Oleh :
Mukhlis Mustofa
Dosen FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta Program Studi PGSD dan Konsultan Pendidikan Yayasan Pendidikan Jama’atul Ikhwan Surakarta
Tetap dilaksanakannya pembelajaran tatap muka setelah libur Panjang idhul fitri seperti diampaikan mendteri Pendidikan dasar dan menengah (Kompastv, 25 Maret 2026 ) menjawasb keresahan public tetang wacana pembelajaran dalam jaringan mengantisipasi efisensi energi beberapa hari terakhir. Proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM ) menjadi asa tersendiri ditengah euphoria penghematan energi implikasi konflik di timur tengah saat ini. Kelegaan berbalas kekhatariran tak pelak mengemuka Fenomena ini bukannya berkeinginan menyeret Kembali Pro kontra kelayakan sekolah segera melaksanakan PTM seiring belum berakhirnya potensi kelangkaan energi di negeri ini. Carut marut PTM ini berlangsung ata ditunda Kembali sedemikian menguras energi warga negeri ini seakan solusi tiada kunjung terealisasi.
Berpijak pengalaman pembelajaran daring Durasi pendemi selama dua than terakhir menjadikan PTM sebagai sesuau yang dirindu. Dirindukannya Pembelajaran Tatap muka dari segenap aspek terkait pendidikan tersebut, baik dari sisi Guru, Siswa berikut orang tuanya pada akhirnya berpotensi menuai beragam masalah. Gambaran keunggulan pembelajaran tatap muka seakan menunjukkan betapa sekolah telah menyihir segenap elemen publik. Carut marut dimulainya pembelajaran tatap muka di sekolah pada masa penghematan energi dituding berpotensi menimbulkan klister baru menjadi wacana menarik di negeri dalam beragam ranah.Fenomena ini nampaknya sudah diprediksi dengan Karya Best seller Roem topatimasang “Sekolah Itu Candu”medio 1998 berupa hakikat peserta didik terbius dengan sekolah sehingga melupakan fenomena sosial disekelilingnya.
Khalayak negeri ini nampaknya sedemikian akut sudah terjangkiti candu sekolah ini sehingga seluruh hakikat kualitas pendidikan berpusat pada sekolah. Merujuk definisi sekolah dalam pembukaan buku tersebut dinyatakan sekolah berasal dari etimologis yunani Skhole,Scola, Scolae atau Schola secara harafiah waktu luang atau waktu senggang terjemah waktu senggang untuk belajar.Konteksnya pada masa pendemi ini sekolah selayaknya tidak hadir secara formal namun hadir dalam segala tindakan keseharian.
Publik masih ternganga dengan penyelenggaraan sekolah selama ini dengan sederet formalitas dan mematikan kebebasan belajar sehingga manakala pendemi muncul permasalahan formalitas dibandingkan esensi sekolah. Pesona luar biasa sekolah tersebut sangatlah rapuh dan terasa sekali pada masa pendemi ini sehingga pada akhirnya khalayak serba kalang kabut menghadapi konteks kekinian. Hakikat pendidikan utama selayaknya diperankan orang tua dengan sepenuh hati mengajarkan dan menanamkan pengetahuan bagi sang buah hati. Namun hakikat suci terbantahkan dengan mekanisme pasrah bongkokan sehingga orang tua merasa “terpenjara” dengan penyikapaan kebijakan pendidikan di masa pendemi ini..
Pesona indah sekolah ini menjadikan arah penyelenggaraan pendidikan dibawa pada mekanisme seluruh waktu siswa untuk menghabiskan segenap waktunya di pendidikan formal. Bukannya membela membabi buta namun menuduh sekolah sebagai penyumbang pemborosan energi bukanlah tindakan serba bijak. Konteks sosiologis yang harus dikonstruksikan sebenarnya teramat jelas, Sekolah sebagai salah satu entitas budaya masyarakat selayaknya menjadi stimulus budaya kekinian bukan penggiringan opini kebenaran absolut. Perspektif cerdasnya sekolah bukanlah segala-galanya menentukan karakter bangsa sekaligus layak ditimpa segunung masalah. Persepsi inilah yang selayaknya harus diluruskan semua pihak sehinga kesetaraan peran mengemuka dibandingkan membawa diskursus pendidikan tak berkesudahan dan menjadikan sekolah sebagai sasaran tembak.
Mainstream pendidikan
Terbiusnya candu sekolah diawali dengan bagaimanakah persepsi layanan pendidikan selama ini. Mainstream pendidikan hingga saat ini masih simpang siur dan pola yang berlaku bersifat sedemikian bias. Parahnya konstruksi Publik selama ini berada di zona nyaman manakala menyikapi pendidikan terutama penyelenggaraan sekolah. Kontrol sosial pada sekolahpun lebih pada mekanisme balas dendam penyelenggaraan. Saya tidak mengajak dan memihak satu atau dua pendapat tersebut ataupun menstigmakan kondisi pendemi ini adalah “karma” bagi orang tua selama ini namun menguak sisi edukatif peristiwa tersebut.
Neil postman dalam the end of education menyoroti sekolah sedemikian jumud pada perkembangan sehingga kebaruan & pencerahan tidak kunjung tiba. Hal inilah yang terkadang dilupakan pihak terkait. Ortu menganggap sekolah bengkel, publik sangat berharap sekolah indah namun laku edukatif tidak diupayakan. Publik lebih rewel permasalahan bangunan sekolah mengganggu tampilan kenyamanan kampung, sementara ortu sangat nyinyir pada pembiayaan membumbung. Pertemuan ortu di sekolah sendiri diemohi karena dipersepsikan sekedar penarikan dana kegiatan.
Aktivasi edukasi
Persepsi ini sedemikian kuat terbuka mengingat pembelajaran di negeri ini tersandera pada gebyar pelaksanaan namun esensinya sangat jauh dari harapan. Permasalahan inilah yang selayaknya diselesaikan dengan proporsional tidak sekedar memaksakan salah satu pola persekolahan.Pelibatan aktif seluruh komponen pendukung pendidikan ini menjadi pekerjaan simultan seluruh kalangan. Pemaksaan salah satu komponen dalam pola pembelajaran justru menumpulkan nalar sosial pelaku pembelajarannya. Proporsionalitas peran kedua belah pihak ini untuk mencairkan hubungan agar menjadikan pembelajaran semakin konstruktif. Persepsi umum selama ini sebagian orang tua mempersepsikan bahwa sekolah satu-satunya poal pendidikan formal yang sangat menentukan. Pemikiran ini menjadikan mekanisme “pasrah bongkokan” pada lembaga sekolah teramat rentan untuk terus digunakan.
Persepsi ini sedemikian kuat terbuka mengingat pembelajaran di negeri ini tersandera pada gebyar pelaksanaan namun esensinya sangat jauh dari harapan. Permasalahan inilah yang selayaknya diselesaikan dengan proporsional tidak sekedar memaksakan salah satu pola persekolahan. Pelibatan aktif seluruh komponen pendukung pendidikan ini menjadi pekerjaan simultan seluruh kalangan. Proporsionalitas peran kedua belah pihak ini untuk mencairkan hubungan agar pembelajaran semakin konstruktif. Persepsi umum selama ini sebagian orang tua mempersepsikan bahwa sekolah satu-satunya pola pendidikan formal yang sangat menentukan. Pemikiran ini menjadikan mekanisme “pasrah bongkokan” pada sekolah teramat rentan untuk terus digunakan. Menyikapi pendemi ini penyikapannya haruslah konstruktif dengan mempertimbangkan berbagai kondisi penunjang pendidikan di lapangan. Upaya konkrit yang bisa dilakukan diantaranya
Koordinasi faktor pendukung pendidikan menjadi langkah utama bagi kerbelangsungan edukasi di sekolah pada masaefiseisnsi energi ini. Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian”Selain lebih efektif, pendekatan ini (pembelajaran tatap muka) juga penting untuk menjaga kualitas interaksi, termasuk kegiatan praktikum yang tidak dapat tergantikan,” kata Hetifah dikutip dari keterangan tertulis, (Kompas.com 27 Maret 2026)
pelaksanaan sekolah tatap muka ini tentunya memerlukan kenjasama proaktif semua lini suatu negeri dan teramat tidak tepat menimpakan sekolah semata. Selayaknya semua pihak menahan diri dan saliung mendukung agar hadirnya peran sekolah dalam pengembanagan pembelajaran bagi anak bangsa ini segera terpenuhi.
Tingkatkan Keberpihakan sekolah swasta, bukannya menganak emaskan satu layanan pendidikan dibandingkan layanan pendidikan lainnya namun ditengah pendemi ini sekolah swasta merupakan sekolah yang terdampak langsung dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Salah satu kebijakan lanjutan menyatakan dana BOS (Bantuan Operasional Siswa) diperbolehkan untuk pembelian kuota pendukung pembelajaran daring namun pemenuhan pensejahteraan guru belum tersentuh. Alangkah elegannya ada kebijakan berkaitan perut sang guru agar pembelajaran terus menderu. Keberpihakan berkaitan kebijakan penyelenggaran ini teramat dinantikan, hal ini bisa dilakukan dengan membuka keran kebijakan untuk kesejahteraan pendidikan, jika dimungkinkan dan tidak menyalahi ketentuan sebagian dana BOS bisa dimanfaatkan untuk menyelamatkan sang pamong.
Sekolah sebagai salah satu pola pembelajaran tidak serta merta menyelesaikan carut marut pendidikan di negeri ini tanpa ada kesadaran bersama untuk mengelola pendidikan dalam arah konstruktif. Proporsionalitas hubungan antara kedua belah pihak ini mutlak menjadi keniscayaan dalam pengelolaan lembaga pendidikan modern. Masa efisiensi energi selayaknya menjadi masa merefleksikan diri dalam menjalankan edukasi, Jika memilih sekolah sebab alasan idealisme baik agama atau jaminan mutu sekolah swasta tersebut, maka disaat ini idealisme itu diuji. Idealisme ini akan kukuh manakala kerjasama sinergis dikedepankan dibandingkan mencari keuntungan namun menindas pihak lain.
Peneguhan idealisme ini layaknya romatisme cinta tidak terhalang usia. Cinta butuh pengorbanan, maka saat efisiensi energi tiba tunjukkan semangat berkorban wahai sang pencinta.
———— *** ————-


