26 C
Sidoarjo
Wednesday, April 22, 2026
spot_img

Makanan dan Identitas Migran: Hilang atau Berubah?

Oleh:
Ayu Artantya Balqis
Mahasiswi Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya

Di tengah arus globalisasi yang semakin pesat, perpindahan atau migrasi penduduk dari satu daerah ke daerah lain menjadi hal yang lumrah terjadi. Mahasiswa yang merantau, pekerja yang berpindah kota, hingga masyarakat yang menetap di negara lain bisa menjadi contoh tentang itu. Namun, ada satu hal yang seringkali luput dari perhatian yakni kemungkinan adanya perubahan kebiasaan makan yang dialami oleh orang yang bermigrasi ketika mereka sudah bermukim di tempat baru.

Makanan bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang melekat erat dalam kehidupan seseorang. Bagi seorang migran, makanan sering kali menjadi pengingat akan “rumah”. Rasa, aroma, dan cara pengolahan makanan tradisional mampu menghadirkan kembali kenangan masa lalu, serta memperkuat rasa keterikatan terhadap budaya asal. Tak heran jika banyak perantau yang tetap berusaha mencari makanan khas daerahnya, meskipun berada jauh dari tempat asal.

Namun, realitas di lingkungan baru tak selalu memungkinkan hal tersebut. Keterbatasan bahan makanan, perbedaan selera, serta tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar membuat migran perlahan mengubah pola makannya. Mereka mulai mencoba makanan lokal, mengombinasikan bahan yang tersedia, hingga akhirnya menjadikan makanan khas lokal sebagai bagian dari menu keseharian. Menurut penelitian dalam jurnal Appetite (2025), proses perubahan pola makan pada migran tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang cukup panjang dan dinamis. Migran tidak langsung meninggalkan makanan tradisionalnya, tetapi melakukan negosiasi antara mempertahankan budaya asal dan mengadopsi budaya baru. Artinya, perubahan pola makan bukanlah proses “hilang”, melainkan proses penyesuaian yang terus menerus berlangsung.

Berita Terkait :  Terima Perwakilan Serikat Kerja, Ketua DPR RI Pastikan RUU Ketenagakerjaan Hadirkan Perlindungan Adil Pekerja

Selain itu, faktor ekonomi juga turut memengaruhi perubahan pola makan pada migran. Harga bahan makanan tradisional yang cenderung lebih mahal atau sulit dijangkau di daerah baru membuat migran harus mencari alternatif yang lebih terjangkau. Kondisi ini mendorong mereka untuk mengonsumsi makanan lokal yang lebih mudah didapat, meskipun berbeda dengan kebiasaan sebelumnya. Dalam jangka panjang, pilihan yang awalnya bersifat praktis ini dapat berkembang menjadi kebiasaan baru yang membentuk pola makan sehari-hari.

Tidak hanya itu, pengaruh lingkungan sosial juga memainkan peran penting dalam membentuk kebiasaan makan migran. Interaksi dengan teman, rekan kerja, atau komunitas di lingkungan baru sering kali memperkenalkan jenis makanan baru yang sebelumnya tidak dikenal. Proses ini tidak jarang menimbulkan rasa penasaran sekaligus dorongan untuk beradaptasi agar dapat diterima dalam lingkungan sosial tersebut. Dengan demikian, perubahan pola makan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ketersediaan, tetapi juga oleh dinamika sosial yang membentuk cara seseorang berinteraksi dan menyesuaikan diri di tempat baru.

Di era digital saat ini, akses terhadap makanan tradisional sebenarnya semakin terbantu melalui perkembangan teknologi dan media sosial. Banyak migran yang kini dapat menemukan resep khas daerah asalnya dengan mudah, bahkan membeli bahan makanan secara daring atau melalui komunitas diaspora yang tersebar di berbagai wilayah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan pola makan, upaya untuk mempertahankan identitas kuliner tetap berlangsung dengan cara yang lebih modern. Teknologi menjadi jembatan yang menghubungkan migran dengan akar budayanya, sekaligus membuka peluang bagi terbentuknya identitas kuliner yang lebih adaptif dan dinamis.

Berita Terkait :  Selama Libur Lebaran, Pelayanan PAM Surya Sembada Siaga 24 Jam

Lebih jauh, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa makanan memiliki peran penting dalam menjaga identitas dan kesejahteraan psikologis migran. Konsumsi makanan tradisional dapat membantu mengurangi rasa rindu, memperkuat hubungan sosial, serta memberikan rasa nyaman di tengah lingkungan yang asing. Dengan kata lain, makanan bukan hanya tentang apa yang dimakan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mempertahankan jati dirinya.

Di sisi lain, penelitian yang sama juga menemukan bahwa migran sering kali berada dalam posisi “di antara dua budaya”. Mereka tidak sepenuhnya meninggalkan kebiasaan lama, tetapi juga tidak sepenuhnya mempertahankannya. Dalam kehidupan sehari-hari, makanan tradisional mungkin hanya hadir pada momen tertentu, seperti acara keluarga atau perayaan budaya. Sementara konsumsi utama berupa makanan lokal yang biasa dan mudah diperoleh. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas budaya tidak bersifat statis. Identitas terus berkembang mengikuti pengalaman dan lingkungan yang dihadapi seseorang. Dalam konteks migrasi, makanan menjadi ruang di mana proses perubahan dan keberlanjutan budaya terjadi secara bersamaan.

Namun demikian, perubahan ini tetap menimbulkan kekhawatiran, terutama pada generasi berikutnya. Anak-anak dari keluarga migran yang tumbuh di lingkungan baru cenderung lebih dekat dengan budaya lokal, termasuk dalam hal makanan. Jika tidak ada upaya untuk memperkenalkan dan mempertahankan makanan tradisional, maka bukan tidak mungkin identitas kuliner tersebut akan semakin memudar seiring waktu. Di sinilah pentingnya peran keluarga dan komunitas dalam menjaga keberlanjutan budaya. Memasak makanan tradisional di rumah, mengenalkan resep khas kepada generasi muda, hingga menghadirkan makanan dalam berbagai kegiatan sosial dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna dalam mempertahankan identitas budaya.

Berita Terkait :  Jembatan Brawijaya Siap Jadi Ikon Estetika Kota Kediri

Pada akhirnya, pertanyaan apakah migran kehilangan identitas melalui makanan tidak dapat dijawab secara hitam putih. Yang terjadi bukanlah kehilangan, melainkan perubahan. Makanan menjadi bukti bahwa identitas dapat beradaptasi tanpa harus sepenuhnya hilang. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah keberagaman, sudah seharusnya kita memandang fenomena ini sebagai bentuk kekayaan budaya, bukan ancaman. Perubahan pola makan pada migran bukan berarti menghapus identitas, tetapi justru menciptakan identitas baru yang lebih kompleks dan berwarna. Dengan demikian, makanan tidak hanya menjadi cerminan dari apa yang kita konsumsi, tetapi juga menjadi cerita tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana kita beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!