Kota Malang, Bhirawa
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Prof. Yassierli, meminta perguruan tinggi untuk melakukan transformasi besar-besaran dalam mencetak lulusan. Hal ini menyusul terjadinya pergeseran signifikan di dunia kerja global yang kini lebih mengutamakan skill (keterampilan) spesifik dibandingkan sekadar ijazah formal.
Pernyataan tersebut ditegaskan Menaker saat menghadiri Sidang Terbuka Dies Natalis ke-53 Universitas Brawijaya (UB) di Gedung Samantha Krida, Senin (5/1) kemarin. Menurutnya, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah peta kebutuhan industri secara drastis.
“Dunia kerja saat ini mengalami pergeseran luar biasa. Saya yakin jajaran pimpinan Universitas Brawijaya memahami tantangan ini. Kampus harus mampu merespons kebutuhan tenaga kerja dengan skill AI, digital, dan teknologi baru lainnya,” ujar Prof. Yassierli.
Menaker menjelaskan bahwa penyerapan tenaga kerja di era Kabinet Merah Putih bukan lagi menjadi beban satu kementerian saja. Pihaknya kini mengedepankan sinergi lintas sektoral untuk memastikan lulusan perguruan tinggi terserap optimal. Ia mencontohkan kolaborasi dengan kementerian teknis seperti Kementerian Pertanian untuk sektor agraria.
Sebagai langkah konkret, pemerintah melalui Kemnaker telah menyiapkan program magang nasional bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi. Program ini merupakan inisiatif Presiden RI yang dirancang untuk membekali lulusan dengan pengalaman dunia kerja nyata selama enam bulan.
“Program magang ini memberikan exposure langsung. Antusiasmenya sangat luar biasa dan insya Allah akan terus berlanjut hingga tahun 2026 sebagai jembatan bagi lulusan baru menuju dunia profesional,” jelasnya.
Namun, Yassierli juga memberikan catatan kritis terkait tantangan skill mismatch. Berdasarkan data, sekitar 70 persen lulusan baru dinilai belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja, terutama di sektor digital. Padahal, diproyeksikan akan tercipta sekitar 170 juta pekerjaan baru secara global hingga tahun 2030.
“Permintaan talent digital terus tumbuh, tetapi suplai belum sepenuhnya siap. Muncul profesi baru seperti AI digital talent hingga social media developer yang lima tahun lalu belum dikenal. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” tegasnya.
Menaker mengingatkan bahwa tren kerja masa depan menuntut perubahan paradigma. Sistem rekrutmen saat ini semakin berbasis keterampilan, bukan semata latar belakang pendidikan formal. Selain itu, sistem kerja jarak jauh (remote working) dan fleksibilitas kerja akan menjadi standar baru.
“Rekrutmen ke depan berbasis skill, bukan sekadar asal sekolah. Ini tantangan besar yang harus segera dijawab oleh dunia kampus kita,” pungkasnya. [mut.gat]

