Penulis:
Dr. Muhammad Muhyi. S.Pd. M.Pd.
Binpres PSTI Jawa Timur, Dosen Prodi Pendidikan Jasmani Program Magister, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UAB).
Liga sepak takraw Indonesia (LSI) II di wilayah regional Jawa Timur telah selesai diselenggarakan mulai dari tanggal 1 sampai 4 Juli, dan ditutup pada 4 Juli 2026 di Gelora Pancasila. Liga tersebut sudah menunjukkan empat sukses yang menurut pendapat saya tepat selama saya mengamati di lapangan yakni pertama sukses penyelenggaraan meliputi waktu, aman, profesional, dan sportif serta fair play, serta dukungan sarana yang baik dan memadai. Kedua sukses prestasi, hasil kompetisi ada prestasi yang membanggakan, salah satunyaa adalah dari tim sepak takraw Jawa Timur, tim putra dan putri Sepak Takraw Jatim melangkah ke liga sepak takraw I Indonesia di Jakarta, sebuah keberhasilan dan kesuksesan yang sangat baik dan kita patut bersyukur atas raihan ini. Keberhasilan prestasi tersebut layak di apresaisi sebagai kerja keras, atlet, pelatih, dan pengurus PSTI Jawa Timur serta pihak yang terlibat dalam kompetisi. Sukses ketiga adalah pembinaan olahraga sepak takraw, muncul atlet muda, teridentifikasi kekurangan dan kelebihan tim dalam teknik bertanding di cabang olahraga sepak takraw, peta kebutuhan latihan dan keempat adalah suskes data, Setiap pertandingan menghasilkan data yang dapat dijadikan pijakan untuk program latihan lanjutan, seleksi dan identifikasi bakat.
Pada saat pertandingan di LSI II Jawa Timur ada tim yang kalah dan ada yang menang, kekalahan dan kemenangan tim yang berlaga di sepak takraw mulai banyak dibicarakan di tribun penonton dengan segala argumentasi dan perspektif masing-masing dan berakahir di tribun sampai keluar Gedung Gelora Pancasila kemudian selesai. Namun berakhirnya pertandingan dalam perspektif pembinaan prestasi (Binpres) sangatlah berbeda, dari papan skor digital yang ditunjukkan di lapangan adalah awal dari analisis yang sesungguhnya, mulai dari menganalisis performa, mengevaluasi data hasil pertandingan di lapangan dan merancang program selanjutnya untuk mencapai hasil performa yang lebih baik. Dalam konteks ini maka kompetisi yang berfungsi untuk bertanding, menentukan juara berubah sebagai laboratorium prestasi olahraga.
Kompetisi pada dasarnya bukan hanya menetapkan para juara, namun lebih dari itu, kompetisi adalah laboratorium untuk menguji kualitas latihan yang telah dilakukan berhasil atau tidak, menghasilkan data untuk bahan kajian peningkatan prestasi atlet, dan tidak kalah penting adalah untuk bahan valuasi sistem pembinaan yang sedang berjalan. Tim pemenang membawa tropi dan foto juara, sorak-sorai penonton mulai menghilang dan lengang, namun pembina prestasi (binpres) membawa catatan evaluasi dan memulai pekerjaan. Pertanyaan awal yang bisa diajukan, apa saja yang harus dievaluasi?, Mengapa atlet dengan latihan sama kerasnya namun menghasilkan prestasi yang berbeda?, Jawabannya tidak hanya pada latihan namun memanfaatkan kompetisi sebagai laboratorium untuk memperbaiki proses pembinaan menjadi lebih baik dan berkualitas. Jadi kompetisi disebut sebagai laboratorium yang digunakan untuk menguji, mengukur, membandingkan, menemukan dan memperbaiki. Disinilah kompetisi sebagai bahan pengalaman yang bermakna, karena Setiap pertandingan ada pengalaman autnetik yang tidak ada di latihan, pengalaman menjadi sumber utama dalam proses perbaikan atau Pembelajaran (Kolb, 1984).
Bagi sebagian orang kompetisi untuk menemukan para juara, bagi binpres papan skor bukan akhir catatan, justru catatan awal dari proses evaluasi. Kompetisi sebagai laboratorium olahraga dapat diawali dengan menganalisis kualitas latihan dari catatan manual maupun digital, statistik, karena di kompetisi tidak pernah berbohong ia menunjukkan apa yang tidak terlihat di ruang latihan atlet. Pertama adalah kualitas latihan, servis yang akurat, smes dengan kecepatan dan ketepatan yang baik, blok yang efektif, melalui kompetisi apakah latihan yang dilakukan selama ini benar-benar ada hasil atau tidak ? Kedua adalah ketepatan strategi, mulai dari pemilihan pemain, penerapaan taktik, pola permainan, melalui kompetisi apakah strategi sudah tepat atau tidak ? Ketiga adalah mental bertanding, atlet dapat memiiki teknik yang baik, itu akan bisa berdampak pada saat berada di bawah tekanan seperti tertinggal angka, sorakan penonton, kemampuan kontrol emosi, tetap fokus, pengampilan keputusan, melalui kompetisi menunjukkan apakah mental bertanding sudah kuat atau belum. Keempat adalah kuaitas sistem pembinaan, hasil pertandingan tidak hanya bicara kemenangan atlet, namun menunjukkan sejauh mana program latihan, pembinaan dan dukungan organisasi berjalan baik. Melalui kompetisi dapat melihat apa kelebihan dan kekurangan yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Peningkatan prestasi tidak hanya karena latihan tapi kualitas umpan baik yang diterima (Ericsson, 1993). Laboratorium prestasi adalah wadah untuk kumpulkan bukti, baca data untuk bahan membangun prestasi, menyusun strategi, dengan demikian Setiap kompetisi memberikan nilai yang sangat bermakna untuk meraih prestasi terbaik.
Akhir dari tulisan ini adalah torehan sejarah dengan tinta emas dibangun dari siapa saja yang belajar dari sebuah kompetisi. Medali memang simbol kemenangan namun data, evaluasi mampu memperbaiki lebih baik, dan itulah pondasi prestasi yang sebenarnya, dengan demikian kompetisi dapat dimaknai sebagai laboratorium prestasi.


