25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Gairahkan Bursa Lesu

Cuaca ekstrem yang melanda udara, lautan, dan daratan di Indonesia, juga dialami bursa saham. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) rontok. Nilainya terus merosot di bawah 8%. Menyebabkan otoritas BEI menyatakan trading halt (berhenti dgang saham, sementara). Bahkan IHSG sempat anlok sampai 16,7% selama dua hari (Rabu dan Kamis, pekan akhir Januari 2026). Penyebabnya sudah diketahui. Yakni MSCI membekukan saham-saham Indonesia dari portofolio miliknya.

Bahkan penurunan sebesar 15% selama 4 hari selama pekan akhir Januari, membawa konsekuenasi struktural. Menyebabkan Ketua Komisioner OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan empat pejabat OJK lainnya. Mundur bareng dinyatakan Wakil Ketua OJK, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten. Juga terdapat Dirut BEI (Bursa Efek Indonesia), yang menyatakan mundur sebagai tanggungjawab moral. Namun secara cepat pula pemerintah menggantikan dengan status Penjabat (Pj).

Anjloknya bursa saham, tidak langsung mempengaruhi perekonomian masyarakat. Tetapi lebih sebagai simbol warning (peringatan dini). Berawal dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang membekukan saham-saham Indonesia dari portofolio miliknya. MSCI merupakan industri manajemen aset (dengan membuat indeks dan pemeringkat), meliputi saham senilai US$ 139 trilyun. Sehingga keputusannya sangat berpengaruh terhadap negara-negara di seluruh dunia.

MSCI menyorot transparansi dan akurasi data free float (jumlah saham yang tersedia untuk publik) di bursa Indonesia. Kekhawatiran transparansi bisa berpotensi penurunan status Indonesia. Berujung aksi jual makin masif. Diduga telah terjadi capital outflow (aliran modal keluar) sebesar lebih dari US$ 2 milyar (setara Rp 33,5 trilyun). Jika di-investasikan untuk program pada karya bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 65 ribu pekerja.

Berita Terkait :  Tegakkan Aturan Lalu Lintas di Perlintasan Sebidang, Satlantas Polresta Madiun Beri Tilang Teguran bagi Pelanggar

Karena IHSG jeblok secara signifikan, maka peringkat Indonesia dalam bursa, turun level, menjadi Frontier market. Yakni pasar investasi negara berkembang yang masih berada pada tahap awal memulai. Kriteria Frontier market, adalah pasar yang relatif kecil, likuiditas terbatas. Sehingga transaksi tidak selalu mudah. Juga terdapat indikasi regulasi belum kuat, dan risiko tinggi. Karena rawan ke-tidak stabil-an politik, ekonomi dan fluktuasi mata uang. Kriteria (Frontier market) terasa sesuai untuk Indonesia.

Padahal selama ini Indonesia sudah berada pada level Emerging market (pasar investasi kelas menuju negara lebih maju). Fakta di BEI, perdagangan dihentikan beberapa dalam kurun 30-an menit. Bahkan sampai beberapa hari dalam sepekan. Kemerosotan ekonomi juga ditunjukkan dengan tren semakin merosotnya nilai rupiah, saat ini Rp 16.745,- per-US$.

Bulan Januari, seharusnya menjadi titik pijak pergerakan ekonomi bisa meningkat. Tetapi seiring cuaca ekstrem menyebabkan dampak bencana ekologi, banjir dan longsor. Menjadi kendala distribusi seluruh moda transportasi. Secara umum masyarakat masih dalam kekhawatiran resesi ekonomi global. “Alarm” kemerosotan ekonomi setidaknya tergambar dengan penutupan perdagangan (trading halt) saham BEI.

Pemerintah (dan daerah) seyogianya telah memiliki peta jalan mencegah “trading halt”pada pasar riil, dan pasar ritel. Terutama segera menggencarkan realisasi belanja dari APBN, dan APBD (propinsi serta kabupaten, dan kota). Karena sebulan ke depan sudah memasuki bulan Ramadhan, sebagai periode puncak belanja rumah tangga. Tetapi perlu di-awali dengan program karitatif, terutama pemberian pupuk, dan benih pengganti kepada petani. Serta menggelontor BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai), dan Bansos beras untuk nelayan.

Berita Terkait :  Fenomena #KaburAjaDulu, Pemerintah Diminta Perhatikan Aspirasi Generasi Muda

Berbagai fasilitasi pemerintah sangat diharapkan pada periode perekonomian gonjang-ganjing pada tataran global yang tidak menentu. Program hilirisasi sektor pertanian (serta Kelautan dan Perikanan) bisa menjadi andalan mencegah resesi global. Sekaligus me-masif-kan padat karya.

——— 000 ———

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru