Pemkot Probolinggo, Bhirawa
Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) mulai diterapkan sebagai strategi pengendalian konsumsi energi di daerah, seiring rencana penerapan skema kerja fleksibel dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pemerintah Kota Probolinggo tengah melakukan penyesuaian dengan menjadikan WFH sebagai bagian dari langkah efisiensi bahan bakar minyak (BBM), meskipun pasokan di daerah tersebut masih terpantau aman.
Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, yang ditemui usai agenda Halal Bihalal di lingkungan Pemkot pada Rabu (25/3) bersama Wakil Wali Kota Ina Buchori, mengatakan skema WFH dinilai efektif menekan mobilitas harian ASN sehingga berdampak langsung pada pengurangan konsumsi BBM.
“Stok BBM sampai saat ini masih aman dan permintaan juga stabil. Namun kita memang sedang dalam fase efisiensi. Salah satunya melalui WFH untuk menghemat waktu dan penggunaan bahan bakar,” ujarnya.
Menurut Aminuddin, kebijakan ini sejalan dengan arahan pemerintah provinsi yang akan menerapkan WFH terjadwal bagi ASN setiap hari Rabu mulai awal April 2026. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya penghematan energi yang diinstruksikan pemerintah pusat.
Meskipun demikian, dia menegaskan penerapan WFH tidak boleh menurunkan kualitas pelayanan publik. ASN tetap dituntut menjaga produktivitas dan disiplin kerja.
“WFH ini bukan pelonggaran, tapi pola kerja fleksibel. Pelayanan publik tidak boleh terganggu, justru harus tetap optimal,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Probolinggo tengah menyusun Surat Edaran (SE) yang mengatur pola kerja sekaligus mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan. ASN diimbau beralih ke kendaraan listrik atau moda non-BBM lainnya, bahkan untuk pegawai dengan jarak tempuh dekat, penggunaan sepeda menjadi alternatif yang didorong.
“Edaran sedang kami siapkan. Intinya mendorong efisiensi, termasuk penggunaan kendaraan non-BBM,” tambahnya.
Di sisi lain, Pemkot memastikan konsumsi BBM di Kota Probolinggo masih dalam batas normal. Bahkan pada momentum Lebaran, penggunaan tercatat sekitar 19 hingga 20 kiloliter per hari dan tetap terkendali. [irf.kt]


