Surabaya, Bhirawa
Pemulihan pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar bantuan darurat, namun juga dibutuhkan pendekatan berbasis sains agar setiap langkah rehabilitasi dan rekonstruksi tepat sasaran dan berkelanjutan. Hal inilah yang menjadi fokus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Melalui konsorsium yang dibentuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), ITS dipercaya memegang peran strategis sebagai Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Geospasial. Peran ini menempatkan ITS di garda depan dalam penyediaan data ilmiah yang menjadi dasar perencanaan pemulihan wilayah terdampak bencana.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di Aceh dan sebagian wilayah Sumatera menimbulkan dampak sistemik, mulai dari kerusakan permukiman, infrastruktur, hingga terganggunya ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, proses pemulihan harus dilakukan secara terukur dan berbasis risiko.
“ITS berkontribusi melalui pemetaan geospasial resolusi tinggi untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, zonasi kerentanan, serta perubahan bentang alam pascabencana. Data spasial menjadi dasar penting agar perencanaan pemulihan bisa dilakukan secara tepat sasaran,” ujar Bambang.
Data dan analisis geospasial tersebut menjadi landasan dalam berbagai keputusan strategis, termasuk penentuan lokasi aman, prioritas pembangunan kembali, serta mitigasi risiko bencana lanjutan.
Selain itu, ITS juga berperan sebagai Subkoordinator Pokja Perumahan dan Permukiman dengan mengembangkan sistem penilaian hunian serta desain hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) berbasis risiko yang terintegrasi dengan data tata ruang.
Pendekatan berbasis sains ini melanjutkan keterlibatan langsung Satgas Kemanusiaan ITS yang sejak Desember 2025 telah terjun ke wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatera. Temuan lapangan tersebut kemudian dipadukan dengan analisis akademik untuk menghasilkan rekomendasi yang aplikatif.
Melalui konsorsium ini, ITS menargetkan sejumlah luaran konkret, di antaranya peta risiko terintegrasi, dashboard monitoring rehabilitasi dan rekonstruksi, rekomendasi teknis perumahan dan infrastruktur, serta policy brief bagi pemerintah pusat dan daerah. Seluruh output tersebut disusun berbasis sains guna memastikan anggaran pemulihan dimanfaatkan secara efektif dan berkelanjutan.
Selain itu, ITS juga memberikan kontribusinya di berbagai kelompok kerja lain, seperti kesehatan dan psikososial, pendidikan dan literasi kebencanaan, infrastruktur, pemulihan ekonomi dan sosial, manajemen risiko, serta tata ruang.
Komitmen ITS dalam penanganan kebencanaan bukanlah hal baru. Sejak tsunami Aceh 2004, gempa Lombok 2018, erupsi Semeru, hingga bencana hidrometeorologi terkini, ITS konsisten menghadirkan kontribusi keilmuan yang dipadukan dengan pendekatan sosial dan kemanusiaan.
Ke depan, ITS berharap konsorsium perguruan tinggi ini dapat menjadi platform kolaborasi jangka panjang dalam pengelolaan risiko bencana nasional, sehingga sains dan data tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun ketangguhan wilayah dan masyarakat Indonesia. [ina.kt]

