Kota Malang, Bhirawa
Menandai usia satu abad Stadion Gajayana Malang, Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Jawa Timur bersinergi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim dan Pemkot Malang menggelar ajang bergengsi Trofeo Tribute To 100 Tahun Stadion Gajayana. Perhelatan ini menjadi momentum kebangkitan sejarah stadion tertua di Indonesia sekaligus kampanye perdamaian melalui olahraga.
Stadion yang dahulu bernama Malang Sport Park ini mulai dibangun pada 1920 dan diresmikan pada 2 Agustus 1926. Di usia emasnya yang ke-100, stadion ini kembali menjadi saksi bisu berkumpulnya 100 legenda sepak bola tanah air dalam rangkaian acara yang berlangsung sejak Jumat (16/1) hingga Minggu (18/1).
Kepala Bakorwil III Jawa Timur, Asep Kusdinar menjelaskan, gelaran ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem inovasi olahraga di Jawa Timur. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar instansi untuk menjaga marwah olahraga di daerah.
“Perhelatan ini sepenuhnya ditujukan untuk membangun ekosistem inovasi olahraga sepak bola di Indonesia, khususnya di Jatim. Ini juga menjadi rangkaian menuju Charity Game yang akan diselenggarakan Mei 2026 mendatang di Surabaya bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional,” ujar Asep Kusdinar.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Malang Legends, Prof. Muhammad Bisri, menegaskan bahwa Stadion Gajayana bukan sekadar infrastruktur, melainkan heritage yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi Indonesia. Ia pun menitipkan pesan khusus kepada Pemerintah Kota Malang dan legislatif terkait pelestarian aset ini.
“Saya menyarankan kepada Pemkot Malang agar perawatannya benar-benar diperhatikan. Anggarannya harus cukup dan fokus, baik dari DPRD maupun Pemerintah Kota, agar stadion ini benar-benar menjadi heritage dan sejarah bagi kita semua,” tegas mantan Rektor UB tersebut.
Menurut Prof. Bisri, melalui ajang Trofeo yang mempertemukan Persema Malang Legend, Persib Bandung Legend, dan SDF Indonesia Batavia Jakarta Legends ini, diharapkan semangat fair play dan persaudaraan antar pelaku sepak bola tetap terjaga.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, M. Tajudin, menambahkan bahwa misi utama kegiatan ini adalah menyebarkan semangat “Sepak Bola Senang” (Sehat dan Menyenangkan). Selain Trofeo All Star, panitia juga menggelar Turnamen Tendangan Penalti Piala Gubernur Jawa Timur.
“Kami ingin masyarakat tahu, meski usia stadion sudah satu abad dan para pemain sudah senior, semangat bermain bola harus tetap menyala. Ini adalah wadah silaturahmi sekaligus upaya menggairahkan kembali sepak bola di Kota Malang,” pungkas Tajudin. [mut.wwn]

