28.3 C
Sidoarjo
Sunday, July 5, 2026
spot_img

Jamasan Pusaka Tombak Kiai Upas Digelar di Pendopo Dalem Kanjengan Tulungagung

Masih Proses Sebagai Benda Cagar Budaya

Oleh:
Wiwieko Dh, Kab Tulungagung

Kirab atau arak-arakan pembawa air suci atau nawa tirta mengawali prosesi sakral jamasan (membersihkan/memandikan) Tombak Kanjeng Kiai Upas. Pusaka Tulungagung itu kembali dijamas di Pendopo Dalem Kanjengan, yang berlokasi di Kelurahan Kepatihan Kota Tulungagung, Jumat (3/7).

Kirab air suci yang berasal dari sembilan mata air di Kabupaten Tulungagung dan digunakan untuk menjamas Pusaka Tombak Kanjeng Kiai Upas masih menjadi tontonan menarik bagi sebagian warga. Apalagi bagi warga yang sengaja datang untuk ngalab berkah dengan mengambil air bekas jamasan.

Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, yang hadir bersama anggota Forkopimda Tulungagung, mengatakan PusakaTombak Kanjeng Kiai Upas merupakan ikon Tulunggagung dan ritual jamasannya selalu dilakukan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

“Ritual jamasan dengan upacara adat untuk merawat pusaka Tulungagung,” ujarnya.

Menurut dia, selain melestarikan budaya, jamasan Tombak Kanjeng Kiai Upas punya peran dalam perekonomian Tulungagung. Yakni dengan memberdayakan UMKM di sekitar lokasi jamasan.

“Pemkab Tulungagung akan terus mempromosikan kegiatan budaya ini supaya UMKM juga meningkat. Kami berharap dengan promosi semakin lama semakin dikenal,” paparnya.

Plt Bupati Baharudin membantah jika animo masyarakat dalam melihat jamasan Tombak Kanjeng Kiai Upas pada tahun ini menurun. Ia menyatakan acara jamasan tetap ramai. “Cuman panas saja,” imbuhnya.

Berita Terkait :  Jelang Pilkada, Lebih 18 ribu Pelanggan akan Gunakan Kereta Api

Soal Tombak Kanjeng Kiai Upas belum ditetapkan sebagai cagar budaya, mantan Wakil Ketua DPRD Tulungagung ini mengatakan masih dalam proses. “Masih proses. Tunggu informasi selanjutnya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Tulungagung, M Ardian Candra, membeberkan berkurangnya animo masyarakat berkunjung ke Pendopo Dalem Kanjengan disebabkan saat ini masih dalam masa liburan sekolah.

“Mungkin ini masih libur sekolah, jadi banyak pelajar dan keluarganya yang masih berlibur di luar kota,” ucapnya.

Ia berharap tahun depan, prosesi Jamasan Tombak Kanjeng Kiai Upas dapat kembali ramai dikunjungi warga. Salah satunya dengan melakukan promosi di awal tahun.

“Kami sudah berencana untuk melakukan promosi diawal tahun,” terangnya.

Jamasan atau siraman Pusaka Tombak Kanjeng Kiai Upas dilakukan oleh juru jamas yang ditunjuk. Hanya warga berjenis kelamin laki-laki yang bisa melihat prosesi jamasan bilah tombak pusaka tersebut. Bahkan sekali pun anggota Forkopimda Tulungagung tetapi berjenis kelamin perempuan dilarang melihat saat bilah tombak dijamas. Ini karena Tombak Kanjeng Kiai Upas perlambang sosok laki-laki.

Tombak Kanjeng Kiai Upas merupakan peninggalan masa Kerajaan Mataram Islam dan sudah ditetapkan sebagai pusaka daerah Tulungagung. Panjang Tombak Kanjeng Kiai Upas tersebut mencapai 3,25 meter.

Konon Pusaka Tombak Kiai Upas awalnya merupakan milik Ki Wonoboyo yang kemudian diwariskan kepada anaknya, Ki Ageng Mangir. Pusaka ini kemudian diserahkan kepada Adipati Ngrowo atau sekarang menjadi Kabupaten Tulungagung.

Berita Terkait :  Tiga Kali Masuk Kelas Akselerasi, Camaba Termuda UNAIR Lolos SNBP

Saat acara jamasan atau siraman Pusaka Tombak Kanjeng Kiai Upas banyak warga yang menunggu air bekas jamasannya dan sesaji. Mereka ngalap berkah atau meyakini air bekas jamasan dan sesaji tersebut sebagai air dan makanan berkah yang dapat memenuhi permintaan. [wed.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!