29.4 C
Sidoarjo
Wednesday, May 6, 2026
spot_img

Luncurkan Buku Saku, UC Kampus Inklusif


Surabaya, Bhirawa
Universitas Ciputra cetuskan langkah inovatif dalam membangun kampus yang inklusif. Yakni melalui peluncuran buku saku Pedoman Panduan Kelas Inklusif. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi dengan Kementerian Sosial RI, sekaligus penguatan platform digital internal CEDX (Ciputra Education Digital Experience) yang mulai diintegrasikan sebagai sistem pendukung pembelajaran inklusif.

Pedoman ini memuat sistem dan data yang telah dikumpulkan untuk mengoptimalkan layanan dan memberikan fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Inisiatif ini diperkenalkan dalam Workshop Disability Awareness: Membangun Kesadaran, Menciptakan Lingkungan Inklusif yang dengan menghadirkan Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI, Santi Utami Dewi, S.Pd., M.Si.

Dalam kesempatan tersebut, Santi menegaskan bahwa tantangan terbesar kampus dalam membangun inklusivitas bukan pada sumber daya, melainkan pada keberanian untuk memulai.

“Kesalahan terbesar kampus adalah tidak memulai untuk membangun kesadaran dan menciptakan lingkungan inklusif. Universitas Ciputra menunjukkan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, buku saku yang diluncurkan menjadi panduan praktis bagi dosen dalam memahami karakteristik dan kebutuhan mahasiswa disabilitas di ruang kelas. Namun, UC tidak berhenti pada pendekatan manual.

Ketua Satgas Disabilitas UC, Yehuda Abiel, S.Sos., M.A., menjelaskan UC mulai mengintegrasikan data mahasiswa disabilitas ke dalam sistem pembelajaran melalui platform CEDX.

“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness, tetapi masuk ke sistem. Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya, lengkap dengan panduan yang relevan, sehingga bisa lebih siap dalam merancang proses pembelajaran,” jelasnya.

Berita Terkait :  Dewan Pendidikan Dilantik, Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Ponorogo

Fitur yang diluncurkan pada 4 Mei ini memungkinkan dosen melihat tampilan khusus terkait mahasiswa disabilitas yang mengikuti mata kuliahnya. Informasi tersebut disertai guidebook yang membantu dosen memahami pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan mahasiswa.

“Ke depan, pengembangan akan diperluas melalui dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA) yang direncanakan mulai aktif pada September 2026, setelah O-Week (Orientasi Week),” jelas Yehuda.

Melalui fitur ini, kata dia, dosen PA dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal dan melakukan pendampingan yang lebih terarah, sekaligus berkoordinasi dengan admin support terkait kebutuhan pembelajaran.

“UC tetap menempatkan privasi mahasiswa sebagai prioritas utama. Untuk tahap awal, data belum dibuka secara luas kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah, mengingat masih diperlukan persetujuan tertulis dari mahasiswa. Skema ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem inklusif yang tetap menghormati aspek etika dan perlindungan data,”sebutnya.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan kampus inklusif tidak cukup hanya melalui fasilitas atau kebijakan, tetapi membutuhkan integrasi antara edukasi, sistem, dan budaya.

“Kami ingin membangun ekosistem yang benar-benar siap, bukan hanya ramah. Inklusivitas harus hadir dalam sistem, agar dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” pungkasnya.

Pendekatan ini menunjukkan arah baru yang diambil UC dalam membangun kampus inklusif yang tidak hanya empatik, tapi juga terstruktur dan didukung data dan sistem yang jelas. [ina.kt]

Berita Terkait :  Canangkan WBK dan WBBM, Kadindik Tekan Pakta Integritas

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!