Surabaya, Bhirawa
Universitas Surabaya (Ubaya) kembali menujukan komitmennya dalam penguatan akademik dengan mengukuhkan Guru Besar dalam bidang Technology Adoption in Education pada Fakultas Teknik.
Pada orasi ilmiahnya bertajuk “Generative Artificial Intelligence dalam Pendidikan Tinggi: Peluang, Tantangan, dan Strategi Menuju Intelligent University”, dimana kehadiran generative AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan paradigma baru yang mentransformasi wajah pendidikan tinggi, Rabu (4/3).
Guru Besar Fakultas Teknik, Prof. Lisana, S.Kom., M.Inf.Tech., Ph.D., mengatakan Generative AI bukan hanya alat bantu, tetapi dapat menjadi mitra berpikir dalam proses pembelajaran. “Perkembangan teknologi seperti ChatGPT dan model AI multimodal, mendorong perubahan signifikan dalam sistem pembelajaran, jika sebelumnya pendidikan bergerak dari e-learning ke blended learning dan mobile learning, sekarang pendidikan memasuki fase pembelajaran adaptif berbasis kecerdasan buatan,” ujarnya.
Lanjut Prof. Lisana mengukapkan bahwa sekitar 80 persen mahasiswa secara global memanfaatkan generative AI untuk mendukung aktivitas akademik, mulai dari merangkum literatur hingga mengembangkan ide penelitian.
“Fenomena tersebut menunjukkan bahwa transformasi terjadi secara bottom-up, dipicu oleh mahasiswa sebagai pengguna utama teknologi, mahasiswa generasi Z menginginkan pembelajaran yang fleksibel, personal, dan instan, Generative AI jadi jawaban kebutuhan,” tuturnya.
Prof. Lisana mengingatkan tantangan serius yang harus diantisipasi, terutama terkait integritas akademik. “Pada Isu plagiarisme, penyalahgunaan AI dalam pengerjaan tugas, hingga fenomena AI hallucination yang menghasilkan informasi tidak akurat menjadi perhatian utama, tanpa literasi AI yang memadai, mahasiswa berisiko menerima informasi keliru dan kehilangan kemampuan berpikir kritis, sebab itu, literasi AI dan etika digital harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi,” ucap Prof. Lisana.
Prof. Lisana menyampaikan sejumlah rekomendasi implementasi AI pada perguruan tinggi, seperti penyusunan kebijakan dan tata kelola AI, pelatihan bagi dosen dan mahasiswa, penguatan infrastruktur digital, serta kolaborasi dengan industri dan pemerintah.
“Dengan konsep intelligent university, yaitu institusi mengintegrasikan AI dalam pembelajaran, penelitian, hingga manajemen akademik berbasis learning analytics,” imbuhnya
Menurutnya beliau, pendidikan tinggi masa depan harus mampu menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, mendukung proses reskilling dan upskilling di tengah disrupsi teknologi global. [ren.wwn]


