereka juga melakukan uji aktivitas antioksidan dengan larutan iodin. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak tersebut memiliki kemampuan menetralisir radikal bebas.
“Radikal bebas ini menjadi pemicu utama kerusakan DNA dan awal mula terbentuknya sel kanker,” ujar Ridwan.
Di balik penelitian ini, tersimpan pesan yang lebih luas tentang keberlanjutan. Bagi Ridwan, inovasi mereka bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga upaya mengurangi limbah. Pemanfaatan bonggol pisang menjadi bentuk upcycling, mengubah sesuatu yang tak bernilai menjadi produk yang bermanfaat.
“Ini memberikan dua manfaat sekaligus, solusi kesehatan dan pengurangan limbah pertanian,” katanya.
Guru pembimbing mereka, Tri Ismulyanto, melihat penelitian ini sebagai bukti bahwa potensi besar bisa lahir dari lingkungan sekitar.
Penelitian yang dilakukan sejak April hingga Agustus 2026 itu melibatkan berbagai pihak, mulai dari dinas pertanian hingga lembaga riset daerah.
“Karya ini menunjukkan bahwa generasi muda mampu menghadirkan solusi nyata dengan memanfaatkan potensi lokal,” ujarnya.
Meski masih berada pada tahap awal, langkah kecil Alvin dan Ridwan membawa harapan besar. Mereka membayangkan suatu hari nanti, bonggol pisang yang selama ini terbuang bisa menjadi bagian dari solusi kesehatan yang lebih terjangkau.
Bukan kali pertama mereka berinovasi. Sebelumnya, keduanya juga mengolah bonggol pisang dan biji turi menjadi camilan bernama badeco (banana de coco), kue kering yang membuka peluang ekonomi baru.
Di tengah tantangan global, kisah dua pelajar ini menjadi pengingat bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana dari apa yang selama ini dianggap tak berguna, menjadi sesuatu yang memberi harapan. [bas.gat]


