Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputra
Truk Tambang Overload Jadi Sorotan
Pemkab Nganjuk Bhirawa.
Menjelang arus mudik Lebaran 2026, jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) di Kabupaten Nganjuk mulai melakukan penanganan cepat terhadap sejumlah ruas jalan berlubang. Langkah itu dilakukan dengan memanfaatkan bantuan 250 drum aspal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dikirim bersamaan dengan kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Endar Pariwangsa ke Nganjuk. Senin (09/03/2026) kemarin.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari rencana total 610 drum aspal yang dialokasikan untuk membantu perbaikan jalan di wilayah Nganjuk, terutama pada titik-titik kerusakan yang dinilai membahayakan pengguna jalan menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran.
Petugas PUPR terlihat melakukan tambal sulam (patching) pada sejumlah ruas jalan kabupaten yang mengalami kerusakan. Upaya ini dilakukan agar kondisi jalan tetap aman dilalui pemudik maupun aktivitas masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Namun jika dihitung secara teknis, volume bantuan aspal tersebut relatif terbatas dibanding luas jaringan jalan yang harus ditangani.
Satu drum aspal rata-rata mampu menutup sekitar 8–12 meter persegi lubang jalan. Dengan asumsi rata-rata 10 meter persegi, maka 250 drum hanya mampu menutup sekitar 2.500 meter persegi kerusakan jalan. Jika dikonversi pada ruas jalan selebar empat meter, volume tersebut setara dengan tambalan sekitar 625 meter jalan.
Sementara itu, panjang jaringan jalan kabupaten di Kabupaten Nganjuk mencapai lebih dari seribu kilometer dengan sejumlah ruas masih mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Di lapangan, kerusakan jalan tidak hanya dipicu faktor usia konstruksi maupun cuaca. Lalu lintas kendaraan tambang bertonase besar juga kerap menjadi sorotan masyarakat.
Banyak kendaraan jenis dump truck yang secara standar memiliki kapasitas sekitar 8 ton, namun diduga mengangkut muatan hingga 10–12 ton. Kondisi ini dinilai berpotensi mempercepat kerusakan jalan, terutama pada ruas jalan kabupaten maupun jalan desa yang tidak dirancang menahan beban kendaraan berat.
Pemerintah daerah melalui forum lalu lintas sebelumnya juga telah mengeluarkan imbauan pembatasan kendaraan tambang agar tidak melintas di jalan desa.
Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputra, menyatakan pembatasan tersebut bertujuan melindungi infrastruktur jalan yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Di tengah upaya tambal jalan yang dikebut menjelang Lebaran, muncul pertanyaan yang juga disampaikan sejumlah warga: seberapa lama tambalan jalan dapat bertahan jika kendaraan bertonase besar masih melintas di jalur yang sama.
Bagi petugas PUPR di lapangan, tambal jalan menjelang musim mudik adalah pekerjaan rutin yang harus dilakukan setiap tahun. Namun tanpa pengendalian beban kendaraan di jalan, lubang yang hari ini ditutup bisa saja kembali muncul beberapa bulan kemudian.
Dalam wawancara usai sidang Paripurna, Senin (16/03/2026) Trihandy Cahyo Saputra, wakil Bupati mengatakan bahwa :
“Pemkab Nganjuk melalui Dinas PUPR telah melakukan pembangunan/perbaikan jalan sepanjang kurang lebih 134 km dengan rincian 84 km jalan kabupaten dan 49-50 km jalan desa. Meskipun progres telah berjalan, ia mengakui kondisi jalan mantap di Nganjuk saat ini masih berada di angka 73%, sehingga masih ada sekitar 26% yang memerlukan perhatian khusus.” terang Mas Wabup demikian Trihandy biasa disapa.
“Fokus utama ke depan adalah jalan poros kabupaten agar manfaatnya bisa segera dirasakan secara luas oleh masyarakat.” tambahnya. (end.hel)


