28 C
Sidoarjo
Sunday, April 5, 2026
spot_img

Wali Kota Adi Ajak Warga Nguri-Nguri Budaya di Pasoeroean Tempo Doeloe


Pasuruan, Bhirawa
Aroma nostalgia menyeruak di kawasan Stadion Untung Suropati, Sabtu (4/4) sore. Ribuan warga tumpah ruah, menyaksikan parade warna-warni yang membangkitkan memori kolektif tentang kejayaan masa lalu Kota Pasuruan.

Kirab ‘Pasoeroean Tempo Doeloe’ bukan sekadar pawai biasa, melainkan panggung besar untuk menunjukkan bahwa jati diri lokal adalah modal utama membangun masa depan. Wali Kota Pasuruan, H. Adi Wibowo yang akrab disapa Mas Adi tampil membaur bersama Wakil Wali Kota dan Ketua DPRD di tengah kerumunan peserta.

Mengenakan busana khas yang sarat filosofi, para pemimpin kota tersebut memimpin rombongan yang berjalan beriringan menuju GOR Untung Suropati. Sepanjang rute, decak kagum warga tak henti-hentinya mengalir melihat keberagaman pakaian adat dan kreasi budaya yang ditampilkan.

Dalam sambutannya yang penuh semangat, Mas Adi menegaskan kegiatan ini adalah bentuk nyata dari komitmen pemerintah dalam menjaga warisan leluhur. Istilah nguri-nguri budaya menjadi ruh dalam pelaksanaan kirab tahun ini.

“Atas nama Pemerintah Kota Pasuruan, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Ini menjadi bagian ikhtiar kita semua untuk nguri-nguri budaya. Budaya adalah landasan penting untuk melangkah ke masa depan,” ujar Mas Adi di hadapan para peserta.

Bagi Mas Adi, menengok masa lalu melalui kegiatan budaya bukanlah sebuah kemunduran. Sebaliknya, hal itu adalah cara untuk mengambil nilai-nilai luhur guna menyambut tantangan zaman yang kian dinamis.

Berita Terkait :  Penutupan Perkemahan Pramuka Berkebutuhan Khusus, Pemkab Berkomitmen Perhatikan Kebutuhan Semua Lapisan

Lebih dari sekadar tontonan, kirab itu menjadi simbol keharmonisan antarpihak di Kota Pasuruan. Kehadiran jajaran eksekutif dan legislatif yang berjalan beriringan menjadi pesan kuat tentang soliditas kepemimpinan kota.

Pelestarian Budaya. Caranya adalah menjaga identitas lokal agar tidak tergerus arus modernisasi. Lalu, Harmonisasi Sosial, yaitu mewujudkan suasana guyub rukun antar seluruh lapisan masyarakat. Hingga, visi masa depan dengab acara menjadikan nilai budaya sebagai kompas dalam pembangunan kota yang maju.

“Harapannya, kegiatan ini menunjukkan kolaborasi semua pihak untuk bisa guyub rukun mewujudkan kota yang kita cita-citakan bersama,” jelas Mas Adi.

Salah satu aspek yang paling disoroti dalam gelaran Pasoeroean Tempo Doeloe kali ini adalah dampaknya terhadap sektor ekonomi.

Pemkot Pasuruan menyadari betul bahwa budaya dan ekonomi kreatif adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Penyelenggaraan acara berskala besar seperti ini terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi bawah. Mulai dari perajin busana, pelaku seni, hingga pedagang kuliner skala kecil mendapatkan panggung untuk menjajakan kreativitas mereka.

“Kegiatan ini menjadi bagian penting bagaimana ekonomi kreatif tumbuh. Yang kita dorong adalah pengembangan kreativitas, sehingga ekonomi tetap bergerak dan budaya tetap berjalan dengan baik,” papar Mas Adi.

Menutup rangkaian acara, Mas Adi mengajak seluruh elemen warga untuk tetap bergandengan tangan. Baginya, Kota Pasuruan yang maju hanya bisa diraih jika masyarakatnya bangga akan sejarahnya namun tetap haus akan inovasi. “Dan mita bicara masa lalu, tapi untuk menyambut masa depan yang lebih baik,” kata Mas Adi, sembari disambut tepuk tangan riuh dari warga yang hadir.

Berita Terkait :  Bupati Lamongan Dampingi Wagub Jatim Tinjau Kondisi Jalan dan Banjir di Karanggeneng

Tentu saja, antusiasme Pasoeroean Tempo Doeloe pun dirasakan langsung oleh masyarakat. Setyowati, seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Purworejo yang memboyong anak-anaknya mengaku terkesan dengan edukasi budaya yang tersaji di sepanjang jalan.

“Senang sekali ada acara seperti ini lagi. Anak-anak jadi tahu kalau Pasuruan punya pakaian khas yang bagus. Tidak hanya sekadar nonton pawai, tapi jadi belajar sejarah lewat baju-baju yang dipakai peserta,” ungkap perempuan 42 tahun tersebut.

Senada dengan Setyowati, Rahmat Hidayat, salah seorang pelaku UMKM kerajinan yang ikut memeriahkan acara, merasakan dampak ekonomi secara instan. Menurutnya, gelaran budaya seperti ini adalah napas bagi para pengrajin lokal.

“Pesanan baju adat dan aksesori melonjak sejak sebulan lalu. Kalau sering diadakan acara begini, ekonomi kreatif di Pasuruan pasti cepat naiknya. Kami merasa diberikan panggung untuk menunjukkan karya,” ungkap kata Rahmat Hidayat sembari menata dagangannya. [hil.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!