Jakarta, Bhirawa
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.968 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.997 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan rupiah bergerak dinamis seiring sikap pelaku pasar wait and see menjelang keputusan kebijakan moneter global.
“Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak dinamis dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas, seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter global,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pergerakan rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp16.900-Rp17.020 per dolar AS, dengan faktor eksternal yang menjadi penggerak utama.
Penguatan pada awal sesi menunjukkan adanya arus masuk jangka pendek, kendati potensi apresiasi lanjutan masih relatif terbatas.
Fokus pelaku pasar disebut tertuju pada arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). “Apabila The Fed kembali menegaskan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, maka dolar AS berpeluang melanjutkan penguatannya dan memberi tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah,” ujar dia.
Di sisi lain, lanjutnya, kenaikan imbal hasil obligasi global turut meningkatkan daya tarik aset dolar dan berpotensi mendorong arus keluar modal.
Melihat dari perspektif global, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah tetap dinilai menjadi sentimen utama, terutama karena mendorong kenaikan harga energi.
Sementara itu, dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, ditopang inflasi yang terkendali serta stabilitas sistem keuangan yang terjaga. Upaya stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia juga berperan penting dalam menahan volatilitas rupiah.
“Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini mencerminkan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5 persen pada periode 2026-2027, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” ujar Amru. [ant.kt]


