Bondowoso, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat pembangunan ulang Jembatan Sentong Sukowiryo di Bondowoso setelah infrastruktur tersebut ambruk dan tidak dapat difungsikan.
Percepatan dilakukan untuk segera memulihkan akses masyarakat pada jalur strategis yang menghubungkan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, meninjau langsung lokasi guna memastikan kesiapan teknis serta percepatan pelaksanaan proyek. Dalam kunjungannya, ia juga berdialog dengan warga terdampak dan menegaskan bahwa jembatan tersebut merupakan ruas jalan provinsi yang menjadi kewenangan Pemprov Jatim.
Ia menjelaskan, rencana pembangunan ulang sebenarnya telah disiapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum, mulai dari tahap perencanaan, penganggaran hingga proses lelang. Namun, kondisi jembatan yang kini ditutup total membuat pelaksanaan proyek harus dimajukan dari jadwal semula.
“Desain baru akan menggunakan balok girder dengan konstruksi yang lebih kokoh dan tahan lama,” ujarnya saat dikonfirmasi awak media, Rabu (25/2).
Selain penguatan struktur, pemerintah juga akan melakukan pelebaran jembatan dari 9 meter menjadi 14 meter guna meningkatkan kapasitas jalan dan mengantisipasi pertumbuhan kendaraan.
Emil menyebut, usia jembatan yang diperkirakan lebih dari satu abad menjadi alasan utama perlunya pembangunan ulang secara menyeluruh.
“Secara teknis dan anggaran sudah siap, tinggal penandatanganan kontrak. Karena sekarang ditutup total, kami upayakan mulai lebih awal, insyaallah bisa dimulai bulan Ramadan,” katanya.
Awalnya, proyek direncanakan mulai April dengan asumsi jembatan masih dapat dilalui. Namun setelah ambruk, percepatan dilakukan untuk meminimalkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Proses pembangunan diperkirakan memakan waktu sekitar delapan bulan.
Meski dikebut, Emil menegaskan kualitas tetap menjadi prioritas utama.
“Kami ingin cepat, tapi tidak boleh mengorbankan kualitas. Ini menyangkut keselamatan masyarakat dalam jangka panjang,” tegasnya.
Saat ini, jembatan tidak dapat dilalui sama sekali, termasuk oleh pejalan kaki. Dengan bentang mencapai 50 meter, pembangunan jembatan darurat dinilai berisiko tinggi, terlebih karena akan dilakukan penggalian selama proses konstruksi.
Pembangunan ulang jembatan ini menelan anggaran sebesar Rp17,5 miliar. Pemerintah berharap hasil pembangunan nantinya mampu menghadirkan infrastruktur yang lebih kokoh, aman, dan bertahan dalam jangka panjang.
Untuk sementara, masyarakat diarahkan menggunakan jalur alternatif melalui jalan kabupaten. Meski masih terdapat sejumlah kerusakan, pemerintah daerah telah berkomitmen melakukan perbaikan dengan dukungan Pemprov Jatim melalui bantuan material aspal.
“Yang penting jangan berlubang dulu supaya aman dilalui,” ujarnya.
Terkait dampak ekonomi akibat penutupan jembatan, Emil meminta masyarakat bersabar. Ia mengakui adanya kesulitan yang dirasakan warga dan pelaku usaha, namun pemerintah masih mengkaji skema bantuan yang tepat.
“Kami tidak ingin memberi janji kosong. Akan kami analisa dulu kemungkinan tali asih atau skema bantuan yang bisa meringankan beban warga. Setelah koordinasi dengan Ibu Gubernur dan Pak Bupati, akan kami sampaikan resmi,” pungkasnya.
Dengan percepatan ini, Pemprov Jatim menargetkan pembangunan dapat segera dimulai pada bulan Ramadhan, sehingga akses utama masyarakat dapat kembali pulih dengan infrastruktur yang lebih kuat dan representatif. [san.kt]


