29 C
Sidoarjo
Wednesday, March 11, 2026
spot_img

PU SDA Jatim Percepat Respon Penanganan Banjir, Kontur Wilayah Jadi Penyebab Banjir Lamongan Sulit Surut

Surabaya, Bhirawa

Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi Jawa Timur terus mempercepat respon penanganan banjir di sejumlah wilayah. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak genangan yang kerap terjadi saat debit air meningkat.

Plt Kepala Dinas PU SDA Jatim, I Nyoman Gunadi, mengatakan percepatan respon dilakukan melalui peningkatan koordinasi tim lapangan serta pemanfaatan laporan masyarakat.

Menurutnya, laporan warga yang disampaikan melalui berbagai kanal, termasuk media sosial pimpinan daerah, kerap menjadi informasi awal bagi tim di lapangan untuk segera melakukan penanganan.

“Beberapa laporan banjir bahkan disampaikan warga melalui media sosial pimpinan daerah dan langsung kami tindak lanjuti. Dengan begitu respon tim di lapangan bisa lebih cepat,” ujarnya.

Nyoman mencontohkan salah satu laporan banjir di Lamongan yang disampaikan warga melalui pesan langsung di media sosial Wakil Gubernur Jawa Timur.Laporan tersebut kemudian segera ditindaklanjuti oleh tim di lapangan.

Selain memanfaatkan laporan masyarakat, Dinas PU SDA juga memperkuat koordinasi saat terjadi bencana banjir. Ia menyebut kunjungan langsung pimpinan daerah ke lokasi banjir turut mendorong percepatan penanganan di lapangan.

“Ketika ada laporan banjir, tim kami langsung turun. Prinsipnya respon harus cepat agar risiko banjir bisa ditekan,” jelasnya.

Ia menambahkan percepatan respon juga dilakukan melalui perbaikan infrastruktur darurat apabila terjadi kerusakan akibat banjir.

“Beberapa kejadian seperti jembatan putus akibat banjir bisa kita tangani dalam waktu dua sampai tiga hari, meskipun sifatnya masih perbaikan darurat,” katanya.

Berita Terkait :  Pangdam V/Brawijaya Berharap Gedung Ambassador Sport Bermanfaat bagi Masyarakat

Di sisi lain, Nyoman menjelaskan kondisi geografis menjadi salah satu penyebab banjir di wilayah Lamongan sulit surut.

Menurutnya, beberapa kawasan di wilayah tersebut memiliki kontur tanah yang lebih rendah sehingga air sulit keluar secara alami.

“Kondisi wilayahnya seperti mangkok. Posisi wilayahnya lebih rendah, sehingga kalau air sungai utama sedang tinggi, air dari kawasan tersebut tidak bisa keluar secara gravitasi,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, air yang menggenang harus dikeluarkan dengan bantuan pompa. Namun kemampuan pompa dan sistem drainase yang ada masih terbatas dibandingkan debit air yang datang.

Ia menyebut saat ini kemampuan pembuangan air hanya sekitar 10 meter kubik per detik, sedangkan debit air yang masuk dapat mencapai sekitar 150 meter kubik per detik.

“Ketika debit yang datang jauh lebih besar dari kemampuan pembuangan, air akan tertahan sehingga genangan bisa berlangsung cukup lama,” jelasnya.

Selain faktor geografis, operasional pompa air sebelumnya juga sempat terbatas karena adanya protes dari sebagian warga di sekitar lokasi yang tidak terdampak banjir.

“Selama ini pompa hanya bisa beroperasi sampai sekitar pukul 20.00. Namun sekarang kami mencoba memperpanjang hingga pukul 22.00 dan ternyata tidak menimbulkan masalah,” katanya.

Nyoman menambahkan pihaknya terus berupaya meningkatkan kapasitas penanganan banjir melalui berbagai langkah teknis agar genangan di wilayah Lamongan dapat lebih cepat surut. [fir.kt]

Berita Terkait :  Kadinsos Jatim Pastikan Siap Sekolah Rakyat Dibuka Juli 2025

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!