28 C
Sidoarjo
Tuesday, July 23, 2024
spot_img

UB Tambah Dua Profesor Bidang Kelautan dan Perikanan


Kota Malang, Bhirawa
Dua profesor dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) yaitu Prof Dr Ir Edi Susilo MS dan Prof Dr Ir Dewa Gede Raka Wiadnya MSc, dikukuhkan. Kedua guru besar dari FPIK ini menyampaikan pokok – pokok pikirannya dalam jumpa pers di lobi Rektrat UB, Senin (8/7) kemarin

Prof Edi Susilo yang dikukuhkan dalam bidang Ilmu Sosiologi Perikanan menyebutkan, dari data BRIN ada 14 juta nelayan miskin di Indonesia, yang nota bene adalah negeri maritim yang kaya.

Menurut Prof Edi Susilo, pasti ada suatu kesalahan selama ini, pembangunan di bidang perikanan tidak terintegrasika. Maka dengan mengamati terkadang ada kebijakan pemerintah yang tidak dibutuhkan nelayan, namun sebaliknya kebutuhan nelayan kadang banyak yang tak tersampaikan ke pejabat berwenang.

Sehingga, sambung Prof Edi Susilo, harus disambungkan, struktur Sosial Progresif-Integratif (S2PI), yang merupakan sebuah konsep untuk mengurangi kemiskinan nelayan di Indonesia.

“Struktur sosial tidak hanya mampu digunakan untuk menganalis kondisi dan perkembangan masyarakat lokal, namun dapat ditarik ke dalam analisis yang lebih makro,” tandasnya.

Prof Edi Susilo menjelaskan, struktur sosial progresif-integratif memberi arti bahwa masyarakat selalu mengalami perkembangan. Selama ini teknologi memang lebih dominan, yang membuat segi sosial menjadi terlupakan. Jika analoginya kendaraan, maka ekonomi adalah gas, sementara sosiologi adalah remnyai.

Profesor aktif ke 23 FPIK ini menambahkan, konstruksi struktur sosial yang dibangun memiliki keterkaitan antara ekologi, ekonomi dan dan sosial sebagai landasan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya. Prof Edi Susilo merupakan profesor ke 385 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya ini.

Berita Terkait :  Beberapa SDN di Kota Malang Kekurangan Siswa

Sementara itu, Prof Gede Raka, sebagai guru besar di bidang Eksplorasi Sumber Daya Ikan menyampaikan konsep deskripsi spesies ikan melalui pendekatan morfologi, osteo-staining, otolith, yang dikombinasi dengan DNA barcoding menjadi alat yang komprehensif dan meyakinkan dalam proses identifikasi spesies ikan.

Menurut Prof Gede Raka, orang lebih mengenal bulan daripada isi laut Indonesia. Sementara ikan ialah kelompok vertebrata dengan jumlah spesies terbanyak, dan Indonesia merupakan salah satu negara dengan spesies ikan terbanyak, jadi teknik ini bisa dijadikan standar dalam validasi spesies.

Profesor aktif ke 22 FPIK ini lantas menyampaikan, jika Brawijaya Iehthyologicum Depository (BID), yang ia anggap menjadi rumah yang tepat sebagai laman deposit maupun kurasi spesimen ikan, mengingat keraguan maupun kesalahan identifikasi terhadap spesics ikan telah beberapa kali dilaporkan oleh ahli taksonomi dan eksplorasi sumber daya ikan.

“Deposit spesimen morfologi, osteo-staining, otolih, dan DNA yang bisa diakses secara cepat akan sangat membantu peneliti lain dalam melakukan validasi spesics yang sudah diidentifikasi maupun menjadi rujukan komparatif terhadap spcsics yang akan diteliti,” ujarnya.

Prof Gede Raka menandaskan, identifikasi ini penting, meski diakui dia itu tidak mudah. Menurutnya, pihaknya benar – benar menyesal karena ternyata ada satu ikan pari jawa yang hilang. Maka ikan – ikan itu harus didokumentasikan bersama agar tidak punah.

Berita Terkait :  Kepala Cabang Dinas Kehutanan Jatim Wilayah Bojonegoro Jadi Dosen Praktisi di Unigoro

Prof Raka Gede menegaskan, jika BID menyajikan teknologi kurasi spesimen ikan di Indonesia. Deskripsi spesies dilakukan melalui teknologi DNA barcoding, osteo-staining, otolith, dan morfologi eksternal. Kombinasi teknologi ini menjadi keunggulan utama dalam deskripsi spesies. Setiap spesimen dikurasi dan diunggah pada laman BID dengan kode aksesi yang unik untuk memudahkan penelusuran bagi peneliti selanjutnya.

“Kami baru menyimpan sekitar seribu spesimen, bukan bukan seribu spesies, jadi masih jauh dari 5 ribu spesies yang ada di kita,” tukasnya.

Identifikasi atau penentuan spesies ini penting karena kandungan keseimbangan omega masing-masing spesies tentu akan berbeda pula. Meski demikian Prof Gede Raka mengaku masih ada kelemahan BID jika dibandingkan dengan Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), yakni pada statusnya sebagai laman kurasi yang belum resmi.

Pada sisi lain, MZB merupakan rujukan kurasi ketika spesies pertama kali dijelaskan, atau kurasi holotipe spesimen. Sementara BID lebih dikenal karena menyimpan topotipe spesimen utamanya spesimen setelah kategori holotipe.

“BID telah mengunggah 425 spesimen mortfologis ke laman basis data ikan global dan 718 seguence DNA ke laman GenBank. Suatu laman BID sedang dipersiapkan untuk mengunggah spesimen ikan yang sudah teridentifikasi. Selain MZB, BID diharapkan menjadi laman pendamping dan rujukan pembanding bagi peneliti bidang eksplorasi sumber daya ikan,”pungkasnya. [mut.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru