31.7 C
Sidoarjo
Monday, July 6, 2026
spot_img

Gempuran Budaya Asing Tak Kikiskan Tradisi Ruwatan, Wayang Kulit Tetap Lestari

Kab Malang, Bhirawa – Dengan derasnya arus budaya asing yang kian digandrungi oleh generasi muda sekarang, namun masih ada sebagian masyarakat Jawa Timur terbukti masih teguh menjaga warisan leluhur. Salah satunya terlihat dari masih eksisnya tradisi ruwatan yang digelar melalui pertunjukan wayang kulit sebagai simbol penyucian diri dan penolakan bala. Fenomena ini menunjukkan bahwa modernisasi dan tren global, seperti K-Pop hingga budaya populer Barat yang melekat pada Generasi Alpha dan era digital, tidak lantas mengikis nilai-nilai spiritualitas lokal yang telah mengakar selama berabad-abad.

Seperti yang digelar masyarakat Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, dalam rangka memperingati Bulan Suro Be 1960/Muharam 1967 Hijriyah, ruwatan bukan sekadar hiburan atau tontonan penutup tahun, melainkan ritus sakral. Dan ini adalah bentuk ikhtiar spiritual masyarakat untuk membersihkan diri dari kesialan (sukerta) sekaligus melestarikan filosofi Jawa. Dilanjutkan Pagelaran Wayang Kulit Gagrak Malangan dengan lakon Kunjarakarna Ruwat, pada Jumat  (10/7) malam, yang bertempat di Gedung Rakyat Tumpang, Desa Tumpang, Kabupaten Malang.

Dalam pagelaran wayang kulit akan dibawakan oleh Ki Soleh Adi Pramono, dalang ruwatan yang dikenal konsisten melestarikan tradisi wayang sebagai media pendidikan budaya dan spiritual masyarakat. Dengan bertahannya kesenian wayang kulit dalam ritual ruwatan ini juga tidak lepas dari kemampuan para pelestari budaya dalam beradaptasi. Hal ini demi menggaet minat generasi muda, sejumlah dalang masa kini mulai menyelipkan humor yang relevan, isu-isu sosial kontemporer, hingga kolaborasi musik modern tanpa menghilangkan pakem atau kesakralan ritual itu sendiri.

Berita Terkait :  Ribuan Masyarakat Antar Vinanda - Gus Qowim Daftar ke KPU Kota Kediri

Bagi masyarakat pendukungnya, kata salah satu Budayawan asal Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang Sumartono, Senin (6/7), kepada wartawan, menggelar wayang kulit dalam tradisi ruwatan adalah bentuk benteng pertahanan budaya (cultural identity). Dimana saat ruang digital didominasi oleh tren transnasional, kehadiran melodi gamelan dan ketukan cempala dalang justru menjadi pengingat akan pentingnya menjaga jati diri bangsa.

“Dengan melalui konsistensi masyarakat dalam merawat tradisi ini, ruwatan wayang kulit diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah, melainkan warisan hidup (living heritage) yang terus mengalir ke generasi-generasi berikutnya,” paparnya.

Dalam rangka memperingati Bulan Suro Be 1960/Muharam 1967 Hijriyah tersebut, lanjut dia, yang menjadikan pagelaran ini istimewa adalah pemilihan lakon yakni Kunjarakarna Ruwat, yang terinspirasi dari Relief Kunjarakarna di Candi Jago sebagai salah satu warisan budaya penting yang berada di Desa Tumpang. Relief tersebut mengisahkan perjalanan Kunjarakarna, sosok yaksa yang memiliki tekad kuat untuk memperbaiki diri, menempuh laku kebajikan, serta mencari jalan pembebasan dari penderitaan.

Dan kisah ini, jelas Sumartono, mengandung pesan tentang pertobatan, penyucian diri, welas asih, dan kemenangan nilai-nilai Kebajikan. Sehingga sangat relevan dimaknai dalam momentum Bulan Suro yang identik dengan refleksi, introspeksi, dan ruwatan kehidupan. Mengangkat lakon tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali narasi yang terpahat pada Relief Candi Jago agar dapat dipahami masyarakat melalui media budaya yang masih hidup, yakni wayang kulit.

Berita Terkait :  Menguatkan Perlindungan Arsip Pasca Aksi Massa

“Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya menjadi benda bersejarah, tetapi juga terus memberi makna bagi kehidupan masa kini,” pungkasnya. [cyn.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!