25 C
Sidoarjo
Thursday, March 12, 2026
spot_img

Kejar Pertumbuhan Ekonomi Nasional 8 Persen, Komisi VII DPR RI: Pemerintah Harus Kembalikan Otonomi Daerah

Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, dalam dialektika demokrasi “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Perse di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (12/3/2026).

DPR RI Jakarta. Bhirawa.
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan pentingnya penguatan sektor industri sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif. Ia menilai sektor industri memiliki peran strategis dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

Selain itu otonomi daerah (Otda) harus benar-benar dikembalikan ke daerah. Hal itu mengingat ekonomi itu harus dibangun dari hilir, yaitu dari daerah, dari kampung, desa sebagai penopang utama ekonomi nasional.

“Penguatan industri nasional harus dilakukan secara terintegrasi melalui kebijakan yang berpihak pada pengembangan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap pelaku usaha serta mengembalikan otonomi daerah untuk membangun ekonomi dari desa,” tegas Novita.

Hal itu disampaikan Novita dalam dialektika demokrasi “Strategi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen” kerjasama
Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Pemberitaan DPR RI dengan pembicara Anggota DPR RI Komisi VII DPR, Novita Hardini (FPDI-P), Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, dan Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Berita Terkait :  Kodim 0815/Mojokerto Gelar Apel Pagi dan Olahraga

Politisi Fraksi PDI-P itu menjelaskan bahwa sektor industri tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kebijakan industri berjalan konsisten, termasuk melalui dukungan regulasi, investasi, serta penguatan rantai pasok dalam negeri.

Sebagai anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi, riset, teknologi, serta perindustrian, Novita menilai kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset menjadi kunci untuk mendorong inovasi dan meningkatkan produktivitas industri nasional. Dengan sinergi tersebut, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki secara optimal.

Ia juga mendorong agar pengembangan industri nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan, pemerataan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Novita, langkah tersebut penting agar pertumbuhan industri dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.

Agro
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menegaskan pemerintah menempatkan sektor industri agro sebagai salah satu motor utama untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. Meski menghadapi tekanan global dan sejumlah kendala struktural, sektor ini masih menunjukkan kinerja kuat, baik dari sisi perdagangan, investasi, maupun penyerapan tenaga kerja.

Merrijantij mengatakan industri agro masih menjadi penopang utama sektor manufaktur nasional. Pada 2025, pertumbuhan industri agro tercatat sebesar 4,95 persen, sedikit menurun dibandingkan 5,20 persen pada 2024.

Berita Terkait :  Rayakan Idulfitri, WOM Finance Kabupaten Blitar Revitalisasi Rumah Ibadah

Menurut dia, perlambatan tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi global yang turut berdampak pada permintaan dan rantai pasok industri. Meski demikian, kinerja sektor ini tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Neraca perdagangan industri agro mencatat surplus 57,54 miliar dolar AS pada 2025. Angka tersebut bahkan melampaui surplus industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan yang mencapai 37,86 miliar dolar AS.

Industri agro memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap total industri pengolahan nonmigas. Dari sisi investasi, sektor ini juga menunjukkan daya tarik yang kuat. Sepanjang 2025, nilai investasi industri agro mencapai Rp191,73 triliun atau sekitar 35,84 persen dari total investasi di sektor industri pengolahan.

Investasi tersebut terdiri dari penanaman modal asing sebesar Rp91 triliun dan penanaman modal dalam negeri sekitar Rp100 triliun. Menurut Merrijantij, angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri agro Indonesia.

Selain menjadi penyumbang devisa, sektor ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Industri agro saat ini menyerap sekitar 10 juta pekerja secara langsung di berbagai subsektor.

Di sisi lain, kapasitas produksi industri agro masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Kemenperin mencatat tingkat utilisasi atau kapasitas terpasang sektor ini baru mencapai sekitar 57,28 persen. “Artinya masih ada peluang untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.

Wijayanto Samirin Ekonom Universitas Paramadina, menilai belajar dari pengalaman sebelumnya ditambah geopolitik yang tidak pasti, sulit bisa tumbuh 8%.

Berita Terkait :  Dibayar Uang Rakyat, Pegawai Kelurahan di Sidoarjo Harus Beri Layanan Prima

“Sejak 2025 hingga hari ini malah minus 5%. Jadi, sulit untuk bisa mencapai 8% tersebut. Sementara di APBN ditarget hanya 5,6%,” ungkapnya. (ira.hel).

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!