32 C
Sidoarjo
Wednesday, October 7, 2026
spot_img

Berawal dari Camilan untuk Diri Sendiri, Keisha Bawa Inovasi COCO SNOW Raih Gold Award International

Jakarta, Bhirawa – Gagasan besar terkadang lahir dari kebutuhan yang sangat sederhana. Hal inilah yang dialami Keisha Aqilla Rafanda. Inovasi dan kreasinya mengolah makanan yang bebas gula dan susu sukses mengantarkan Keisha di panggung kejuaraaan International.

Diceritakan siswa SDN Sawojajar 5 Kota Malang, ia memiliki kebutuhan untuk menghindari gula dan susu. Kondisi itu membuatnya harus lebih selektif memilih makanan ringan.

Karenanya, ia mulai mengembangkan camilan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, dan bisa dinikmati anak-anak lain dengan kebutuhan serupa, termasuk mereka yang mengalami intoleransi laktosa. Pilihan bahan bakunya jatuh pada kelapa.

Melalui karya bertajuk “COCO SNOW: Innovation of Vegan Coconut Snack Using Freeze-Drying Technology”, Keisha mengembangkan kelapa menjadi camilan tanpa tambahan gula. Rasa manisnya diperoleh secara alami dari air kelapa.

Pilihan tersebut juga dekat dengan kehidupan Keisha. Kelapa mudah ditemukan di berbagai wilayah Jawa Timur dan selama ini banyak diolah menjadi minuman maupun makanan ringan. Namun, Keisha mencoba melihatnya dari sudut berbeda. Ia ingin memberikan nilai tambah pada kelapa melalui inovasi teknologi.

“COCO SNOW dibuat menggunakan teknologi freeze-drying atau pengeringan beku. Bahan terlebih dahulu dibekukan, kemudian kandungan airnya dikeluarkan dalam kondisi vakum. Dengan metode tersebut, proses pengeringan dapat dilakukan dengan paparan panas yang sangat rendah,”jelas Keisha, Rabu (7/10/2026).

Teknologi inilah yang kemudian harus benar-benar dipahami Keisha ketika membawa COCO SNOW ke panggung The 13th Indonesia Inventors Day (IID) 2026 di Jakarta.

Berita Terkait :  Tingkatkan Awarnesse Ekosistem Halal, UB Sosialisasikan UB Halal Metric Award

Di hadapan para juri, Keisha tidak cukup hanya menunjukkan produk. Ia harus mampu menjelaskan proses pembuatan, teknologi yang digunakan, karakteristik produk, hingga peluang penerimaannya di pasar.

“Tantangannya semakin besar karena presentasi dilakukan dalam bahasa Inggris. Pertanyaan dari juri pun disampaikan dalam bahasa yang sama dan harus dijawab saya secara langsung,”tambah dia.

Di tengah sesi penjurian itu, muncul sebuah momen yang kemudian melekat dalam ingatannya. Setelah mendengarkan penjelasan serta jawaban Keisha, salah seorang juri spontan mengatakan, “Your parents must be proud of you.”

Kalimat singkat tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling diingat Keisha dari ajang internasional itu.

IID 2026 sendiri berlangsung pada 3–6 Oktober dan diikuti 543 tim dengan lebih dari 2.000 peserta dari 21 negara. Bagi Keisha, berada di antara peserta dari berbagai negara sekaligus harus mempertanggungjawabkan sendiri inovasi yang dibuatnya menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi seorang siswa sekolah dasar.

Namun, kejutan terbesar datang ketika penghargaan diumumkan. Saat kategori elementary dipanggil, nama Keisha tidak terdengar. Ia sempat mengira perjuangannya belum membuahkan penghargaan. Ternyata, namanya justru dipanggil pada kelompok peserta di atas kategori tersebut. Yakni Gold Award.

“Happy, kaget, dan terharu,” ujar Keisha menggambarkan perasaannya setelah mengetahui hasil tersebut.

Penghargaan itu diterima Keisha dalam acara awarding di SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Gold Award dari IID 2026 bukan pengalaman pertama Keisha menorehkan prestasi melalui inovasi pangan. Sebelumnya, pada 10–12 Februari 2026, ia juga meraih Gold Medal dalam ASEAN Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) di Universitas Diponegoro.

Berita Terkait :  Tekan Stunting, Pemkab Madiun Kampanye Gemarikan di Kebonsari

Dalam ajang tersebut, Keisha membawa inovasi bernama Smart Coklat, yakni cokelat vegan dengan tambahan omega-3 nabati dari ekstrak sancha ichi, serta vitamin dan mineral.

Dua pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan ketertarikan Keisha terhadap dunia inovasi dan usaha. Sejak kecil, ia sudah memiliki cita-cita menjadi seorang pebisnis.

Di balik eksperimen dan berbagai karya yang dibuatnya, ada dukungan orang tua yang turut menjadi bagian penting. Mereka menyediakan mesin yang dibutuhkan untuk pengembangan produk, mendampingi Keisha ketika memilih bahan baku kelapa, sekaligus memberikan ruang bagi anaknya untuk mencoba mewujudkan gagasan yang ada dalam imajinasinya.

“Membuat sebuah produk bukan sekadar mengejar penghargaan. Di dalam proses itu, saya belajar banyak hal tentang mengenali karakter bahan, mencoba teknologi, memahami kebutuhan calon pengguna, hingga belajar menjelaskan gagasannya kepada orang lain,”ucapnya.

Saat ini, Keisha masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, dari sebuah kebutuhan sederhana untuk menemukan camilan yang sesuai, ia telah belajar mengubah persoalan menjadi gagasan.

COCO SNOW menjadi salah satu hasil dari rasa ingin tahu. Sebuah inovasi yang bermula dari kebutuhan pribadi, hingga dipresentasikan di  panggung internasional dan pulang dengan sebuah Gold Award. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!