Apresiasi 30 Guru Honorer Jatim Kembangkan Produk Usaha hingga Jasa
Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur menggelar kegiatan Sharing and Gathering: Inspirasi dan Kolaborasi Usaha Guru Honorer di Van Der Man Coffee, Kota Malang. Kegiatan ini menjadi ajang berbagi pengalaman sekaligus apresiasi bagi guru honorer yang berhasil mengembangkan usaha mandiri melalui Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG).
Oleh:
Diana Rahmatus Sholichah, Kota Surabaya
Berdasarkan data Dindik Jatim, rata-rata pendapatan usaha guru honorer dalam PROTEG mencapai Rp10.488.066 untuk Kelas C, sebanyak Rp7.304.234 untuk kelas A dan kelas B sebanyak Rp6.893.050.
Melalui Program PROTEG, sebanyak 30 guru honorer tercatat berhasil menjalankan berbagai unit usaha yang kini berkembang secara berkelanjutan. Usaha tersebut meliputi bidang kuliner, percetakan, permainan anak-anak, tata busana, jasa pendidikan, hingga sektor kreatif lainnya.
Seluruh usaha yang dikembangkan juga telah dilengkapi legalitas, sehingga memiliki kepastian hukum dan peluang ekspansi ke depan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan PROTEG dalam mendorong kemandirian ekonomi guru honorer. Ia menilai program ini menjawab kebutuhan nyata guru honorer yang selama ini membutuhkan perhatian lebih dalam aspek kesejahteraan.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Kita melihat langsung guru-guru honorer yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” ujar Aries, Kamis (5/2).
Aries menambahkan, kolaborasi antara Dindik Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi faktor penting dalam keberhasilan program tersebut. Pendampingan kewirausahaan dinilai mampu meningkatkan kompetensi usaha sekaligus menjaga kualitas dan semangat mengajar para guru honorer.
“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar akan semakin kuat. Inilah pendidikan berdampak yang kita bangun bersama untuk masa depan Jawa Timur,” tambahnya.
Pada puncak kegiatan, Dindik Jatim memberikan apresiasi kepada 30 usaha guru honorer terbaik sebagai bentuk pengakuan atas ketekunan dan konsistensi mereka dalam membangun usaha produktif di tengah keterbatasan.
Salah satu penerima apresiasi adalah Aryo Saputro Panji Rianto, guru SMA Negeri 3 Malang sekaligus pemilik Coffee Mbah. Usahanya yang sempat berhenti total akibat pandemi 2019 kembali bangkit setelah mengikuti PROTEG pada 2025.
Saat ini, produk kopinya telah memasok ke 20 coffee shop di berbagai kota di Indonesia, serta mengembangkan usaha parfum daring dengan omzet mencapai Rp10 juta per minggu.
“Kegagalan bukan akhir, melainkan jeda untuk bangkit lebih kuat,” kata Aryo.
Selain berbentuk produk, PROTEG juga mengembangkan jasa guru untuk berwirausaha. Seperti yang dilakukan Farah, guru SMK 5 Taruna Kediri. Melalui PROTEG, ia memilih mengembangkan usaha bimbingan belajar (bimbel) yang berfokus pada minat dan potensi unik setiap siswa, Farah berhasil menciptakan model pendidikan tambahan yang sangat dibutuhkan.
Sejak bergabung dengan Proteg, kapasitas manajemen dan pengembangan usahanya meningkat pesat. Hasilnya nyata, kepercayaan orang tua siswa tumbuh secara signifikan hingga kini ia membimbing hampir 50 siswa dengan omzet bulanan mencapai Rp 6 juta.
Dedikasi Farah menjadi bukti nyata bagi para pendidik lainnya bahwa keahlian mengajar dapat dikonversi menjadi unit usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak sosial yang luas bagi masa depan generasi muda.
Sementara itu, Dosen Technopreneurship ITS sekaligus pendamping usaha PROTEG, M. Zainul Asrori, menegaskan bahwa perubahan pola pikir menjadi fondasi utama keberhasilan peserta program.
“Sebelum bekal teknis, yang ditanamkan adalah pola pikir bertumbuh. Ketika mindset berubah, kemampuan teknis akan mengikuti,” ujarnya.
Asrori juga bercerita hal yang paling mengesankan dari peserta PROTEG adalah ketulusan mereka sebagai pendidik. Ketulusan tersebut, katanya, kemudian dikembangkan dalam bentuk entrepreneur, baik berupa keahlian mengajar menjadi jasa bimbingan belajar, kedekatan dengan lingkungan sekolah menjadi peluang pasar, dan kepekaan sosial menjadi diferensiasi produk.
“Inilah kekuatan unik guru honorer sebagai pelaku usaha. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai dan dampak,”tambah dia.
Menurutnya, keberhasilan para peserta mulai usaha kuliner, kopi, jasa pendidikan, hingga produk kreatif bukanlah hasil instan. Itu adalah buah dari proses disiplin, konsistensi, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
“PROTEG membuktikan bahwa ketika guru honorer diberi pendampingan yang tepat, ekosistem yang mendukung, dan ruang untuk bertumbuh, mereka mampu menjadi wirausahawan tangguh tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik,”urainya.
Pihaknya meyakini, PROTEG bukan hanya program pemberdayaan ekonomi, tetapi juga investasi sosial jangka panjang.
Melalui program ini, Dindik Jatim menegaskan komitmennya dalam mendorong guru honorer tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi kreatif yang mampu berinovasi dan berkontribusi bagi penguatan kesejahteraan serta pembangunan daerah. [ina.gat]

