Kota Malang, Bhirawa
Dampak kerusakan infrastruktur akibat bencana banjir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memicu krisis air bersih yang serius. Menanggapi kondisi tersebut, tim akademisi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang bergerak cepat menerjunkan teknologi penjernih air portabel F-Wash untuk memperkuat ketahanan warga terdampak.
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Penjernih Air Portabel” ini menyasar titik-titik krusial di Kecamatan Palembayan dan Kecamatan Malalak. Tim tidak hanya mendistribusikan alat, tetapi juga melakukan revitalisasi sarana air bersih di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas).
Ketua Tim Pengabdian UB, Muhammad Fakhri Ph.D menjelaskan, sebanyak 10 unit alat penjernih air portabel F-Wash, 15 unit tandon air, dan 10 unit genset telah diserahkan dan dioperasikan. Teknologi ini dikembangkan oleh Prof Dr Eng Riyanto Haribowo dari Fakultas Teknik UB sebagai jawaban atas sulitnya akses air bersih di medan pascabencana.
“Kami membawa misi pengabdian yang berorientasi pada dampak nyata. Teknologi F-Wash dirancang praktis agar masyarakat bisa kembali mengakses air bersih dengan aman, sekaligus meningkatkan ketahanan komunitas dalam menghadapi potensi bencana di masa depan,” ujar Fakhri, dosen FPIK UB tersebut.
Sasar Fasilitas Publik
Distribusi alat dilakukan secara strategis. Di Kecamatan Palembayan, 9 unit F-Wash ditempatkan di lokasi vital seperti Kantor Wali Nagari Salareh Aia, Masjid Nurul Hikmah, Puskesmas Koto Alam, hingga SDN 05 Kayu Pasak. Sementara 1 unit lainnya ditempatkan di Puskesmas Malalak.
Tak sekadar memberi alat, tim ahli lintas disiplin UB yang berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga melakukan re-aktivasi sumur di Puskesmas Koto Alam dan revitalisasi tandon di Puskesmas Malalak.
Camat Palembayan, Sabirin S.AP, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah nyata kampus asal Jawa Timur ini. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga yang selama ini kesulitan air bersih untuk kebutuhan harian dan ibadah. “Saat ini masyarakat sudah bisa kembali mengakses air bersih dengan aman. Ini sangat membantu masa pemulihan kami,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Kepala Puskesmas Koto Alam. Ia menyebut re-aktivasi sumur sangat berdampak pada standar pelayanan medis. “Air bersih adalah jantungnya layanan kesehatan. Dengan berfungsinya kembali sumur dan adanya penjernih air, layanan medis kini lebih optimal dan higienis,” terangnya.
Program ini terlaksana berkat dukungan penuh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Pengabdian Masyarakat Tanggap Darurat Bencana 2025. Sinergi antara akademisi, relawan, dan pemerintah daerah ini menjadi bukti bahwa inovasi teknologi kampus mampu menjadi solusi tepat guna bagi permasalahan kemanusiaan di tanah air. [mut.wwn]

